Mohon tunggu...
Olive Bendon
Olive Bendon Mohon Tunggu... Administrasi - Travel Blogger

Travel blogger yang senang menceritakan perjalanannya (dan kawan berjalannya) yang berkaitan dengan sejarah, gastronomi, medical tourism, kesehatan mental lewat tulisan. Memiliki hobi fotografi, menonton teater, dan membaca buku. Ikuti juga jejaknya di OBENDON.COM

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Analisa Gonjang Ganjing GoJek

17 Juni 2015   07:19 Diperbarui: 17 Juni 2015   10:44 24486
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Lalu lintas Jakarta tak terlalu padat pagi itu. Pemandangan ke ruang penumpang dalam bus, moda transportasi umum yang lalu lalang di jalan pun tampak longgar. Tak seperti di hari biasa dijejali penumpang, yang berbagi ruang gerak di antara punggung yang berdesakan, saling menempel satu dengan yang lain.
 
Jakarta kalau begini asik ya, Bu,” Agus (sebut saja begitu), pengendara ojek yang motornya saya tumpangi membuka percakapan saat kami mengantri di lampu merah Kuningan. Minggu pagi itu, saya memang sengaja memilih memanggil jasa ojek untuk mengantarkan ke Stasiun Beos. Obrolan kami terus berlanjut sepanjang perjalanan 10 km menuju pusat kota. Agus menjelaskan, dirinya bergabung dengan PT GoJek Indonesia sejak Desember 2014.

Bulan pertama bergabung manfaatnya belum kerasa Bu, tapi setelah berjalan 3 (tiga) bulan hasil ‘narik (ojek) sangat terasa,” kata Agus di sela-sela desah cempreng knalpot kopaja yang melintas di sisi kanan kami. “Maaf ya Bu, motor saya nggak bisa diajak ‘ngebut, ”lanjutnya. Efisiensi waktu juga dirasakan oleh Agus karena dirinya bisa dengan leluasa mengatur sendiri kapan mau mengambil orderan dan mengisi waktu dengan keluarga serta melakukan kegiatan lainnya.

Dalam kurun waktu 4 (empat) bulan setelah meluncurkan program aplikasi mobile pada awal 2015, GoJek yang sudah berdiri sejak 2011 mulai dirasakan sebagai pesaing yang dituding akan mematikan rejeki pengojek pangkalan. Bahkan, dalam sepekan ini banyak isu seputar gonjang-ganjing GoJek yang berkembang dan disebar melalui media sosial, disambut dengan ragam tanggapan dari berbagai sudut oleh warga Jakarta. Maka, salahkan Nadiem Makariem si penggagas GoJek karena aplikasi mobile GoJek-nya marak diunduh dan jasa GoJek lebih banyak dilirik oleh warga Jakarta yang memiliki ketergantungan pada teknologi, tidak mau ribet dan mengharapkan hasil yang instan sesuai kebutuhan. Bukankah itu sejalan dengan tuntutan jaman? Coba perhatikan hasil survey dari MarkPlus di bawah.

Ketika ditanya persyaratan menjadi pengendara GoJek yang konon ribet dan memberatkan pengojek pangkalan untuk bergabung di GoJek, Agus berpendapat itu karena ketidakpahaman rekan-rekan pengendara ojek. Setiap calon pengendara GoJek diwajibkan oleh perusahaan untuk menyerahkan dokumen penting sebagai jaminan berupa kartu keluarga, akta kelahiran dan surat nikah ketika lolos seleksi menjadi pengendara GoJek. Hal yang lumrah pada proses penerimaan karyawan suatu perusahaan.

Untuk kebaikan kita juga koq Bu, kalau terjadi sesuatu pihak kantor gampang menghubungi keluarga.” Agus juga menjelaskan, ketika diterima menjadi pengojek di GoJek dia dan rekan-rekannya mendapatkan pelatihan singkat pengenalan dan panduan menggunakan aplikasi GoJek serta peraturan yang mesti ditaati. Ditambahkannya pula, setiap Kamis para pengendara GoJek dibagi kelompok dan dijadwalkan untuk mengikuti pelatihan tertib lalu lintas yang diberikan oleh Polda Metro Jaya.

Ditilik dari sisi marketing, berhasil tidaknya satu produk yang ditawarkan ke pasar, bergantung pada beberapa faktor berikut: pemilihan dan penerapan strategi pasar, keunggulan produk, harga yang ditawarkan serta kepuasan konsumen yang membeli/menggunakan produk tersebut. Dalam menjajal pasar; GoJek telah menerapkan First-In Strategy yang mengundang reaksi para pesaing yang bergerak di bidang yang sama, jasa angkutan. Tak hanya itu, sebagai pionir di bidangnya, GoJek juga menawarkan jasa layanan antar barang, jasa belanja dan yang terbaru jasa pesan antar makanan yang diminati oleh pasar. Paket jasa layanan yang sangat diminati oleh warga Jakarta, yang bisa dinikmati hanya dengan membuka smartphone di tangan tanpa perlu meninggalkan kegiatan mereka.

Selain Jakarta, saat ini GoJek sudah beroperasi di Bali, Bandung dan Surabaya dengan 10.000 pengendara ojek; 50 diantaranya adalah perempuan. Setiap pengendara GoJek akan mendapatkan masing-masing 2 (dua) buah jaket dan helm serta perlengkapan masker dan tutup kepala untuk penumpang. Jika ada di antara pengendara yang tidak mematuhi prosedur yang disepakati bersama perusahaan, pengguna jasa GoJek dapat segera melaporkan yang bersangkutan ke layanan pelanggan GoJek.

Tak lebih 30 menit perjalanan, kami sampai di depan Stasiun Beos, Jakarta. Karena penasaran selama dua hari berturut-turut hanya membayar Rp 10,000 setiap menggunakan jasa GoJek, saya pun bertanya kepada Agus, “Mas, tadi di aplikasi saya Mampang ke sini tarifnya hanya Rp 10,000. Mas tidak rugi?”

Oh, nggak Bu, tarif promosi ramadhannya memang segitu, sisanya ditransfer sama kantor ke dompet GoJek saya. Kalau mau, cobain jarak jauh sekalian Bu, asal nggak lewat 25 km bayarnya sama sepuluh rebu.”

Sebagai pelanggan setia ojek, saya tentu pernah bersitegang dengan tukang ojek, ketika tawar-tawaran tarif tak menemui harga yang wajar atau kala si abangnya kebut-kebutan. Punya langganan ojek dari referensi teman yang akan menjemput ke kantor bila hendak menghadiri satu acara usai jam kerja, juga punya langganan di pangkalan dekat kost semasa tinggal di Bendungan Hilir yang sering dimintai tolong ketika ada keperluan mendesak seperti mengantar ke satu tempat di pagi buta, atau ketika mengejar waktu untuk ke gereja atau malam-malam minta diantarkan ke rumah sakit. Sehingga, ketika dipanggil di waktu-waktu tertentu, abang ojeknya sudah hapal,"ke gereja mbak, telat ya?" atau "mau jalan kemana lagi mbak? pagi-pagi bawa gembolan ke stasiun?" Dengan mereka, saat melaju di jalan, saya sering berbincang tentang kehidupan sehari-hari atau sekadar berbagi kisah tentang pertumbuhan dan pendidikan anak mereka.

Para pengojek pangkalan punya peraturan tak tertulis mengenai pembagian jadwal menarik pelanggan. Pengojek yang mangkal di komplek perumahan biasanya lebih tertib namun sebagian besar yang berada di sekitar jalur perhentian bus akan berebutan calon penumpang tanpa peduli pada kenyamanan calon pengguna jasanya. Bagaimana tidak, disaat bus baru memberi tanda menepi untuk menurunkan penumpang, mereka sudah meraung-raung di sisi bus, menghalangi di depan pintu. Belum lagi kalau mereka mengeluarkan kata-kata kasar dan tak sopan karena dorongan kompetisi untuk mendapatkan penumpang. Pengojek pangkalan juga memiliki ikatan yang kuat satu sama lain termasuk dengan pelanggan setianya. Contoh, ketika bermain ke Bendungan Hilir misalnya, dari jauh ketika melihat saya turun dari bus para tukang ojek yang mangkal di bawah JPO (=jembatan penyeberangan orang) sudah hapal siapa yang akan saya dekati. "Langganan De!" teriak mereka ke bang Ade, tukang ojek langganan saya. Mereka tidak protes dan hanya tersenyum ketika saya memilih untuk berjalan kaki.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun