Mohon tunggu...
Ozy V.  Alandika
Ozy V. Alandika Mohon Tunggu... Pengajar, Pembelajar, Pecinta Tilawah

Selalu menanam harapan walau kemarau panjang. Singgah ke: www.ozyalandika.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Masih Sering Memarahi Siswa? Tolong Jangan Sebut-sebut Nama Keluarganya!

24 Januari 2020   10:57 Diperbarui: 24 Januari 2020   13:04 2773 38 16 Mohon Tunggu...
Masih Sering Memarahi Siswa? Tolong Jangan Sebut-sebut Nama Keluarganya!
Ilustrasi guru memarahi siswa| Sumber: kellikillion.com via Tribunnews

Di sekolah manapun, siswa nakal dan super pasti akan terus ada. Tidak terpungkiri memang, entah itu sekolah zaman klasik, zaman pertengahan, zaman modern maupun zaman milenial, selipan siswa nakal dan super tetap ada.

Uniknya, berkembang zaman berkembang pula siswa nakal. Karena hari ini adalah zaman milenial, maka siswa yang nakal juga bermilenialisasi dalam memperbaharui sikap nakalnya.

Berangkat dari sini, timbullah kekurang-sesuaian sikap dalam menghadapi nakalnya siswa milenial. Penggunaan hukuman tepis rotan maupun mistar kayu misalnya, hari ini sudah dianggap kuno seiring dengan kayanya pengetahuan umat tentang psikologi anak.

Namun, emosi tetaplah emosi, guru tetap bisa marah dan kejengkelan jika ada siswa yang keterlaluan. Hal ini tidak sengaja saya temukan beberapa hari yang lalu, bahkan mendengarnya langsung dari mulut seorang guru.

Siswa yang dimarahi memang nakal dan super. Namun, karena mungkin sudah terlalu kesal dan emosi sang guru malah ikut menyebut orangtua siswa yang sejatinya tidak berpendidikan.

"Wajar kamu seperti ini, orangtuamu juga tidak sekolah. apalagi kakakmu itu, tidak jelas kerjanya!"

Jujur saja saya begitu miris mendengarnya. Sedih rasanya jika saat itu saya yang berada di posisi siswa. Terang saja, tidak semua orangtua siswa berasal dari kalangan berpendidikan. Oleh sebab itulah mereka menyekolahkan anaknya, agar nanti ketika dewasa tidak seperti orangtuanya.

Siswa itu Nakal, Tidak Selalu atas Kehendak Dirinya
Nyatanya, jika siswa nakal semua guru juga akan marah. Tapi, marahnya untuk mendidik, menyatakan bahwa kesalahan itu akan berdampak buruk bagi dirinya, bukan marah yang meluap-luap.

Siswa yang dikerasi oleh orangtuanya di rumah, tidak bisa lagi dikerasi di sekolah. Itu faktanya. Mereka sudah terlalu muak dengan kehidupan di rumah hingganya selalu kena marah setiap kali melakukan kesalahan, bahkan walau kecil sekalipun.

Lagi-lagi ini tidak bisa dipungkiri. Barangkali faktor ekonomi begitu menekan kehidupan siswa dan keluarga, hingganya mereka harus terus berperas keringat tanpa sempat menghibur diri. 

Ilustrasi siswa nakal. (boombastis.com)
Ilustrasi siswa nakal. (boombastis.com)
Buah dari pernikahan dini serta rendahnya pengetahuan tentang psikologi anak pun bisa jadi faktor berikutnya.

Boleh dilihat di sekolah manapun, siswa yang nakalnya sudah menuju kata "kelewatan" agaknya punya masalah pribadi yang begitu rumit dan menyusahkan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN