Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Revisi Visi-Misi, Kebohongan, Bukti Tidak Siap Memimpin ala Koalisi Ini

12 Januari 2019   12:00 Diperbarui: 12 Januari 2019   12:15 774 24 15

Entah apa yang menjadi pertimbangan, tiba-tiba visi dan misi pasangan peserta pilpres ini diubah. Kata kubu rival 90% isi ganti dan cenderung menjiplak. Dari kubu koalisi biasa mengatakan harusnya penyelenggara memberikan kesempatan improvisasi, rekan koalisi lain mengatakan, lha kubu sebelah juga mengubah photo, ada pula yang mengatakan itu pengembangan atas aspirasi selama sekitar empat bulan kampanye.

Keren ya, apa yang dinyatakan, namun apa iya demikian? Perlu dilihat lebih jauh lagi dengan beberapa hal indikasi yang selama ini sudah dilakukan. Sekilas memang wajar, apalagi jika dibumbui karena aspirasi segala. Cukup menarik.

Apa iya aspirasi itu mengubah total isi visi dan misi? Jika benar demikian, kinerja apa selama ini, sehingga apa yang mereka tawarkan sebelum revisi jauh dari kepentingan rakyat. Kembali sikap ugal-ugalan, grusa-grusu lebih kuat jika demikian yang terjadi.

Menambah dari apa yang rakyat perlukan sebagai aspirasi sebagaimana klaimnya, akan menjadi tambahan, bukan mengubah apa yang sudah ada tentunya. Menjadi sebuah sub bab tambahan kontekstual, jika serius di dalam menyusun visi dan misi tidak akan sampai mengubah isi dan substansi program kerja.

Lebih lucu lagi, jika itu adalah "jawaban" atas pilihan rival yang mengubah photo. Apa sebanding antara photo dan program kerja? Photo itu hanya sebentuk simbol atas pribadi seseorang, yang tidak mendasar, jikapun tidak ada photo atau hanya nama di sana. Berbeda dengan program kerja, itu adalah isi, apa yang terkandung dalam pemikiran, gagasan, dan kepemimpinan seperti apa untuk lima tahun ke depan.

Program kerja jelas tidak sebanding dengan photo, berbeda jika mengatakan kami mau menambahkan gelar yang baru diperoleh, itu bisa, levelnya sama, kadar kepentingannya setara. Program kerja kog dibandingkan dengan photo. Memperlihatkan asal-asalan, asal menjawab demi ngeles. 

Pembelaan yang sama, setipe asal-asalan, dan tidak menjawab sebenarnya harus dibukan ruang improvisasi. Lha ini negara apa lenong, sitkom, atau dagelan mataram yang leluasa memberikan improvisasi sebagai kekuatan di dalam menghibur penonton. Ini negara. Improvisi itu di dalam proses, bukan programnya. Susah kalau pemimpin seenak udelnya membuat perubahan mengatasnamakan improvisasi.

Improvisasi itu ajang kreatifitas di dalam menemukan solusi, jalan keluar, atau kinerja, bukan pada tujuan sebagaimana program kerja. Improvisasi itu pada pelaksanaan bukan pada rencana kerja. Bagaimana pertanggungjawabannya jika rencana dan rancangan sudah berbicara improvisasi?

Beberapa hal yang dinyatakan sebagai respons atas produk ugal-ugalan sebenarnya hanya memperlihatkan komunikasi yang buruk di antara mereka. Komunikasi yang dijalin hanya formalitas, tidak mendalam, dan demi mengakomodasi kepentingan masing-masing.

Mempertontonkan kualitas kerja sama mereka hanya bekerja bersama-sama, namun bukan bekerja sama dalam sebuah tim. Wajar jika mereka selama ini bisa saling serang di antara anggota sendiri. Miris sebenarnya berjalan empat bulan masih seperti ini.

Kepentingan masing-masing, hanya saja terwadahi oleh kesamaan kepentingan karena tidak bisa mendukung 01 artinya 02, namun di sana ternyata hanya koalisi, soal pilihan masing-masing masih tetap  saja. Kepentingan partai politik masing-masing masih lebih kuat.

Program kerja asal-asalan ini sebenarnya hal yang sangat wajar karena sejak awal mereka memang tidak memiliki visi mau apa dengan menjadi capres dan cawapres itu. Seolah hanya pokok e, bagaimana bisa seorang pemimpin mau maju dalam kancah pemilihan namun tidak memiliki sebuah visi, rancangan, dan gagasan mau apa dengan negeri ini.

Pantas saja hanya memberikan tampilan dalam dua bentuk pola besar, antitesis pemerintah dan kebohongan demi memberikan gambaran ketakutan bagi para pemilih. Pengulangan yang itu-itu saja.

Antitesis pemerintah, sekaligus adalah rival di dalam pilpres. Tengok saja rekam jejak mereka yang berkisar untuk mendeskreditkan pemerintah. Kadang memang berdasar, namun lebih sering tidak berdasar, asal-asalan, dan tidak memberikan sebentuk solusi.

Nyinyiran, lebih tepat demikian daripada kritik. Soal infrastruktur yang jelas diulang-ulang dengan  berbagai-bagai narasi, toh tetap menikmati pembangunan yang ada. Berbeda jika mereka memberikan janji atau program yang lebih baik. Toh ngibul juga soal pembangunan tanpa hutang.

Soal hutang luar negeri dan penguatan dollar beberapa bulan lalu. Pada soal dollar tidak hanya rupiah yang tertekan, ramainya minta ampun, kini ketika rupiah berjaya, diam saja. Tidak ada satu suara keluar. Jelas berbeda bukan dengan kritik? Kritik itu juga akan mengapresiasi. Berbicara hutang negara pun banyak penyembunyian data, fakta, dan kenyataannya. Ada periode presiden yang sebenarnya banyak berhutang dan sumber kebocoran, namun tidak disebutkan.

Apa yang pemerintah lakukan, menjadi gagasan, dimentahkan,  dan kelompok atau pribadi  yang bersikap menentang pemerintah akan didekati, dibela mati-matian, meskipun pelaku kriminal sekalipun. Miris bukan? Termasuk HTI di mana ormas yang hendak mengubah negara tetap dibela mereka, karena memerlukan suara mereka di dalam pilpres. Kelompok yang cukup banyak pengikutnya.

Pelaku kriminal, pelaku ujaran kebencian akan dibela mati-matian, ketika terdesak, ajian saktinya tidak, bukan bagian kami, dan model sejenis. Hal yang berkali ulang ditampilkan. Mulai dari Jonru, Buni Yani, Ratna Sarumpaet, dan terbaru Bagas penyebar hoax tujuh kontainer. Melupakan kawan yang terkena kasus hukum.

Model kedua adalah kebohongan. Tentu tidak perlu diungkapkan lagi, bagaimana mereka berbohong, toh media begitu melimpah memberikan data kebohongan mereka itu.  Salah satu  yang berkaitan dengan kebohongan dan antitesis pemerintah, dan juga berkaitan erat dengan digdayanya rupiah saat ini, kata Sandi orang berbelanja dengan uang Rp. 100.000,00 tidak cukup untuk keluarga, dilanjutkan Titik Soeharto dengan nominal Rp.50.000,00.

Ternyata di pasar, faktanya tidak demikian. Yang percaya dan yakin hanya pengikut butanya. Fakta dan kebenarannya disembunyikan separo, di sanalah apa yang patut menjadi catatan apa mereka layak dipilih dan dipercaya untuk memimpin negeri ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2