Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Simalakama Prabowo

12 Juli 2018   07:45 Diperbarui: 12 Juli 2018   07:52 1026 31 20

Simalakama Prabowo sebagai salah satu kandidat terkuat untuk pilpres 2019.  Posisi dan latar belakangnya membuatnya tidak mudah di dalam menetapkan posisi sebagai  calon presiden atau mau sebagai presindent maker. Beberapa hal berikut menunjukan hal tersebut:

Penentuan waktu deklarasi, menunggu Jokowi mengumumkan terlebih dahulu atau mendahului Jokowi. Serba susah karena sangat menentukan strategi, bahkan juga personal, siapa menjadi apa, dan bagaimana hendak menerapkan strategi. Saling kunci dan sandera dengan keberadaan posisi wapres Jokowi, dan ini jelas dipahami dengan baik siapapun politikusnya. Jika mengatakan ini dan itu, jelas hanya  jawaban politis karena memang serba bingung.

Sosok latar belakang wakil, sebagai militer, membuat posisinya susah, karena apa? latarbelakangnya militer, akan susah mengambil militer juga sebagai wakil. Dobel militer tentu dipahami sebagai hal yang tidak mudah. Masa lalu yang tidak baik di masa Orba, dan juga sentimen negatif jauh lebih mengemuka, daripada kombinasi sipil-milter, apapun posisinya. Serba ribet padahal posisi ini dengan kandidat yang cukup kuat juga militer.

Mau menjadi calon atau memberikan tiket. Sikap fanatis beberapa elit Gerindra, pun pemilih mereka fokus pada Prabowo presiden, bukan yang lain. Sisi lain,  toh tidak mudah juga mengambil salah satu pilihan untuk menjadi pendamping yang bisa mengisi posisi untuk dapat berbicara lebih banyak. Tentu partner itu saling mengisi dan menguatkan bukan malah memperlemah dan tidak memberikan kontribusi yang signifikan. Tentu hitung-hitungan politis telah dilakukan dan jelas petanya seperti apa.

Jika memilih mengusung misalnya Anies-Aher-AHY, dengan kombinasi apapun, tidak mudah bagi Prabowo dan Gerindra karena fokus selama ini kan Prabowo presiden. Membuat mesin partai tidak lagi bergairah dan  bisa membuat perpecahan yang besar jika pilihan ini. Semangat langsung  habis karena berbeda dengan keyakinan hampir empat tahun terakhir. Fokusnya tidak pernah berubah kog. Padahal potensi itu pun ada sebenarnya.

Cawapres, profesional-nonparpol atau parpol. Pilihan yang sangat berat, bagaimana diketahui mesin partai ini sangat lemah, pilkada serentak memperlihatkan dengan jelas bagaimana kinerja mereka. Suara cukup dominan ada pada diri Anies, nonpartisan, susah mengharapkan parpol pendukung bisa menjalankan mesin partai untuk dapat bekerja dengan baik dan serius.  Memilih partai politik pun bukan tanpa risiko.

Kandidat dari PAN, jelas reputasi yang tidak jelas periode kemarin, masa lalu di pilpres yang sama, dan tentu sangat melukai PKS yang begitu "setia" dalam periode ini. Memilih salah satu berarti meninggalkan yang lain, apalagi kalau AHY juga bergabung, tambah ruwet lagi.  

Posisi PAN yang main dua kaki dengan sangat telanjang dan kasar, masih ada juga posisi Amien yang begitu dominan, jelas menyusahkan bukan mempermudah langkah Prabowo. Ada Zulkifli dan sang besan yang sama-sama mau juga maju. Belum lagi jika berkaitan dengan partai lain. Memilih Amien berarti mengulang lagi karena selama ini kan yang sudah "ditawarkan" Zulkifli, kalau Zul yang maju, memang sang besan rela? Sangat tidak mudah dan murah

Cawapres PKS, jelas dari sembilan nama, friksi dari dalam PKS sendiri, dan pola kinerja selama ini sangat tidak mendukung untuk bisa berbicara lebih jauh. Sikapnya untuk bereaksi terhadap banyak masalah malah menjadi cemoohan bukan menggembirakan. Hal ini jelas sudah menjadi pantauan dengan baik tim Prabowo. Tekanan terang-terangan dari elit PKS pun tidak membuat mereka beranjak. Jelas mereka tidak akan dipilih, namun menimbang mesin partai mereka sangat diperhitungkan, jangan sampai lepas.

Nama baru AHY, ini pun lebih rumit lagi, reputasi Demokrat dan SBY tentu sangat dipahami oleh Prabowo. Belum lagi level AHY yang masih terlalu hijau, milter lagi, dan dominasi SBY dan posisi 2024 yang bisa malah menjadi panggung Demokrat bukan lagi Gerindra tentu menjadi kalkulasi yang sangat berat.  Koalisi bisa menjadi mentah lagi karena kepentingan dan hitung-hitungan yang makin ruwet bukan hanya rumit.

Purnawirawan yang jauh menjual juga ada, namun apakah keberadaan dan pangkat Gatot, tidak menjadi hambatan psikologis selain karena militer, soal bintang empat menjadi wakil bintang tiga. Meskipun purna toh tetap saja menjadi hambatan yang tidak mudah diabaikan. Omong kosong jika bicara militer tidak bicara pangkat dan hirarkhi. Survey memang mengunggulkan, namun sisi psikologis sering tidak menjadi pertimbangan. Apalagi soal dobel militer lagi.

Belum lagi jika berkaca pada reputasi parlemen yang mendukung Prabowo selama ini berperilaku. Pun pilihan partai politik dalam bersikap atas isu, peristiwa, dan keadaan aktual yang ada. Soal kejadian dan isu terorisme, bagaimana sikap mereka jelas seperti apa. Memang relatif bersih dalam hal korupsi kecuali PAN, namun sikap mereka di dalam menilai fundamentalis, ormas tertentu, sangat berkebalikan dengan arus utama hidup berbangsa dan bernegara yang berdasar Pancasila.

Sepak terjang kader-kadernya susah diharapkan sebagai mesin partai yang bisa menjanjikan pembaruan, paling-paling membuat demokrasi setengah fakta yang lebih menggejala. Kasihan Prabowo malah dibebani bukan dibantu oleh perilaku elit mereka sendiri.

Terima kasih dan salam