Mohon tunggu...
Paisal Ramdani
Paisal Ramdani Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Creation of the Realm of Idea

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Feature: Tidak Selalu Harus Cantik Dilihat

5 Juli 2022   19:06 Diperbarui: 21 September 2022   23:28 964
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Yang kuingat, dering handphone berbunyi pagi-pagi buta. Kelopak mataku yang masih rapat enggan terbuka, hanya tangan kanan yang berusaha mati-matian mencari alat yang mengeluarkan suara berisik sialan itu. Getaran dering itu tetap berbunyi hingga hp itu terjatuh -dug! "Ah- apa yan-!" sambil mengusap kepala. (7 Panggilan tidak terjawab). "mampus aku!". Kubaca satu-persatu pesan yang kian menyusul dalam obrolan. "Kemana saja kamu akhir-akhir ini? Kenapa tidak coba tanya atau setidaknya mengabari?" dan nyenyenye... Seingatku bualan itu lebih panjang dari Sajak Kebumen, apalagi isinya se-rumit revisi skripsi. Intinya, Dewi meminta pisah lewat obrolan itu. Biarlah, toh memang sudah seharusnya Dewi bilang begitu, memang... kerjaanku saja setiap hari cuma mabuk-mabukan di tongkrongan, pulang larut malam habis keluyuran tidak jelas. Hari ini saja, aku sedang bersama kupu-kupu malam di apartemen. Namanya juga anak muda, masih cinta kebebasan, tak lengkap rasanya jika belum pernah coba melawan arus.

Malam hari setelah seminggu berlalu, hari yang mungkin menjadi awal penyebab dari peristiwa ironis yang kualami. Dewi tiba-tiba datang meminta nafkah untuk biaya sekolah anak kami. Perdebatan cukup hebat kala itu, entah pengaruh alkohol atau memang begini sifatku, sampai-sampai membuat Dewi menetskan darah dari pelipisnya. Aku tak begitu ingat, bayangan masa itu hanyalah aku yang panik dan melarikan diri dari rumah, serta rintihan dan jeritan Dewi yang kupukul berkali-kali jelas terdengar bercampur dengan perasaan acuh tak acuh saat pergi melarikan diri dari tempat itu.

Berminggu-minggu berlalu, peristiwa itu seakan-akan sirna dalam ingatan. Raut wajah Dewi yang bahagia ketika anak kami lahir pun aku sudah lupa. Kini yang ada hanyalah hiruk pikuk suasana di tempat tinggalku yang baru.

"thanks ya Gin, lu hebat waktu pentas!" puji temanku.

"sans, gua gaada apa-apanya dibanding lu Zri" jawabku merendah.

"pokonya abis beres-beres properti, kita ngumpul dulu sama anak-anak teater lain di belakang, oke?" "siap bos, 86"

Sebenarnya, jika dibilang orang berada, memang tak pernah aku hidup kekurangan. Warisan usaha sawit milik ayah tak pernah kering, isinya ngalir daging semua. Ada orang kepercayaan ayah juga buat mengurusi, aku tek usah repot-repot turun tangan. Tinggal gesek-gesek, langsung cair. Cuma, terkadang ada saja rasa bosan karena terlalu banyak waktu buat tidak melakukan apa-apa. Daripada nganggur, cuma ini pekerjaan yang bisa aku tekuni. Jadi pemain teater panggilan dari panggung ke panggung. Lumayan lah, asal bisa buat beli rokok sama miras aja sudah cukup, nambahin buat keperluan "lain-lain", mungkin. Apalagi sewaktu permintaan manggung sedang banyak, cuan-nya juga pasti deres. Sesuai lah, antara usaha dengan hasil. Biasanya sehabis pentas, kalau sedang senggang, aku dan rekan-rekan teater selalu menyempatkan untuk berkumpul melepas penat. Kegiatannya ya... tidak ada kegiatan, paling hanya merokok dan minum-minum saja, sehabis itu paling langsung bubar.

"Nah ini dia nih orangnya, baru juga diomongin, kemana dulu barusan?" Tanya Fazri. "Adalah... mau tau aja urusan orang." Jawabku sambil duduk disamping Fazri yang sedang menyalakan sebatang rokok. "Eh, Gin, sorry nih tiba-tiba. Tapi katanya lu lagi kesepian kan?" Tanya Fazri. -uhuk-uhuk!! "liat-liat situasi lah nanya begituan mah, lagi sama anak-anak ini" " yaa... gua juga baru tau ini dari anak-anak barusan, karena nggak percaya makanya gua tanya langsung." Jelas Fazri.

Parah memang, temanku yang satu ini kurang bisa membaca situasi. Singkat cerita, akhirnya mau tak mau aku mencoba dengan berat hati untuk bicara terbuka mengenai hubunganku dengan Dewi yang sudah lama "pupus" dan terlantar begitu saja dengan aku yang tidak bertanggung jawab, namun perkara ini hanya ku bicarakan kepada Fazri di rumah setelah bubar dari kumpulan teater malam tadi. Fazri menyarankan untuk mencoba mencari pasangan baru untuk mengobati rasa sepi. Tapi, karena alasan statusku sebagai pewaris tunggal perkebunan sawit yang mungkin terlalu skeptis, aku jadi terlalu selektif dalam memilih pasangan. Takut harta yang seakan turun dari langit begitu saja terbagi dua dengan wanita yang memang mengincarnya sejak awal, kurang lebih begitu.

Sekilas, sesaat sebelum tidur, kembali teringat saran Fazri tentang sebuah aplikasi kencan. "Lu kalo takut soal begituan mah, tinggal pake Tinder aja bos, bisa dah tuh bikin low-profile disana. Jadi lu gausah takut ketemu cewe yang ada maunya doang..." begitu katanya. Entah kenapa aku bisa menuruti saran itu, yang jelas, setelah melakukan seperti apa yang Fazri arahkan, aku mendapatkan seorang perempuan yang sangat cantik sebagai lawan bicara dalam aplikasi itu. Perempuan itu mengaku bahwa namanya adalah Clarrisa. Perempuan yang lebih muda setahun dariku, dan tinggal beberapa kilometer dari tempat dimana aku tinggal sekarang.

Clarrisa adalah perempuan yang baik. Namun, jika boleh jujur, pertama kali aku merasa tertarik untuk berbincang dengannya adalah karena dia memang benar-benar sangat cantik saat bertatap maya. Rambutnya yang panjang bergelombang, dengan lesung pipi yang dengan nyaman menghiasi senyumnya. Orangnya juga terlihat sangat baik, dia tak segan-segan untuk menyapa dengan santai dalam layar kaca handphone. Kami sering berbincang bersama dalam telfon. Bahkan, saat bertemu secara langsung di sebuah kedai kopi. Tak ada perbedaan yang kutemukan antara Clar di dunia maya, dengan Clar yang kuhadapi saat itu, sama-sama telah merampas kehidupanku yang sebelumnya milik Dewi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun