Mohon tunggu...
Oky Nugraha Putra
Oky Nugraha Putra Mohon Tunggu... Mahasiswa -

Seorang manusia yang terus belajar, belajar, belajar pada siapapun.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Napak Tilas dan Diskusi Perang Konvoi Tjiandjoer-Tjirandjang dalam Perspektif Sejarah

16 November 2017   10:20 Diperbarui: 16 November 2017   23:25 3601
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tugu peringatan Pertempuran Ciranjang 1946. Koleksi pribadi

Sekitar pukul 11.00 WIB rombongan napak tilas kembali ke bus. Kali ini kami akan kembali ke titik awal keberangkatan, yakni gedung DPRD Kabupaten Cianjur. Setelah supir mulai menancap gas Hendi selaku narator napak tilas kembali membuka pembicaraan. Dia tidak bercerita namun melontarkan beberapa pertanyaan kepada peserta napak tilas. 

Saya orang pertama yang menjawab pertanyaannya. Pertanyaan berhadiah ini membuat saya mendapatkan sebuah buku berjudul Kronik TNI: Tentara Nasional Indonesia 1945-1949 yang ditulis oleh Aan Ratmanto. Bersyukur sekali ! Karena kalau harus membeli sendiri, pasti harus merogoh kocek yang sedang paceklik. Maklum, mahasiswa yang kuliahnya dibiayai negara. Hehehe.

Selama perjalanan menuju kembali ke titik awal Hendi melontarkan berbagai macam pertanyaan kesejarahan baik yang menyangkut napak tilas itu sendiri maupun pertanyaan kesejarahan yang umum. Peserta napak tilas sangat antusias dalam mengikuti sesi pertanyaan berhadiah ini. Kalau saya pikir-pikir, dengan uang pendaftaran sebesar Rp. 75.000,00 kami sebagai peserta, khususnya saya sudah sangat beruntung. 

Kami surplus fasilitas. Dengan uang sebesar itu kami sudah mendapatkan sebuah kaos, makanan ringan, sebuah totebag, satu buah buku berjudul Perang Konvoi Sukabumi-Cianjur 1945-1946, makanan berat, dan sertifikat. Belum lagi peserta yang mendapatkan hadiah buku karena berhasil menjawab pertanyaan. Sangat memuaskan dan menggembirakan !

Rombongan peserta napak tilas sampai di gedung DPRD Kabupaten Cianjur sekitar pukul 11.30 WIB. Selama 1,5 jam kami diberi waktu untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum masuk ke acara diskusi pada pukul 13.00 WIB. Waktu 1,5 jam itu saya manfaatkan bersama Jembar untuk sembahyang, dan makan batagor serta siomay. 

Saya dan Jembar tidak mengira ketika kembali ke ruangan Badan Musyawarah DPRD yang dijadikan tempat diskusi telah disediakan makanan berat ! Jadilah kami makan untuk yang kedua kalinya. Sembari menyantap makanan peserta napak tilas disuguhi tontonan seputar masa Revolusi Fisik 1945-1949 yang naratornya tak lain adalah Hendi Jo dan 'dokter' sejarawan Rusdi Hoesein. Mulai dari peristiwa di Tambun Angke, Bekasi sampai Pertempuran Ciranjang ditampilkan oleh proyektor. Sejarah akan lebih menarik bila ditampilkan dalam bentuk audio-visual.

Tidak terasa waktu menunjukan pukul 13.30 WIB. Acara diskusi molor setengah jam dari waktu yang ditentukan panitia. Para pembicara telah hadir di ruangan. Hendi Jo dan Rusdi Hoesein. Ternyata panitia pun mengundang para veteran untuk hadir dalam acara diskusi ini. Mereka adalah anggota LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia) cabang Cianjur. Jumlah mereka tiga orang. Salah satunya bernama Zuhdi berumur 93 tahun. Sebelum acara diskusi dimulai kami semua menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya 3 stanza. Jujur, saya baru pertama kali melantunkan Indonesia Raya dalam 3 stanza.

Diskusi lalu dimulai dengan pembicara pertama Rusdi Hoesein. Dia memaparkan secara garis besar kedatangan pasukan Sekutu ke Indonesia pasca Perang Dunia ke-II khususnya tentara Inggris. Mereka terdiri dari 3 divisi. Divisi India ke-23 dibawah pimpinan Mayjen D.C. Hawthorn ditugaskan di Jawa Barat. Divisi India ke-5 dibawah pimpinan Mayjen J.E.C. Marsergh ditugaskan di Jawa Timur. Merekalah yang akan terlibat dalam Pertempuran Surabaya kelak. Serta Divisi India ke-26 dibawah pimpinan Mayjen H.M. Ambers ditugaskan di Sumatera. Menarik bila memerhatikan pasukan Inggris yang datang ke Indonesia saat itu. 

Mereka merupakan kesatuan pasukan yang terdiri dari berbagai macam bangsa. India, Nepal, dan Pakistan. Tidak sedikit dari mereka yang membelot kepada kesatuannya. Selain karena faktor jenuh akan pertempuran, penyebab lain mereka membelot adalah faktor agama. Kebanyakan pasukan Inggris yang berasal dari Pakistan adalah Muslim. Setelah mengetahui bahwa sebagian musuh mereka adalah muslim juga, mereka melakukan desersi untuk bergabung bersama Republikan.

Selanjutnya diskusi berjalan lancar. Obrolan ringan dalam konteks tahun 1945-1949. Sesi tanya jawab dibagi ke dalam dua termin. Satu termin untuk tiga orang penanya. Jembar salah satu yang bertanya. Kelompok penanya beragam. Mulai dari SMP sampai perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Yang paling menarik perhatian saya adalah ketika ada seorang penanya yang mempertanyakan peranan pemerintah daerah dalam melestarikan situs-situs bersejarah di Cianjur. 

Karena dia merasa pemerintah daerah abai dalam memerhatikan, merawat, serta melestarikan situs-situs tersebut. Ini suatu hal menyedihkan bagi saya sekaligus mengesalkan. Di satu sisi saya sedih melihat situs-situs bersejarah yang seakan-akan dibiarkan mati begitu saja. Di sisi lain saya kesal karena pemerintah daerah seperti tidak ada kemajuan tindakan dalam memerhatikan situs-situs tersebut. Apalagi memerhatikan para pahlawan lokalnya ! Semoga kedepannya tidak seperti ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun