Mohon tunggu...
Id.Djoen
Id.Djoen Mohon Tunggu... ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”

Anak Bangsa Yang Ikut Peduli Pada Ibu Pertiwi

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Pilihan

Wajibkan Pamflet Harga untuk Cegah "Jegog Harga"

11 Juni 2019   12:07 Diperbarui: 11 Juni 2019   12:15 0 1 2 Mohon Tunggu...
Wajibkan Pamflet Harga untuk Cegah "Jegog Harga"
dokpri

Jegog Harga adalah istilah bahasa jawa timuran untuk melabeli warung makanan yang menaikkan harga berlipat  dari harga hari biasa dihari raya .

Beberapa waktu lalu saat lebaran muncul fenomena warung lesehan sederhana  dengan harga makanan mencapai 700.000, untuk sekelas lesehan sederhana memang sesuatu yang wah terutama warung tersebut target para pengendara yang lalu lalang bepergian. Belum lagi heboh warung lesehan muncul protes konsumen pasca makan gudeg yang baginya terasa mahal.

Dua kejadian di atas adalah puncak kejadian-kejadian serupa di berbagai daerah yang luput dari berita media. Menaikkan harga makanan warung berkali lipat saat hari raya adalah sebuah strategi untuk mendapatkan keuntungan yang besar, tak beda jauh dengan kenaikan harga tiket transportasi umum darat, air dan udara yang naik dibanding hari-hari biasa.

Namun demikian kejadian rasa kagetnya konsumen setelah konsumsi makanan di sebuah warung tanpa diduga semahal itu. Konsumen berhak mendapatkan perlindungan agar tidak terkena dampak budaya "jegog Harga" istilah jawa yang berarti menaikkan harga dari biasa. Konsumen yang terbiasa makan di warung dengan harga Rp.20.000 atau lebih akan merasa kaget saat makan dengan menu yang sama harganya Rp.700.000.

Untuk menghindari korban strategi mencari keuntungan di hari raya, dan hari-hari besar, pihak berwenang dan YLKI musti mengusulkan membuat kebijakan dan peraturan mewajibkan setiap rumah makan menyediakan banner/pamflet menu dan harga yang dipajang/diletakkan di depan warung/rumah makan. Bukan hanya brosur daftar menu yang diletakkan dimeja makan saja sebab saat konsumen terlanjur masuk dan duduk setelah membaca menu dan harga di atas meja terlihat mahal akan merasa malu untuk meninggalkan warung tersebut, terpaksa konsumen membelinya. Tentu tak sama membeli makanan dan barang lain seperti pakaian walau tanpa banner harga konsumen bisa membatalkan karena ketidakcocokan.

Berbeda jika banner/pamflet yang berisi menu makanan dan harga diletakkan diluar/depan warung, rumah makan, maka konsumen dapat memilah dan mempertimbangkan untuk makan diwarung tersebut sesuai isi kantongnya.

Budaya "Jegog Harga" (naikkan harga) di warung/rumah makan akan terus ada terutama saat hari-hari besar, hari raya untuk itulah perlunya kebijakan permanen dari pihak berwenang membuat peraturan mewajibkan warung, rumah makan, restauran memasang banner, pamflet menu dan harganya yang dipasang di depan warung, rumah makan, restaurant sehingga konsumen tidak merasa terjebak.