Mohon tunggu...
Sugi Siswiyanti
Sugi Siswiyanti Mohon Tunggu... Full Time Blogger - blogger lifestyle, content writer, writer

Menikmati hidup

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Renungan Blogger Jelang Akhir Tahun

19 Desember 2018   03:06 Diperbarui: 19 Desember 2018   03:25 207 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Renungan Blogger Jelang Akhir Tahun
Gaya Hidup. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Rawpixel

Tahun 2019 tinggal hitungan hari. Pasti sebagian orang sudah mulai menyusun resolusi. Apa resolusi Anda?

Setiap jelang akhir tahun, saya pun menyusun resolusi. Selalu ada kesegaran harapan dan semangat dalam setiap butir rencana yang saya tuliskan.  Saya takpernah jera menyusun resolusi meskipun resolusi itu tinggal rencana belaka saat tahun baru mulai berjalan. Sehubungan dengan itu pula, saya merenungkan apa saja pencapaian tahun 2018 dan akan seperti apa tahun 2019 yang sudah di depan mata ini.

Pada tahun 2018 ini, saya fokus menulis di blog setelah resign pada Juli 2017. Saya mulai percaya diri menyebut diri sebagai blogger setelah berhasil konsisten menulis blog minimal seminggu satu kali. Selain itu, aktivitas meliput event yang sempat cukup padat di pertengahan tahun 2018 serta job sebagai content writer cukuplah membuat saya merasa layak disebut blogger :D

Dari sekian banyak kesan yang saya rasakan sebagai blogger, ada satu hal amat penting yang saya tanamkan di hati berkaitan dengan profesi ini. Hal itu adalah komitmen. Saya malah baru merasa benar-benar berkomitmen dengan pekerjaan setelah menjadi blogger ketimbang saat saya bekerja formal. 

Mengapa? Karena komitmen pangkal penghasilan. Dengan kata lain, agar tetap dapat job, blogger  harus menepati janji hadir di sebuah event yang mengundangnya, ia pun harus memosting tulisan tepat waktu, serta mengikuti aturan-aturan lain yang berlaku.

Pesan tentang komitmen ini saya peroleh secara tersirat dari seorang blogger senior. Jadi, waktu itu ada event launching menu baru di suatu restoran makanan siap saji khas Jepang.  Saya perhatikan blogger senior ini setelah acara pembukaan, ia berbaring di kursi. Saya tanya apakah ia sakit? jawabnya iya, badannya lemas karena diare. 

Mengapa memaksakan diri datang? Katanya karena sakitnya itu akibat keteledoran dia memilih makanan. Ia tetap harus datang sebab sudah menyanggupi hadir. Konsekuensinya ia harus meliput sambil menahan sakit. Dari situ, saya mendapat pelajaran berharga tentang komitmen.

Menurut KBBI, ko.mit.men /komitmn/ adalah n perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak: perkumpulan mahasiswa seharusnya mempunyai -- terhadap perjuangan reformasi; n tanggung jawab

Atas dasar komitmen pula, saya menulis renungan ini. Saya mempertanyakan komitmen saya sebagai blogger sekaligus influencer. Sebenarnya saya masih belum layak disebut sebagai influencer karena memang belum punya massa yang loyal. Apalah artinya follower di Instagram, Twitter, atau Facebook kalau jumlah follower ini dijadikan sebagai parameter sebutan influencer. Tuntutan profesi blogger sekarang ini mengharuskan saya dan kawan-kawan blogger lain untuk terus meningkatkan jumlah follower di setiap akun media sosial milik kami. Untuk apa sih follower? Sejatinya sih untuk para pengguna jasa di dunia marketing digital menitipkan pesan-pesan produk dan jasa mereka. Makin banyak follower makin besar peluang pemilik akun bekerja sama dengan para pengguna jasa. 

Saya yang dulu tidak pernah ambil pusing dengan jumlah follower mau tidak mau harus peduli dengan itu. Saya yang dulu merasa tidak enak hati kalau meminta orang lain mem-folback saya, kini saya pun mulai mengikuti arus, minta di-folback. Begitulah.. takada yang cuma-cuma di bidang ini. Prinsip take and give bukan lagi lahir dari kesadaran personal, tetapi menjadi regulasi dalam pergaulan di dunia influencer. Pun saat seseorang mengunjungi sebuah blog lalu menulis komentarnya terhadap tulisan di blog tersebut. Kunjungan itu harus dibalas juga. Kalau tidak, ia akan masuk daftar merah. Blogger yang mau enaknya sendiri, tidak mau berkunjung balik. Apalagi kalau seorang blogger sudah minta blognya dikunjungi. Ia wajib berkunjung balik ke semua blogger yang sudah singgah di blognya. Kalau tidak? Ia takboleh minta blognya dikunjungi lagi di kesempatan lain. 

Awalnya saya mempertanyakan ketulusan, tetapi di kemudian hari setelah lama berinteraksi, saya memakluminya. Saling berkunjung ke blog ternyata berpengaruh pada ranking blog dan pageview-nya. Karena itu, setiap blogger harus punya komitmen kuat untuk konsisten melakukan blogwalking atau berkunjung dan menulis komentar di blog-blog lain. Komitmen kuat akan linear dengan nilai blog yang meningkat dan pageview memuaskan. 

Bagi saya, menjadi blogger berarti harus selalu update informasi terbaru.  Pemahaman semacam itu kadangkala membuat saya merasa akan sulit menjadi zuhud jika menjadi blogger profesional. Artinya, ia menulis bukan sekadar ingin menumpahkan ide-ide belaka, melainkan tulisan itu harus bisa menghasilkan keuntungan materi. Bukankah itu perbedaan mendasar antara amatir dan profesional? 

Menulis blog sekarang ini tidak hanya curhat melulu. Di era industri 4.0, ketika internet menjadi panglima, blogger adalah bagian dari bagaimana tulisan-tulisannya berfungsi secara persuasif. Blogger bisa membujuk pembacanya agar membeli barang yang ia ceritakan sangat keren dalam tulisannya. Blogger pun bisa memengaruhi pembacanya berwisata seperti yang dilakukan blogger dalam tulisannya. Begitu pula influencer. COba tengok akun IG para artis,misalnya. Isinya sebagian besar endorse produk.  

Di titik ini, patut kita bertanya pada diri sendiri sejauh mana isi blog kita atau konten Instagram kita bermanfaat bagi orang lain? Apakah kita sudah menyampaikan hal-hal yang membuat orang lain menjadi termotivasi menjadi lebih baik atau terhibur hatinya? Ataukah isi blog dan konten I Instagrama kita serupa etalase di toko? isinya liputan event dan review produk. 

Pertanyaan-pertanyaan itu menghinggapi hati saya. Pertanyaan yang menjadi renungan sekaligus bekal untuk melangkah di tahun 2019. Meskipun bukan expert, saya melihat tahun 2019 akan menjadi tahunnya marketing digital. Banyak perusahaan mengubah pola pemasarannya yang semula konvensional menjadi digital. Nah, di mana posisi saya kala itu? Apa yang harus saya lakukan agar tetap survive? Jawaban idealnya adalah harus terus berinovasi agar unik sehingga dilirik. 

Bagaimana caranya menjadi unik ? Ini masih menjadi renungan saya. Semoga saya segera menemukan jawabannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gayahidup Selengkapnya
Lihat Gayahidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan