Olive Bendon
Olive Bendon Travel Blogger

penikmat alam ciptaan Tuhan, senang berjalan kaki & menyesap senyap saat mutar-mutar di kuburan tua. menitipkan jejak di Olive's Journey dan Perempuan Keumala

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Macao, Perjalanan Menautkan Rindu

27 Desember 2017   00:14 Diperbarui: 27 Desember 2017   00:33 796 4 0
Macao, Perjalanan Menautkan Rindu
Ruins of St. Paul's (dok. http://cvnetworktv.com)

Macao sudah lama menjadi destinasi impian. Namun, hasrat untuk mengunjunginya naik turun seperti demam yang datang ketika flu menyerang sehingga itinerary perjalanan ke Macao pun tak pernah tuntas dibuat. Pertemuan dengan Maria Dyer di Georgetown pada awal Agustus 2015 lalulah yang mendorong kerinduan untuk merancang kembali sebuah perjalanan masa ke kota yang pernah menjadi koloni Portugis ini.

"Lip, jika satu hari nanti kamu ke Macao, kutitipkan rinduku pada Samuel dan Maria Jane. Tolong sampaikan betapa besar kerinduanku pada mereka." Tak lupa, perempuan berwajah teduh dengan senyum ramah itu mengulang pesan untuk orang - orang kesayangan hatinya, sesaat sebelum kami saling melempar salam perpisahan di gerbang Protestant Cemetery.

Samuel Dyer, suami Maria, sedang berkunjung ke Guangzhou sebelum memulai tugas di tempat baru di Fuzhou ketika terkena demam parah. Samuel dibawa ke Macao untuk mendapatkan perawatan dari Peter Parker, MD. Demamnya tak kunjung turun. Samuel pergi pada 21 Oktober 1843, meninggalkan Maria, Maria Jane - puteri bungsu Maria dan Samuel - dan dua orang kakaknya yang masih kecil. Samuel dimakamkan di sebuah pemakaman kristen di Macao. Di tempat perisitirahatan itu, Robert Morrison, misionaris protestan pertama yang menjejak di Tiongkok, juga dimakamkan bersama dengan keluarganya.

Maria Jane belum genap 10 tahun ketika ia dan kedua saudaranya dikirim ke Inggris untuk diasuh oleh pamannya. Setelah dewasa, ketiga anak ini mengikuti jejak ayah dan ibunya, menjadi misionaris di Tiongkok. Sebelum menikah, Maria Jane dan saudara perempuannya mengajar di sekolah untuk anak - anak perempuan Tionghoa yang dikelola oleh sahabat ibunya di Ningbo. Ia meninggal pada 1870 karena kolera di Zhenjiang.

Siapakah Maria Dyer sehingga kerinduan hatinya menjadi alasan kuat untuk beranjak ke Macao?

Makam Maria Dyer di Georgetown, Penang (dok. koleksi pribadi)
Makam Maria Dyer di Georgetown, Penang (dok. koleksi pribadi)
Maria Dyer - Tarn adalah perempuan pertama yang menjadi misionaris Protestan di Malaysia. Ia dan Samuel Dyer, suaminya, adalah bagian dari London Missionary Society (LMS), melayani orang - orang Tionghoa di Penang, Malaka hingga Singapura. LMS adalah lembaga pekabaran Injil interdenominasi yang didirikan di London pada 1795 dimana ayahnya, Joseph Tarn, menjadi salah satu direkturnya. Meski wilayah misinya cukup luas, Maria dan keluarganya memilih Penang sebagai tempat untuk tinggal.

Jika melihat - lihat informasi yang bertebaran di internet, ada begitu banyak informasi yang mengulas tips perjalanan ke Macao lengkap dengan rekomendasi destinasi wisatanya yang bisa dikunjungi dalam sehari. Namun, dengan mempertimbangkan keinginan untuk  berlama - lama di beberapa destinasi wisata sejarah yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai situs warisan dunia, sayang sekali bila perjalanan dikemas tergesa - gesa.

The Old Protestant Cemetery, tempat peristirahatan Samuel Dyer dan Robert Morrison (dok. http://gilbertkpng-phototour.blogspot.co.id)
The Old Protestant Cemetery, tempat peristirahatan Samuel Dyer dan Robert Morrison (dok. http://gilbertkpng-phototour.blogspot.co.id)
Satu yang pasti, menyusuri jejak sunyi di The Old Protestant Cemetery, Macao akan menjadi perjalanan penaut rindu dengan mampir merapalkan beberapa bait doa bagi mereka yang beristirahat di sana di Morrison Chapel. Tentu, tak hanya tempat peristirahatan yang akan menjadi tujuan bermain selama di Macao. 

The Camoes Garden dan Casa Garden, dua taman bersejarah yang berdiri tak jauh dari The Old Protestant Cemetery pun akan menjadi sasaran menikmati hari usai hening di Morrison Chapel. Bila perut sudah mulai berdendang, tinggal turun ke Taipa Village, sebuah perkampungan tempat berpadunya budaya Portugis dan Tionghoa. Di sana, aneka jajanan berjajar di gerai makanan dan restoran siap menggetarkan lidah.

Patung Luis de Camoes di The Camoes Garden (https://www.thepoortraveler.net)
Patung Luis de Camoes di The Camoes Garden (https://www.thepoortraveler.net)
Untuk mengenal peradaban Macao, tentu harus mengenal sejarah dan kebudayaannya. Karenanya, Museu de Macao a.k.a Macao Museum tak akan dilewatkan. Terlebih Fortaleza do Monte, tempat museum ini berada; adalah benteng pertahanan tertua di Macao, salah satu destinasi wisata sejarah yang wajib dikunjungi. 

Dari sini, penyusuran sejarah berlanjut ke The Ruins of St Paul Church, dan berkeliling di alun - alun Macao, Largo de Senado. Saat menuliskan rencana perjalanan ini, jadi terpikir juga untuk mengunjungi gereja dan kapel lain yang ada di Macao selain The Ruins of St. Paul's. Ingin memanjat menara lonceng St. Dominic's Church untuk melihat koleksi artefak yang tersimpan di dalam Museum of Sacred Art. Ingin berlari ke Penha Hill, bermain dan menikmati Macao dari ketinggian di pekarangan Chapel of Our Lady of Penha.

Museu de Macao (dok. http://macau.com.au)
Museu de Macao (dok. http://macau.com.au)
Guaia Chapel (dok. http://www.china-macau.com)
Guaia Chapel (dok. http://www.china-macau.com)
Ah, dan tentu saja masih ada Chapel of St. Francis Xavier, Chapel of St. Michael, St. Anthony Church, dan Guaia Chapel; tempat - tempat yang menyimpan tinggalan sejarah yang menjadikan diri bersemangat untuk segera mewujudkan penyusuran jejak ke Macao demi menautkan rindu Maria untuk Samuel, saleum [oli3ve].