Mohon tunggu...
Ozy V. Alandika
Ozy V. Alandika Mohon Tunggu... Guru - Guru, Blogger

Seorang Guru. Ingin menebar kebaikan kepada seluruh alam. Singgah ke: Gurupenyemangat.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Kisah Putri Sedaro Putih dan Asal Mula Tumbuhnya Pohon Aren (Perspektif Suku Rejang)

14 Agustus 2020   16:41 Diperbarui: 15 Agustus 2020   13:00 6685
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gula aren siap santap. Dok. Ozy V. Alandika.

Syahdan, mereka lalu berinisiatif untuk menyadap (nyebak: bahasa Rejang) tangkai Sedaro Putih tersebut. Air sadapan mereka tampung dalam tikoa (Rejang: Bambu/Bumbung; bisa 1-3 ruas) dan kemudian ditinggal selama satu malam.

Tikoa alias bumbung/bambu penampung sadapan air nira. Terdiri dari 1 ruas, 2 ruas hingga 3 ruas tergantung derasnya ari nira. Dok. Ozy V. Alandika.
Tikoa alias bumbung/bambu penampung sadapan air nira. Terdiri dari 1 ruas, 2 ruas hingga 3 ruas tergantung derasnya ari nira. Dok. Ozy V. Alandika.

Karena tangkai bunga Sedaro Putih kembali tumbuh, mereka lalu mencoba mengingat kembali tentang apa yang "dilakukan" oleh pohon kayu kapung. Yaitu, tangkai bunga dipukul-pukul hingga memar, digoyang-goyang bunganya, dan setelah bunga itu mekar, keluarlah air nira.

Inilah bunga aren yang sudah dipukul hingga memar. Tinggal tunggu mekar saja. Dok. Ozy V. Alandika.
Inilah bunga aren yang sudah dipukul hingga memar. Tinggal tunggu mekar saja. Dok. Ozy V. Alandika.

Hanya saja, seiring dengan banyaknya air nira yang didapatkan, muncullah masalah. Ya, air nira akan menjadi masam (air nira masam;tuak) jika dibiarkan lebih dari satu malam.

Namun, inisiatif dari 6 saudara laki-laki ini tidak putus. Mereka lalu mencoba memasak air nira hingga mengental dan bewarna merah kecoklatan, kemudian mereka diamkan/bekukan. Air nira yang sudah kental dan beku inilah yang kemudian kita kenal dengan nama gula aren (gula merah).

Gula aren siap santap. Dok. Ozy V. Alandika.
Gula aren siap santap. Dok. Ozy V. Alandika.

Sedangkan pohon Sedaro Putih tadi kemudian dijuluki dengan sebutan pohon Enau alias pohon aren.

Dari dulu hingga hari ini, sistem penyadapan air nira masih relatif sama. Kami dan mayoritas warga di sini masih menggunakan ta'tung untuk memukul, menggunakan tikoa untuk penampung air nira, serta memakai tempurung kelapa untuk mencetak gula merah.

Gula aren yang dicetak menggunakan tempurung kelapa. Tinggal tunggu ia beku. Dok. Ozy V. Alandika.
Gula aren yang dicetak menggunakan tempurung kelapa. Tinggal tunggu ia beku. Dok. Ozy V. Alandika.
Gula aren bisa dikonsumsi langsung, bisa dijadikan teman ngopi, bahan peracik jamu tradisional serta olahan makanan maupun minuman lainnya. Sungguh pohon aren yang serbaguna.

Sesuai dengan kisah ini, ternyata gula merah alias gula aren memang terbukti kaya manfaat. Gula aren bisa dikonsumsi langsung, bisa dijadikan teman ngopi, bahan peracik jamu tradisional serta olahan makanan maupun minuman lainnya. Sungguh pohon aren yang serbaguna.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun