Mohon tunggu...
Cahyadi Takariawan
Cahyadi Takariawan Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis Buku, Konsultan Pernikahan dan Keluarga, Trainer

Penulis Buku Serial "Wonderful Family", Peraih Penghargaan "Kompasianer Favorit 2014"; Peraih Pin Emas Pegiat Ketahanan Keluarga 2019" dari Gubernur DIY Sri Sultan HB X, Konsultan Keluarga di Jogja Family Center" (JFC). Instagram @cahyadi_takariawan. Fanspage : https://www.facebook.com/cahyadi.takariawan/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Don't Tell Me You Can't!

17 Januari 2021   21:09 Diperbarui: 17 Januari 2021   21:19 993
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi : https://www.girolamoaloe.com

Bernat, pelatih Juanjo, menyatakan, "Kami hanya ingin bersepeda seperti orang-orang lain, sekedar untuk bersenang-senang saja di akhir pekan. Kami tidak pernah membayangkan bisa mengikuti lomba balap sepeda, karena disabilitasnya".

"Saya telah memberi tahu Juanjo selama empat atau lima tahun terakhir, kamu telah mencapai puncak. Pada usiamu, dengan kecacatan yang kamu alami, kamu tidak akan bisa membalap lebih cepat", lanjut Bernat.

"Namun tahun demi tahun, dia membuktikan bahwa saya salah. Ternyata dia terus melaju semakin cepat," ujar Bernat.

Motivasi yang kuat, mendorong Juanjo terus berlatih. Ia tidak pernah berputus asa atas kondisi yang menimpa dirinya. Hasilnya, saat ini Juanjo telah menyimpan enam medali Olimpiade atas nama dirinya. Amazing.

Memotivasi Orang Lain

Elisa --salah seorang anggota Piratas, baru saja kembali bersepeda, setelah kehilangan satu kaki dalam kecelakaan lalu lintas. Suatu hari, dia tengah berada di dalam mobil menunggu di lampu merah. Saat itu Juanjo --hanya dengan satu tangan dan satu kaki---bersepeda melintas di hadapannya.

Elisa berkata kepada teman yang duduk di sampingnya, "Jika suatu ketika nantu aku mulai kasihan kepada diriku lagi, ingatkan aku tentang kejadian ini". Elisa memerlukan waktu sembilan bulan untuk berlatih. Hingga akhirnya bisa memenangkan medali perunggu di Kejuaraan Bersepeda Spanyol tahun 2012.

Mungkin kita akan mengajukan serangkaian pertanyaan terhadap Juanjo. Bagaimana jika ia jatuh saat bersepeda? Bukankah ia tidak memiliki cara untuk menahan kejatuhannya? Bukankah ada jenis olahraga lain yang lebih mudah bagi seseorang yang hanya memiliki satu kaki dan satu tangan? Mengapa ia memilih bersepeda balap?

Pasti ia memiliki alasan. Ia telah memberi makna yang utuh atas aktivitas bersepeda. Ia tidak sekedar menjadi pembalap sepeda. Ia tengah merayakan kesyukuran. Ia tengah mengajarkan cara menjalani kehidupan, "Don't tell me you can't!"

Jadi, atas alasan apakah Anda mengatakan tidak bisa? Juanjo telah melampaui fase-fase krisis dalam kehidupan disabilitas. Rasa tidak bermakna, rasa rendah diri, rasa putus asa, rasa diabaikan, rasa disingkirkan, rasa berbeda, rasa dianaktirikan. Ia singkirkan itu semua. Ia jawab dengan prestasi.

Ia merayakan kehidupan dengan bersepeda. Ini bukan sekedar tentang perlombaan, bukan sekedar tentang menang Paralimpiade, bukan sekedar menjadi juara dunia bersepeda. Ini adalah tentang menjalani kehidupan sepenuh kesyukuran. Ini adalah tentang nilai dan keyakinan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun