Mohon tunggu...
Parlin Pakpahan
Parlin Pakpahan Mohon Tunggu... Lainnya - Saya seorang pensiunan pemerintah yang masih aktif membaca dan menulis.

Keluarga saya tidak besar. Saya dan isteri dengan 4 orang anak yi 3 perempuan dan 1 lelaki. Kami terpencar di 2 kota yi Malang, Jawa timur dan Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Pilihan

Horas Kompasianival 2021

7 Desember 2021   14:50 Diperbarui: 7 Desember 2021   14:55 109 12 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bermandikan embun pagi tunggu siraman mentari pagi nan cemerlang. Foto : Parlin Pakpahan.

Horas Kompasianival 2021

Berselancar di dunia internet memang bisa kemana-mana, bahkan sampai terdampar di sebuah pulau terkecil di Pacific sana seakan kita sedang berjemur di katakanlah pulau Mariska yang konon nyaris sama meski tak sebangun dengan Taman Eden hunian Adam dan Eva itu.

Sama halnya dengan berselancar di Kompasiana sekarang ini. Yakin bisa kemana-mana? Dipastikan iya. Blog sosial yang berdiri sejak 2008 ini, 13 tahun lalu, sudah semakin membesar dan membesar, baik penghuninya, aneka materi yang ditulis disitu  maupun cakupannya, bahkan Pepih Nugraha mengatakan Kompasianalah blog sosial terbesar di Asia-Pacific sekarang.

Bersyukur jugalah kita baru kemarin-kemarin Kompasiana selesai melakukan hajatan yang dinamai sejak beberapa tahun terakhir ini sebagai Kompasianival. Di ajang besar khas Kompasiana itu terpilih sudah 5 penulis yang bisa kita jadikan rujukan untuk bagaimana menulis ke depan ini, ntah itu kepariwisataan seperti Tonny Syiariel, Fiksi dari tak ada menjadi ada, opini, jurnalisme warga dst.

Saya sendiri sudah bergabung sejak 2010 ketika Kompasiana baru belajar berjalan dan karena satu dan lain hal atau "ngolu-ngolu" kata orang Batak, saya tiba-tiba mandeg di medio 2016 dan baru muncul lagi akhir Oktober 2021 ybl. Ketika saya periksa berulangkali sampai yakin benar, banyak yang seperti saya 5 bahkan 7 tahunan menghilang dari layar, ada yang sepertinya selama-lamanya, sebagai contoh Kapitan Joe Joe, Faisal Basri yang ekonom UI terkenal itu, bahkan Pepih Nugraha yang adalah salah satu penggagas Kompasiana di dunia per-Kompas-an. Tapi bung Pepih sepertinya akan muncul lagi setelah menulis terakhir di Kompasiana pada 1 Juli 2021 lalu dalam sebuah tulisan bertajuk sebuah proses kreatif dari seorang penulis novel. Tapi kebalikannya ada yang sangat setia dan konsisten menulis seperti Ciptadinata Effendi dan isterinya Roselina. Ini sangat menginspirasi. Pasangan itu tinggal di Ausie dan saya pikir rasa rindu tanah air barangkali salah satu pemicu betapa konsistennya mereka dalam menuliskan pengalaman dan topik apa saja, Roselina bahkan menulis siapa saja yang mengomentari tulisannya selama ini. Dan nama-nama komentator itu ditulisnya cukup dari ingatannya saja. Luarbiasa. Dan selebihnya, ini yang mengagetkan sekaligus membanggakan kita semua. Mereka adalah komunitas masa kini di Kompasiana. Dari tangan mereka - saya pikir dan saya rasa-rasakan -  sudah banyak lahir tulisan-tulisan gres yang berwawasan bagus yang saya pikir bisa dijadikan frame of reference oleh siapapun, termasuk pemerintahan sekarang.

Saya pikir, Kompasianival sukses terselenggara di masa pandemi ini, itu sudah bagus. Suara-suara miring pastilah ada dan Kompasiana terbukti mengizinkannya sejauh tak merusak persatuan bangsa di blog besar seperti ini. Yang penting uneg-uneg sudah tersalurkan dan saya sendiri lebih melihatnya sebagai hiburan. Lumayanlah.

Saya berkeyakinan Kompasianival itu penting. Ibarat roda, dia harus berputar terus mengikuti zaman dan dengan demikian dia harus diisi oleh anak-anak muda yang ceria yang suka berpikir jauh ke depan dan mau menuliskannya disini dengan gayanya masing-masing. Ini bisa dilihat dalam setiap dekade zaman dan bisa diukur dari ajang seperti Kompasianival. Seorang pensiunan seperti saya misalnya yang dari sononya suka konsep-mengkonsep, bisa melihat beragam anak muda yang ada di blog ini dari sudut keanekaragaman anak bangsa dan keanekaragaman isu yang harus kita pikirkan bersama. Merekalah salah satu pemicu dinamika sosial dan pemicu inovasi yang mengubah kita dalam melihat sesuatu. Sama-sama menulis, tapi gaya dan topik yang ditulis pastilah berbeda. Saya suka rius-riusan alias serieus dengan topik asal pilih asalkan sesuai dengan mood saya saat itu. Ada yang suka ngakak seperti Acek Rudy, ada yang senang nulis  pengalamannya di rantau orang ketika dolan-dolan untuk melihat obyek wisata tertentu, kuliner tertentu, tari-tarian tertentu dll. Itu sah-sah saja sejauh on the track dan bukan di arena liar.

Kitapun tak perlu segan atau ragu memilih siapa yang mau diikuti.  Intinya kita kan tertarik dengan gaya dan topik yang dia tulis, bahkan tertarik dengan cara si penulis membuat kita ngakak. Bagi saya Theresa Iin Assenheimer yang tinggal di Jerman karena bersuamikan seorang Jerman. Saya tertarik mengikutinya karena penjelajahan wisatanya di seputar Eropa, termasuk sampai pulau Kreta kemarin yang konon adalah asal bangsa Palestina yang sudah punah kl 3000 tahun lalu. Mereka raib dari sejarah persis di wilayah Filistin yang disebut Gaza sekarang setelah jauh sebelumnya eksodus dari pulau Kreta ke tanah Canaan yang kini disebut sebagai Israel, Yordania dan Lebanon. Yang jauh lebih muda yi Lamhot Situmorang, saya mengikutinya, karena semangat menulisnya yang bisa menulis apa saja, nah sekarang bergantung pada Lamhot untuk mempertajam opininya dari angle yang belum pernah dilihat orang.

Itu hanya sekadar contoh untuk tak usah segan atau ragu mengikuti seorang warga Kompasiana, juga jangan terlalu pelit berkomentar, sebab di kedalaman komentarlah kita akan dapat mempertajam topik yang diurai si penulis. So mengapa harus merasa cukup dengan rating Aktual, Bermanfaat, Menarik, Inspiratif dst. Itu tak menjanjikan apapun dalam berinteraksi untuk sebuah pemikiran. Sebagaimana halnya di banyak WAG atau WhatsApp Grup, bahkan di media Facebook dan Twitter sekalipun. Kita hanya melihat forward-an basi, kita hanya melihat hujan emotikon yang sesungguhnya adalah gambaran diri kita sendiri yang mau diperbudak nafsu mimetik kita yang mengagung-agungkan seorang public figure sebangsa katakanlah Erick Thohir yang sukses dalam bisnis dan mengagung-agungkan katakanlah Maia Estianty yang sukses beroleh bojo seorang pengusaha sukses, lalu kita hanya melihat tayangan iklan yang numpang lewat disitu. Kita lupa bahwa kita bukan di laman untuk melike-like dan menghujani emotikon puji-pujian kepada public figure seperti itu, tapi di laman interaktif antar sesama kita. Bagaimana kita akan menjadi mentari pagi nan cemerlang, kalau tingkah-polah kita seperti medsos-medsos yang saya contohkan di atas. Sebaiknya nafsu mimetik yang tak pernah kita sadari dan membuat kita selalu salah kamar ini segera ditinggalkan. Kamar pesugihan delusional seperti itu adalah Percuma Besar alias Sia-Sia. Bergurulah kepada yang terbaik dalam pemikiran sekalipun ybs tak seberuntung Erick ataupun Maia. Ingatlah selalu nafsu mimetik yang telah saya beber di muka. Itu takkan pernah memicu dinamika.

At the end, selamat kepada "ompu-ompu nabolon" peraih heu'euh di ajang Kompasianival dan selamat kepada penyelenggara yang telah mau bersusahpayah mengurus abc-nya Kompasianival.  Semoga ke depan ini kita akan semakin termotivasi untuk mengembangkan pemikiran lebih jauh lagi untuk komunitas besar Kompasiana, Bangsa dan Negara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hiburan Selengkapnya
Lihat Hiburan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan