Mohon tunggu...
OtnasusidE
OtnasusidE Mohon Tunggu... Petani - Petani

Menyenangi Politik, Kebijakan Publik dan Kesehatan Masyarakat

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

"Kami Masih Mak Inilah"

20 Mei 2019   21:09 Diperbarui: 20 Mei 2019   21:22 86
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kopi di dusun sedang menuju matang, pada waktu Pemilu serentak lalu. Ketika awak sedang berjalan dari dusun ke dusun hingga ke talang-talang, sebagian kopi ada yang masih mewangi, sebagian lagi sudah menghijau. Usai Pemilu serentak artinya kopi sudah mulai memerah.

Di Punggung Bukit Barisan drama politik Pileg dan Pilpres sudah selesai. Itu yang kubisa lihat. Kalau yang tak bisa kulihat aku tak bisa menyatakannya.

Kawan-kawan pun sudah kembali ke kebun menjaga kebun. Mereka sekarang hanya mendengarkan informasi dari mulut ke mulut. Membaca pesan dari kawan-kawan melalui WA ataupun melihat Youtube.

Walaupun tinggal di dusun ataupun yang lebih jauh lagi di talang-talang tetapi seminggu sekali pasti teman-teman itu pulang ke kampung untuk membeli bahan pokok ataupun silaturahim. Saat itulah informasi masuk mengenai Pemilu serentak.

Kawan-kawan dulu pada Pemilu serentak hanya bicara Pileg. Mereka tak mau bicara Pilpres. Entah kenapa? Di pusat ribut Pilpres tetapi di salah satu titik Punggung Bukit Barisan tak ada ribut-ribut soal Pilpres pada waktu menjelang pilihan.

Justru pernah pada satu kumpulan malam sambil minum kopi dan ubi goreng, kami tertawa terpingkal. Pasalnya, ketika aku iseng menanyakan bagaimana mengenai pilihan Pilpres, tak ada yang mau menjawab satupun. Waktu aku iseng bagaimana dengan Pileg kabupaten/kota, mereka langsung tertawa terpingkal.

Salah seorang mengungkapkan, "dari 27 orang yang hadir malam ini, semua punya pilihan. Tidak ada yang sama. Masing-masing punya jago di Pileg terutama di Pileg kabupaten/kota."

Seorang anak muda menyatakan, "mamang aku nyalon. Dak mungkin aku dak membantunya. Paling tidak satu suara aku untuknya."

Begitulah semuanya guyub. Kopi dan ubi goreng yang dihidangkan pun begitu cepat lenyap dari tikar. Ronde kedua kopi dan pisang goreng pun mesti dibongkar. Sungguh aku kangen untuk kembali kumpul dengan teman-teman di dusun.

Usai Pemilu serentak, awak jalan-jalan ke berbagai titik, bertemu dengan teman-teman yang jadi petugas KPPS ataupun tokoh masyarakat. Pertemuan di warung kopi sederhana membuat kami kembali guyub.

Seorang petugas KPPS bertanya siapa pemenang Pilpres? Awak menjawab diplomatis, "belum adalah dan belum ditetapkan".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun