Mohon tunggu...
SRI PATMI
SRI PATMI Mohon Tunggu... Mahasiswa Magister Program Studi Strategi Pertahanan - Dari Bumi ke Langit

Membumikan Aksara Dari Bahasa Jiwa. Takkan disebut hidup, jika tak pernah menghidupi.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

The Future of War: Menyoal Etnosentrisme dan Fanatisme dari Perspektif Huntington

6 Desember 2022   17:01 Diperbarui: 6 Desember 2022   17:10 342
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Selama ini muncul dalam benak pribadi saya dan keresahan beberapa orang lain? Mengapa makin kesini konflik SARA seakan menjadi sentiment tersendiri yang menyebabkan seseorang/kelompok tertentu bersumbu pendek? 

Misalnya berbicara masalah toleransi, dulu saat berjuang merebut kemerdekaan SARA justru menguatkan dalam kredo "Bhineka Tunggal Ika". Namun, sekarang yang terjadi justru kebalikannya. 

Para pembelajar dengan pemahaman sepenggal terhadap suatu dogma bertindak menggurui, intoleransi dan fanatik. Hakikatnya kitab suci agama sendiri multitafsir, tidak dapat dipahami hanya dengan fakta sepenggal tanpa menggali lebih dalam dengan iman dan keberagaman.

Tak dapat dipungkiri konflik internal bernuansa SARA ini masih menjadi musuh yang paling ganas seperti musuh dalam selimut. Pada saat orde baru, masalah SARA dimasukkan dalam kelompok subversif yang dapat menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa. 

Saat orde baru, konflik SARA menjadi makanan haram dikonsumsi oleh warga negara Indonesia yang sangat beragam. Maka tak heran jika rezim orde baru memperoleh keberhasilan dalam pembangunan uniformity atau keseragaman sehingga konflik SARA dapat dihindarkan serta hidup dengan tenang dan saling menghargai. 

Sayangnya, keseimbangan yang telah dibentuk pada masa orde baru ini dianggap sebagai keseimbangan semu antara kelompok minoritas terhadap mayoritas agama Islam. 

Hal ini dikarenakan posisi umat islam sebagai mayoritas agama di Indonesia seakan ditekan oleh pemerintah. Bukan berarti isu SARA dan sikap intoleran tidak ada. 

Pada saat itu, politik penyeragaman masih dipergunakan untuk menjaga stabilitas nasional bangsa. Cara kekerasan digunakan untuk menjaga ketahanan nasional dan meredam potensi konflik yang akan terjadi.

Dari politik "penyeragaman" pada masa orde baru beralih menjadi euphoria kebebasan saat reformasi. Negara menjamin kebebasan dalam beragama dan bersuara. 

Hal paradoksal terjadi saat reformasi dengan kemunculan golongan ultra-fundamentalis yang intoleran dan memiliki kecenderungan menekan orang tidak sepemahaman dan sependapat dengan apa yang diyakini mereka. Konflik horizontal SARA yang berawal dari sikap intoleransi menghiasi suasana pasca-reformasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun