Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Memanfaatkan Intelijen Terus, Jokowi Curang?

24 Mei 2019   11:28 Diperbarui: 24 Mei 2019   11:45 0 26 8 Mohon Tunggu...

Jokowi Curang Nih, Memanfaatkan Intelijen Terus

Eit jangan cepet-cepet ngerespons judul, saya pernah dikomentar pedas seorang profesor gara-gara judul. Juga jangan hanya karena judul ada yang jadikan ini alat bukti di MK kan berabe. Sebenarnya lucu mau mengakui model tulisan di awal paragraf, tapi demi penikmat yang belum tentu seide dan segagasan, bisa jadi liar tidak karuan.

Baca baik-baik jadi nanti akan paham, tidak sesederhana judul. Jadi sangat mungkin ada dua kemungkinan yang bisa membahayakan pemahaman bersama. Tapi ya sudah itu kan gaya menulis, bukan esensi tulisan.

Intelijen kan memang alat negara, dan Jokowi adalah presiden yang sedang mengemban amanat pemilu 2014, jadi ingat tidak ada yang salah  ya. Ingat ini demi keamanan dan stabilitas negara. 

Memang sangat mungkin ada tudingan menggunakan kekuasaan untuk mempertahankan jabatan, yo sah-sah saja asal memang memberikan dasar argumen yang kuat, bukan asal bicara. Apalagi politik ala codot yang ngotot mengandalakn otot itu.

Kerja intelijen sangat masif dalam menyongsong gelaran "pesta" demo 22-23 Mei 2019. Ini bukan kerja sederhana, dan egosektoral yang ada. Berkat di antara duka memang patut disyukuri, bahwa biasanya lembaga negara biasa bekerja sendiri-sendiri kini bekerja masif dalam kebersamaan dan bingkai NKRI.

Perginya beberapa tokoh vokal dan garang dengan jaringannya sangat membantu untuk gembosnya perilaku ugal-ugalan dalam melikuidasi Jokowi. Kekuatan mereka tidak bisa dianggap enteng. 

Kepergian, biar halus, bukan kaburnya tiga tokoh itu cukup memberikan angin segar bagi penggemar NKRI. Gerakan dan bakaran mereka sangat kuat membuat orang terpana dan mengikuti, kadang sesat sekalipun.

Dicokoknya Eggy jelas memangkas lagi satu tentakel gurita aksi gerudugan khas mereka. Pembuian di dalam penjara membuat serba susah. Elit-elit yang biasanya tenar di media, bukan pelaku lapangan. Yang memiliki jaringan lapangan adalah bagian orang-orang ini. Kunci strategis yang sudah dimainkan.

Kivlan yang mendadak gagu dan gagap juga terkena pangkas lagi satu tentakel yang cukup signifikan. Ia banyak ditengarai sering ada di balik pengerahan massa. Usai rekan-rekan seperjalanan masuk bui, diperiksa sekian jam ia memilih untuk berbalik haluan. 

Soal benar atau tidak demikian, masih perlu waktu. Yang jelas namanya pasti ada dalam urutan utama dijemput polisi untuk mendinginkan suasana jika ada apa-apa.

Pemanggilan dan penangkapan Permadi dan Lueis Sungkharisma menjadi bumbu penyedap dan menepis tudingan soal kriminalisasi ulama. Kan keduanya bukan ulama, atau paling tidak jika diulama-ulamakan sangat kecil ada yang percaya. 

Ini bukan level kaki gurita, hanya sedikit tinta saja. Dan terbukti Permadi jadi jinak banget. Beda dengan video yang ada. Entah kalau kembarannya yang dikirim ke kantor polisi.

Pengumuman dini hari dan KPU kerja cepat sehari sangat signifikan. Massa belum sempat berkumpul, efek kejut yang lumayan kuat. Seperti kena ubur-ubur, mati sih tidak, hanya terkejut cukup lama. Langsung lahir narasi penggunaan ayat suci, di mana pengumuman malam. Lagi-lagi narasi  gagal.

Penangkapan penyelundupan senjata jelas sangat signifikan, ini belum jantung sih, masih sebatas mematahkan kaki terakhir. Pertahanan dan membela bak babi buta seperti biasanya sepi-sepi saja.  

Ini seperti menjadi puncak atas pengadangan massa dari daerah-daerah. Gembos jauh sebelum menggelembung. Pilihan dan tindakan cerdik dan matang.

Sebelum itu, potensi kerusuhan penyusup dengan penangkapan bomber dan teroris juga memegang peran penting. Bagaimana hancur leburnya bangsa ini ada satu saja bom meledak, habis semua upaya baik yang dilakukan. Malah berbalik mereka memuja pembom sebagai pahlawan.

Belum lagi usai diobok-oboknya parpol dengan berbagai-bagai manufer. Jangan dianggap itu sederhana, itu permainan politik tingkat tinggi. Dan para politikus banyak omong itu abai akan kinerja politik senyap yang sangat efektif.

Pas aksi ada sedikit lepas kendali, toh masih bisa ditangani dengan baik dan relatif baik-baik saja. Memang ada korban dan itu sejatinya karena tidak mau mendengar apa yang disampaikan pihak keamanan. Sangat mungkin ada penyusup di sana-sini. Toh kinerja intelijen sudah banyak mengurangi risiko yang lebih buruk.

Isu polisi sipit, polisi impor, polisi menembaki masjid, polisi brutal, itu hanya upaya tambahan di tengah usaha keras dan lebih besar telah layu sebelum berkembang. Semua bisa dimentahkan dengan bukti-bukti konkret dan nyata. Bagaimana kinerja polisi masih dalam tataran terukur dan membenturrkan negara dan agama hanya omong kosong.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2