Mohon tunggu...
Oktav UnikArdiana
Oktav UnikArdiana Mohon Tunggu... Guru - Hamba Allah yang tengah menjadi seorang pembelajar. (Guru IPA yang berdomisili di Banyumas dan Cilacap)

Anak perempuan pertama dari 4 bersaudara yang tengah belajar mengabdi pada dunia pendidikan. Masih terus belajar, belajar, dan belajar

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Pasca Vaksinasi Tahap Pertama, Berikut Mengatasi Efeknya Secara Alami Versi Saya

1 Juli 2021   08:52 Diperbarui: 1 Juli 2021   08:57 339 9 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pasca Vaksinasi Tahap Pertama, Berikut Mengatasi Efeknya Secara Alami Versi Saya
nasional.kompas.com

Kegiatan vaksinasi sampai saat ini merupakan salah satu upaya masif yang dilakukan oleh pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Program yang sudah mulai menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat ini diharapkan menjadi upaya efektif untuk kepulihan kesehatan nasional pasca pandemi. Meskipun demikian, kondisi tubuh masing-masing individu yang dimasuki vaksin ternyata memberikan reaksi berbeda. Ada yang merasa pusing, demam, pegal-pegal, bahkan sampai tidak ada reaksi apapun yang dirasa pasca vaksin. 

Melihat kebijakan pemerintah terkait vaksinasi ini, sebagian masyarakat menanggapi positif dan yakin pada usaha para pemangku kebijakan. Akan tetapi, tak sedikit pula sebagian lainnya belum bersedia untuk mendapatkan vaksin dengan beberapa alasan dan pertimbangan terlepas dari mereka para pemilik komorbid. 

Tepat tanggal 5 Juni lalu, saya menjadi salah satu peserta vaksinasi di puskesmas terdekat tempat saya bekerja. Apabila hal ini sebuah pilihan, saya lebih memilih untuk tidak divaksin dengan alasan selama ini saya sudah menerapkan anjuran pemerintah tentang protokol kesehatan. Sehingga saya rasa tanpa divaksin pun saya akan tetap berusaha menjaga kesehatan. Namun, di sisi lain saya pun berpikir apabila vaksinasi merupakan bentuk ikhtiar yang secara bersama-sama sedang diupayakan untuk meminimalisasi resiko terkena paparan makhluk mikro yang sudah eksis di berbagai belahan dunia dalam kurun waktu kurang lebih enam belas bulan terakhir. Di samping itu, vaksinasi kabarnya akan menjadi salah satu persyaratan boleh diadakannya pembelajaran tatap muka di tempat saya bekerja. Siapa sih guru yang tidak rindu bertatap muka dengan para siswanya setelah satu tahun lebih proses pendidikan formal belum berjalan secara normal?

Ada sedikit rasa khawatir sebelum petugas vaksinasi melepaskan cairan yang hanya beberapa mililiter ke dalam tubuh saya melalui pergelangan tangan sebelah kiri. Hal ini dikarenakan saya tak pernah bersentuhan dengan jarum suntik selama enam belas tahun terakhir.

Tidak sampai sepuluh detik cairan tersebut menembus kulit lengan atas saya. Sesaat tak ada rasa apa-apa. Bahkan saya sempat kaget ketika ibu petugas berkacamata tersebut mempersilakan saya untuk keluar ruang pemberian vaksin sebab masih banyak antrian berikutnya. Lengan kiri saya tampak biasa saja seolah tak ada yang terjadi sebelumnya.

Tiga puluh menit kemudian, efek pegal mulai terasa. Rasa lapar mulai menyerang padahal saya baru saja sarapan tepat beberapa menit sebelum menuju puskesmas untuk melakukan vaksinasi. Apa yang saya lakukan? Tentunya makan dengan lahap.

Hari pertama sampai tiga hari setelah pemberian vaksin, saya masih beraktivitas seperti biasa. Nafsu makan saya bertambah namun enggan untuk menyantap nasi sebagai menu utama. Saya pikir itu hal biasa. Lengan kiri pun tak lagi merasa pegal ataupun efek lainnya.

Tepat hari kelima setelah vaksinasi tahap pertama, saya mulai merasakan kantuk di jam kerja padahal saya tidak makan berat pada hari itu. Justru saya hanya makan buah dan minum air kelapa karena cuaca yang cukup gerah.

Hari berikutnya pun tetap sama. Kantuk luar biasa ditambah diare membuat tubuh semakin lemas dan tak bertenaga. Nafsu makan masih belum kembali.

Hari ketujuh nafsu makan mulai muncul. Semua makanan yang saya inginkan di hari itu saya makan dengan lahap. Termasuk minum es degan di siang hari. Dan, apa yang terjadi setelah itu? Malam harinya tenggorokan saya terasa kering dan gatal. Hal ini mungkin saja dikarenakan es degan yang saya minum saat siang hari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x