Mohon tunggu...
OSWALDUS CEME
OSWALDUS CEME Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa fakultas filsafat

KRITIS DALAM BERPIKIR, CERDAS DALAM BERTINDAK

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Manusia dalam Ruang dan Waktu

29 Juni 2021   15:17 Diperbarui: 29 Juni 2021   15:37 126 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Manusia dalam Ruang dan Waktu
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

 MANUSIA DALAM RUANG DAN WAKTU

OLEH: OSWALDUS CEME

            Secara etimologis kata "manusia" berasal dari bahasa Sansekerta yakni "san manu". Bahasa  Latin: homo: seorang yang dilahirkan dari tanah; humus. Dalam ilmu pengetahuan, manusia tergolong primate yang paling sempurna fisik dan akalnya. Yang membedakan dia dari makluk yang lain ialah luas susunan otaknya, alat-alatnya untuk berbicara, tangannya, sikap badannya yang tegak jika berjalan. Manusia juga dinamakan homo sapiens (manusia yang bijaksana) atau homo recens (manusia modern).

            Manusia sebagai pribadi atau persona merupakan salah satu dimensi mendasar manusia. sebagai pribadi, manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri. ia juga memiliki cara berada yang khas dibandingkan dengan makhluk yang lain. Esensi manusia sebagai pribadi menyangkut empat hal mendasar yakni: kesadaran akan diri, bersifat otonom dan transendental, serta komunikatif. Sebagai pribadi manusia adalah makhluk yang sadar akan diri sendiri. Kesadaran ini bersumber pada aspek kerohaniannya. Dengan kesadaran, manusia mempertimbangkan kualitas tindakannya. Ia tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Dengan kesadaran pula manusia mengenal siapa dirinya, dan bagaimana ia berpartisipasi membangun dunianya. Selain itu, melalui kesadaran, ia mengakui dirinya sebagai makhluk yang unik.

            Selain kesadaran manusia juga memiliki kemampuan untuk menentukan dirinya. Itu berarti, sifat otonom menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pribadi manusia. Manusia adalah makhluk yang bebas. Kebebasan adalah kondisi yang melekat di dalam diri manusia. karena adanya ruang untuk bergerak, manusia bisa secara maksimal mengembangkan dirinya dan berpartisipasi membangun dunianya menurut keunikannya.

            Selain itu manusia juga adalah makhluk transendental. Kata sifat transendental berasal dari kata benda: transendensi, dari kata kerja bahasa Latin, trancendere yang berarti melampau, menyebrang atau melewati. Transendensi diri sebagai pribadi memampukan manusia untuk mengatasi ruang dan waktu.

Ruang dan waktu merupakan persoalan fundamental dalam kosmologi. Namun apa yang dikatakan ilmu pengetahuan tentang kedua masalah itu sungguh aneh dan membingungkan. Zeno, filsuf dari Elea pernah membicarakan paradox ruang, waktu, dan gerak. Para ilmuwan dan filsuf memaknai hakikat ruang dan waktu yang berbeda. Di satu pihak, ada ilmuwan yang menganggap ruang dan waktu itu sebagai ens atau realitas riil, objektif; di lain pihak ada ilmuwan yang berpendirian bahwa ruang dan waktu bersifat subjektif, bahkan ada yang berpandangan ruang dan waktu itu hanya ilusi.

            Berbicara tentang ruang dan waktu memiliki perspektif yang cukup luas. Pertama, berbicara tentang ruang dan waktu adalah sangat esensial dalam gayutannya dengan persoalan alam, sebagaimana diungkapkan oleh Samuel Alexander bahwa ruang dan waktu merupakan satuan dasar yang melandasi alam. Kedua, pentingnya pengertian ruang dan waktu dapat juga disadari dari sudut pandang materi. Ilmu pengetahuan modern menganggap bahwa bicara tentang hakikat materi tidak mungkin dilepaskan dari masalah ruang dan waktu.

Pemikiran Agustinus tentang waktu

             Apakah sebenarnya waktu itu? Siapakah gerangan pandai memberi penjelasan dengan mudah dan singkat tentang waktu? Siapa kiranya mampu menangkapnya, untuk merumuskannya dengan kata, sekalipun dalam pikiran saja? Dalam pada itu, dari apa yang kami sebut-sebut dalam percakapan, apakah yang lebih akrab dan lebih dikenal dari pada waktu? Niscaya kami paham apabila kami bicara tentangnya; kami juga paham apabila kami mendengar orang lain berbicara tentangnya.

            Jadi apakah waktu itu? Jika tidak seorang pun tidak mengajukan pertanyaan itu, aku tahu; jika sesorang mengajukan pertanyaan itu dan aku memberi penjelasan, aku tidak tahu lagi. Namun, dengan rasa pasti kunyatakan kumengetahui, bahwa jika tidak ada yang berlalu, tidak bakal ada waktu lampau; jika tidak ada yang datang, tidak bakal ada waktu kelak; jika tidak ada yang ada, tidak bakal ada waktu kini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN