Mas Uung
Mas Uung Pekerja Seni

Orang biasa yang setia pada proses. Tinggal di www.istimewacreative.com

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Pilihan

Bekraf Buka "Biro Jodoh!"

20 November 2017   04:44 Diperbarui: 20 November 2017   05:14 941 1 0
Bekraf Buka "Biro Jodoh!"
www.bekraf.go.id

Sebentar, Anda mau membaca tulisan ini, emang lagi jomblo ya?  Antusias banget?! Hehehe...

Ya, memang kemarin tanggal 15-16 November 2017 Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) membuka 'biro jodoh', tapi bukan perjodohan antara cowok dan cewek, tapi perjodohan antara para film maker dengan para investor dalam dan luar negeri. ;p  Namanya Akatara: Indonesia Film Financing Forum di Jakarta.

Inilah sebuah event yang telah menjadi sebagian jawaban dari pertanyaan saya tentang peran Bekraf terhadap dunia perfilman dalam hal pembiayaan produksi film. Dan inilah menjadi ruang di mana para film maker 'dijodohkan' dengan para investor. Terlepas dari 'berjodoh' atau tidak, ruang ini menjadi moment penting bagi kedua belah pihak. Di mana para film maker terbuka wawasannya terhadap ruang bisnis film, dan para investor terbuka pula wawasannya tentang prospektus bisnis film. Karena tidak semua investor yang ada mempunyai core business film.

Seperti apa yang telah saya katakan dalam sesi tanya jawab dalam seminar di event tersebut, bahwa saya apresiasi dan 'angkat topi' kepada Bekraf dan BPI (Badan Perfilman Indonesia) yang telah menggelar acara tersebut. Karena ini adalah sebuah langkah terobosan (breaktrough) yang dilakukan oleh pemerintah untuk mendorong kemajuan dunia kreatif, khususnya film yang selama ini belum pernah diadakan. Alias, ini adalah event pertama kali yang digelar.

Selama ini komunitas perfilman tidak semua mempunyai 'kesadaran' bahwa film bisa menjadi ruang bisnis yang prospektif. Masih banyak yang berfikir dalam ruang 'karya', 'karya' dan 'karya'. Ketika karya mereka telah masuk dalam nominasi sebuah festival, seakan telah mencapai 'klimaks' dalam berkarya. Pun demikian dengan para investor, terutama yang tidak mempunyai basic bisnis film, saya yakin sebagian dari mereka masih memandang miring terhadap bisnis film karena dianggap sebuah gambling yang penuh resiko. Maka di moment inilah mereka dipertemukan, sehingga bisa saling bertukar fikiran, berdiskusi, dan mencoba membuka ruang partnership untuk bekerjasama dalam sebuah produksi film.

Para film maker pun 'berjuang' keras untuk menembus 'barikade' penyaringan yang diadakan oleh penyelenggara. Semua bersaing untuk menampilkan ide original yang menarik untuk dimasukkan dalam ruang bisnis film. Selain berhitung dalam kerangka biaya produksi, mereka pun harus bergelut dengan angka-angka dalam menghadapi para investor, agar karyanya masuk dalam kategori prospektif secara bisnis.

 Termasuk harus ada komparasi dengan bunga deposito jika modal para investor tersebut dimasukkan dalam deposito. Di samping itu perlu juga wawasan para film makerpada strategi marketing yang harus ditempuh untuk memasarkan filmnya di ruang publik. Tak mudah memang, apalagi bagi film maker yang belum pernah menyentuh di wilayah dunia bisnis film.

Dari 381 proposal film yang masuk di meja panitia, ada 80 film yang mendapat perhatian khusus dan diundang dalam event tersebut. Dari 80 proposal film itu, diambil 40 film yang diekspose di ruang exhibition. Sedangkan dari 40 film tersebut terdiri dari 28 film dalam kategori terpilih, 10 film kategori destinasi (yang mengekspose destinasi wisata), dan 2 film yang masuk dalam program Torino Film Lab. Kemudian dari 40 film tersebut, diambil 12 film yang menurut panitia layak untuk dipresentasikan di depan para investor.

Bagaimanapun, secara keseluruhan, menurut saya kegiatan Akatara terlaksana dengan baik. Meskipun mungkin masih ada kekurangan di sana-sini. Maka saya sempatkan mencatat beberapa hal yang semoga menjadi masukan yang bermanfaat, di antaranya adalah:

  1. Perlu diketauhi oleh penyelenggara, bahwa memang tidak semua komunitas film maker berkemampuan secara finansial untuk menyiapkan segala persyaratan yang dibuat oleh panitia, karena menyangkut pembiayaan-pembiayaan; mulai pembuatan naskah, riset, sinopsis, treatment, survey lokasi, sampai pada pembuatan teaser film dan pernak-pernik syarat-syarat lainnya.
    Maka menurut hemat saya, untuk tahun depan perlu ruang waktu yang lebih longgar untuk menyiapkan syarat-syarat tersebut, agar teman-teman para film maker bisa lebih baik dalam menyiapkan persyaratan tersebut, 5 sampai 6 bulan misalnya. Dan jika ada film yang memang perlu dibiayai pembuatan teaser-nya, maka perlu di-publish secara terbuka dengan kriteria yang jelas pula, agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial dan kecurigaan di antara film maker.
  2. Seperti dalam pernyataan saya dalam sesi tanya jawab di seminar dalam event tersebut, bahwa perlu mengundang semua Kepala Daerah, baik Gubernur maupun Bupati, termasuk dunia perbankan maupun lembaga pembiayaan yang lain untuk hadir dan mengikuti presentasi dari panitia dan wakil dari film maker yang menjelaskan tentang prospektus film sebagai media publikasi yang baik untuk pengembangan program-program daerah, termasuk promosi destinasi wisata daerah.
     Dan tentu juga tentang film dari perspektif bisnis, agar para kepala daerah juga mengajak para pengusaha daerah untuk hadir dalam event tersebut. Ini semata-mata untuk memberikan ruang yang lebih leluasa pada 'perjodohan' antara film maker dengan calon investor. Bagaimana mengundang mereka para kepala daerah? Serahkan pada Presiden yang telah berkomitmen pada pengembangan film di Indonesia.
  3. Sebagai alternatif bentuk event, mungkin dengan pola exhibition bisa diterapkan. Seperti halnya pola exhibition di dunia kerajinan/mebel. Di mana para film maker mempunyai booth masing-masing dengan produknya masing-masing pula. Sehingga para investor lebih leluasa mengunjungi dan memilih film yang mereka minati. Mengapa ini saya usulkan demikian? Karena saya menganggap 24 calon investor yang hadir masih kurang dalam menghadapi 40 film maker.
    Sehingga pada sesi match making antara film maker dengan para investor, beberapa film maker tampak mengantri dengan jadwal yang sedang disiapkan oleh panitia dan tak jelas kapan dia bertemu investor, dan dengan investor yang mana dia akan bertemu. Termasuk kurangnya waktu yang disediakan. Mungkin jika 4 sampai 5 hari dan dikemas dengan pola exhibitionakan lebih leluasa acara 'perjodohan' ini. Di mana para investor bisa bebas bertemu dan match makingdengan film maker dengan waktu yang longgar, dan disediakan beberapa ruang presentasi untuk mereka meeting.
  4. Perbanyak acara sosialisasi Event(Pre-event)  Akatara di beberapa daerah. Jika kemarin hanya di 3 kota; Jakarta, Makasar dan Surabaya, maka tahun depan bisa lebih banyak lagi. 10 kota misalnya. Sedikit yang menjadi pertanyaan saya adalah, mengapa Bandung dan Jogja yang notabene kota yang banyak film makernya tidak masuk dalam acara Pre-event? Entahlah...
  5. Promosikan event ini melalui ITPC (International Trade Promotion Center) di semua negara yang ada. Agar lebih banyak lagi mendatangkan calon investor.
  6. Siapkan strategi marketing dan sekaligus SDM (Sumber Daya Manusia) para film maker untuk menghadapi para investor. Baik pola presentasinya, pola bisnisnya maupun pola komunikasinya. Agar para investor tidak kecewa.
  7. Seperti halnya dalam pola exhibitiondalam dunia Furnituredan Craft, perlu terobosan (breaktrough) dalam mendatangkan investor. Misalnya pembebasan visa, atau pembiayaan ticketnya untuk datang dalam event ini.
  8. Permudah para investor dalam berinvestasi di dunia film di Indonesia, insentive pajak misalnya. Tentu dengan regulasi yang jelas dari pemerintah.
  9. Perlu dilakukan penyaringan film secara obyektif dan profesional oleh yuri. Di samping itu perlu kejelasan kriteria dan transparansi dalam penyaringan film yang masuk di meja panitia. Karena saya melihat ada beberapa hal yang agak janggal, karena data di dalam katalog tidak lengkap;  1) Ada 6 (enam) film yang datanya  tidak lengkap; yakni ProductionCompany-nya, Total Production Budget-nya, Pemeran (The cast), dan durasinya. 
    2)Bahkan ada film yang tidak adateaser-nya bisa masuk untuk dipresentasikan. Sepertinya ini sepele, tapi mempunyai efek pada kepercayaan (trust)  investor yang akan berinvestasi. Bagaimana menjadi sebuah film yang menarik dan bonafid jika data-data tersebut tidak tercantum? Apalagi mendatangkan investor asing. Pertanyaan selanjutnya: Ada apa ini?
  10. Seperti pada kompetisi-kompetisi pada umumnya, panitia tidak diperkenankan mengikuti kompetisi, karena jelas akan ada conflict of interest. Maka perlu ditegaskan bahwa itu tidak terjadi di panitia penyelenggara baik Bekraf maupun BPI. Sehingga tidak terjadi persepsi, bahwa yang masuk ya"itu-itu lagi."

Itulah beberapa catatan saya tentang acara 'biro jodoh' Akatara; Indonesia Film Financing Forum yang digelar Bekraf dan BPI kemarin. Semata-mata untuk pembenahan dan perbaikan eventAkatara di tahun-tahun mendatang. Dan sekali lagi saya apresiasi kepada Bekraf & BPI yang mempunyai program 'biro jodoh' antara Film Maker dengan Investor. Semoga menjadi event yang menggairahkan dunia perfilman di Indonesia mendatang.

Memang 'jer basuki mawa bea' (setiap usaha tentu dengan 'biaya'), tapi lebih penting lagi niat dan keberpihakan pemerintah pada dunia film, total atau setengah-setengah? Ini yang menentukan kesuksesan acara 'perjodohan' ini yang akan mempunyai multiple effect pada dunia perfilman di Indonesia dan tentu pada ekonomi Indonesia secara umum.

Itu menurut saya, menurut Anda??? ***

Semoga bermanfaat.