Mohon tunggu...
Nuzul Mboma
Nuzul Mboma Mohon Tunggu... Warna warni kehidupan

Peternak ayam ketawa & penikmat kopi nigeria.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Ijazah

14 Oktober 2019   11:49 Diperbarui: 14 Oktober 2019   12:41 69 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ijazah
sumber: 51miz.com

Dulu aku berpikir, apa yang bisa dilakukan selembar ijazah SMA? 

Delapan tahun lalu, tak lama setelah pengumuman kelulusan sekolah, aku meninggalkan kampung halaman untuk menyusul kakak-kakakku yang bekerja di kota. 

Tak seperti kebanyakan anak laki-laki yang melanjutkan pendidikannya di militer atau masuk universitas, aku yang begitu terobsesi dengan kesuksesan menganggap konyol gagasan baris berbaris sambil menenteng senjata atau duduk di bangku universitas dan melanjutkan pembicaraan tentang subjek yang selama duabelas tahun telah kita pelajari di sekolah. 

Kesuksesan menurutku adalah seorang pria muda yang muncul dalam iklan-iklan rokok tengah malam; berambut klimis, menenteng tas kerja, berdasi dan dikelilingi gadis-gadis cantik. Aku bisa membayangkan diriku di sana, tampan, tanpa beban karena bisa sesekali liburan dengan jet pribadi. Ini mungkin terdengar naif, tapi buku motivasi Stephen R Covey dan Dale Carnagie milik kakakku satu suara menyatakan tak ada yang tak bisa di dunia ini. Yang kuperlukan hanyalah semangat tak pantang menyerah dan selembar ijazah SMA.

Mengikuti resep sukses di buku itu, aku mulai menyusun daftar pencapaian-pencapaianku di lima tahun pertama masa kerja. Lima tahun itu kemudian kupecah lagi menjadi tiga tahun awal dan dua tahun terakhir. Aku akan tuliskan secara gamblang di sini karena itu merupakan hal yang menyedihkan. Dan tak bisa dilupakan sebenarnya. Mula-mula aku akan bekerja keras untuk membuktikan prestasiku. 

Aku seorang yang berkarakter dan percaya diri. Aku tahu itu karena teman-teman sekelasku senang dan kagum dengan prestasiku. Tiga tahun pertama adalah waktu yang lebih dari cukup untuk membangun jaringan dan citra yang dibutuhkan untuk mendapatkan promosi atau kenaikan jabatan. 

Bila itu bisa kucapai, dua tahun setelahnya akan berjalan dengan lancar, dan aku berani memikirkan hal-hal yang tak semua temanku bisa pikirkan; menikah, memiliki rumah sendiri, anak-anak yang tumbuh sehat dan lucu-lucu, berziarah ke tanah suci bersama orang tua. Apalagi?

Maka di bawah do'a ibu, berangkatlah aku ke kota.

Tak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari bahwa apa yang kulakukan tak akan membawaku seinchipun menuju kesuksesan. Kenyataannya? Tentu saja, ada orang-orang yang memulai karirnya dari bawah, dari kondisi paling terpuruk lalu bangkit untuk membuktikannya pada dunia. Ada kisah tukang bengkel yang kini membuka showroom otomotif dengan cabang di hampir tiap kota. 

Ada tukang cuci piring yang menjadi pejabat publik. Atau kisah office boy yang di masa keemasan usianya tercatat di jajaran komite eksekutif perusahaan multinasional. Lulusan SMP yang menjadi menteri kelautan. Dan kisah sukses yang paling banyak menginspirasi, seorang kurus yang dulunya jualan mebel dan kini menjadi presiden negara kita. Kisah sukses itu memang nyata. 

Ada jutaan kisah sukses di dunia ini. Dan sementara calon-calon jutawan beruntung lainnya telah naik satu tingkat di tangga kesuksesan, aku malah menghabiskan waktuku dengan pindah dari satu tempat kerja ke tempat lainnya hanya untuk semakin mempertebal rasa pesimis akan diriku sendiri.

Persoalannya adalah aku kesulitan berdamai dengan keadaan-keadaan tertentu dalam dunia kerja.

Pekerjaan pertamaku adalah sebagai pramuniaga di sebuah pusat perbelanjaan. Tapi tak lama. Aku memutuskan resign pada bulan ke enam. Padahal, menurut cerita yang kudengar bapak yang saat itu berposisi sebagai orang nomor satu memulai karirnya dari nol, sama seperti kami semua. 

Aku sendiri belum sepenuhnya mengerti alasan meninggalkan pekerjaanku itu. Tapi dorongan itu datang dari hatiku sendiri. Memang ada kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan, seperti tekanan mengejar target penjualan, kesalahan personal yang berakhir dengan mendapat marah, potongan gaji, lembur yang melelahkan. Demikianlah arti bersakit-sakit dahulu dalam pepatah. 

Obatnya adalah motivasi, seperti di buku. Namun tetap saja aku keluar dari sana dan mulai menambah masa targetku menjadi tujuh tahun. Kupikir Dale Carnagie akan memaklumi hal seperti ini.

Tempat kerja yang lain sama saja. Aku berganti kerja selama empat kali namun di tempat kerja terakhirlah aku menemukan jawaban dari rasa pesimisku. Waktu itu aku sudah jatuh semangat dan tak lagi peduli pada rencana jangka panjang atau pendek. Aku bekerja sebagai pembakar roti di sebuah cafe yang cukup terkenal. Tidak semua orang berbelanja di tempat itu, dan tak semua roti yang dibakar bisa terjual. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x