Mohon tunggu...
Ozy V. Alandika
Ozy V. Alandika Mohon Tunggu... Guru - Guru, Blogger

Seorang Guru. Ingin menebar kebaikan kepada seluruh alam. Singgah ke: Gurupenyemangat.com

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

William, Literasi, dan Masa Depan

26 Agustus 2019   00:03 Diperbarui: 26 Agustus 2019   00:23 109
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
William dalam Film The Boy Who Harnessed The Wind. Netflix.

"William Kamkwamba mengajarkan kita bahwa literasi dapat mengubah masa depan."

Sebuah film persembahan Netflix yang  diambil dari kisah nyata seorang  penulis, inovator, dan insinyur Malawi, William Kamkwamba garapan dari Chiwetel Ejiofor dengan judul The Boy Who Harnessed The Wind. Hebatnya, Ejiofor juga ikut berperan sebagai Trywell yang merupakan ayahnya William (Maxwell Simba).

William adalah seorang remaja yang hidup bersama keluarga sederhana. Ayahnya Trywell bekerja sebagai petani gandum. William sesekali membantu ayahnya dengan membuka jasa perbaikan radio yang rusak. Ya, demi bisa bersekolah. Setelah tabungan sang ayah cukup, beliau membelikan William seragam sekolah.dan akhirnya William bisa bersekolah.

Ayah William pun melontarkan lelucon saat William akan berangkat sekolah. Ya, sebuah tes sederhana yang dapat menentukan seorang anak sudah layak sekolah atau belum. Caranya adalah "menyentuh telinga kiri dari atas kepala menggunakan tangan kanan". Ya, kiranya kita dahulu pernah seperti ini. Saya ingat, di tahun 2000 saya diminta untuk melakukan tes serupa oleh tetangga. Mungkin pembaca juga pernah ya? Hehe.

William pun langsung mempraktikkan, dan tentu saja ia bisa memegang telinga kiri. Wajar, karena William sudah remaja. Dan akhirnya William di persilahkan pergi kesekolah. Beban Trywell semakin berat karena mereka harus tetap menabung agar Annie saudara perempuan William dapat melanjutkan kuliah.

Dilema Pendidikan: Sekolah Harus Bayar

Hari pertama sekolah, William langsung dirundung mendung. Hari itu sudah turun hujan, ternyata dan ternyata uang sekolah yang sudah dibayarkan Trywell hanyalah uang muka. Biaya sekolah belum terbayar, dan tidak ada masa tenggang pembayaran. Jika tak segera dibayar, William tak bisa bersekolah.

Di rumah, William kesulitan belajar, padahal esok harinya ada ujian Sains. Pertama karena tidak adanya minyak tanah untuk bahan bakar penerangan, dan kedua, William diminta untuk membantu Ayahnya bertanam. Dan benar saja, William hanya mendapat nilai 62, memang masih lebih baik daripada temannya, namun William tidak puas.

Sepulang sekolah, William bersama temannya selalu pergi ke tempat "sampah" rongsokan barang-barang elektronik, untuk sedekar mencari daya/baterai bekas untuk memutar radio. William iri dengan Kakak perempuannya yang mendapat nilai tinggi untuk bisa masuk ke universitas. Ya, karena Annie selalu belajar pada malam hari, dan waktu itu masih banyak persediaan minyak tanah untuk bahan bakar lampu minyak.

Pada suatu waktu, William bersama temannya memiliki niat buruk untuk merusak sepeda guru. Uniknya, William malah menaruh perhatian pada lampu sepeda. Ternyata lampu sepeda itu tidak menggunakan baterai melainkan dinamo. Lampu sepeda hanya akan hidup jika pedal sepeda di kayuh. Ini sangat menarik perhatian William, dan ingin segera bertanya kepada guru sains.

Mirisnya, William harus menyusup ke kelas karena ia tak mampu membayar biaya sekolah. Beruntung Pak Kachigunda mau menjelaskan tentang dinamo. William pun semakin tertarik untuk membuat dinamo. Tapi William tak punya kartu perpustakaan, sehingga ia tak bisa masuk perpustakaan, apalagi untuk meminjam buku.

Literasi: Melahirkan Ide

Karena Pak Kachigunda terikat hubungan dengan kakaknya William, akhirnya ia bersedia menolong William agar bisa membaca buku di perpustakaan. Saat diperpustakaan, William menemukan buku "Using ENERGY". Buku ini berisikan cara memanfaatkan energi angin agar menjadi daya listrik.

William pun tertarik untuk membuat kincir angin yang bisa menghidupkan pompa air. Terang saja, hasil panen sudah diprediksi akan gagal karena kemarau panjang. Ditambah lagi mereka mengalami krisis pangan yang dahsyat hingga harus berebut membeli gandum. Dan mengonsumsinya pun harus hemat, yaitu 1 hari 1 kali.

Karena ingin tahu lebih dalam tentang dinamo, William pun kembali menyusup ke kelas saat pelajaran Sains tiba. Naas, ternyata kepala sekolah yang mengisi kelas, menggantikan Pak Kachigunda yang sedang keluar. Sontak saja, William langsung dimarah dan di usir dari kelas. Bahkan ia tidak boleh bersekolah disana lagi. Kejamnya!

William pun meminta tolong kepada Kakaknya Annie untuk meminjamkan dinamo kepunyaannya Pak Kachigunda. Setelah mendapatkan dinamo itu, William bersama teman-temannya segera merakit kincir angin sederhana berdasarkan tuntunan buku Using Energy. Meski salah satu temannya menganggap mustahil, akhirnya William dapat membuat kincir angin sederhana yang bisa menyalakan radio. Tentu saja mereka bergembira, karena harapan agar segera tercapai.

William bersama teman-temannya segera pergi ke tempat rongsokan sampah elektronik untuk membuat kincir angin besar yang  dapat menghidupkan pompa air. Namun, dengan bekal 1 buah dinamo kecil tidaklah mungkin. William berniat meminta sepeda ayahnya untuk membuat kincir angin yang lebih besar.

Ia pun bicara baik-baik dengan Trywell. William memperlihatkan kincir angin sederhana buatannya dan menjanjikan kincir angir besar yang dapat menghidupkan pompa air, agar tidak ada lagi gagal panen. Namun, Trywell dengan pemikiran sederhananya sontak menolak memberikan sepeda, dan menganggap impian William itu mustahil.

Akhirnya William malah disuruh untuk membantu Trywell siang malam untuk bertani. Setelah pulang ke rumah, ternyata Kakaknya, Annie kabur dari rumah. Pencarian pun dilakukan, namun Annie tidak kunjung ditemukan. Disaat-saat genting itu, William tetap bersih keras menginginkan sepeda ayahnya. Lagi-lagi Trywell bersikukuh dan keras kepala.

Usaha: Kesungguhan, Dukungan, dan Kerja Keras

Hidayah Tuhan pun datang lewat istrinya Trywell. Sang istri berusaha meyakinkan Trywell karena mereka sudah kehilangan Annie, mereka tidak mau kehilangan William. Akhirnya, Trywell pun menyerahkan sepedanya kepada William. William yang saat itu sudah ditinggalkan teman-temannya yang "hijrah" akhirnya dibantu oleh Trywell dan kerabat untuk membuat kincir angin raksasa.

Setelah berhasil membuat kincir angin alias turbin raksasa dan juga pancuran saluran air, William dan kerabat tinggal menunggu daya listrik penuh. Dan beberapa waktu kemudian terwujudlah impian William. Air pun mengalir bersama serpihan air mata haru setiap orang yang melihat. Asa mereka telah tumbuh, dan William berhasil!

Trywell begitu bangga dengan William. Masyarakat pun segera menanam benih gandum dan mengairi bedengan dengan air. Sejak saat itu, tidak ada lagi istilah gagal panen. William pun mendapat beasiswa dan melanjutkan pendidikannya ke Malawi, menghadiri Akademi Kepemimpinan Afrika di Afrika Selatan, dan menyelesaikan studi Lingkungannya di Darthmouth College USA.

Dan hingga saat ini William di juluki Maker Faire of Afrika. Dari lansiran Wikipedia.org, Buku Kamkwamba sendiri, yang berjudul The Boy Who Harnessed the Wind, terpilih sebagai judul "1 Book, 1 Community" 2013 untuk Loudoun County. Judul ini merupakan sebuah program literasi komunitas dengan cara berbagi pengalaman.

Dari sini, kita dapat tegaskan bahwa literasi sangatlah penting. Bahkan dengan berliterasi kita dapat mengubah masa depan dan menggapai sesuatu yang mulanya hanyalah impian belaka. Dengan seringnya literasi, akan muncul ide-ide brilliant yang dapat mengubah dunia.

Salam Literasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun