Mohon tunggu...
Nurul Muslimin
Nurul Muslimin Mohon Tunggu... Orang Biasa yang setia pada proses.

Lahir di Grobogan, 13 Mei 1973

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Film Drama Musikal "Prajurit Hijau" (FDMPH): di antara Dunia Idealisme dan Industri

20 Juli 2016   02:26 Diperbarui: 20 Juli 2016   02:46 106 0 0 Mohon Tunggu...

Ketika sebuah film masuk dalam dunia industri, sepertinya tak akan lepas dari mainstream pasar. Ini konsekuensi logis dari masuknya dunia seni peran atau mungkin seni yang lain ke dalam dunia bisnis. Meskipun tidak semuanya begitu, karena bisa jadi produksi sebuah film hanya karena motif politik untuk melahirkan propaganda-propaganda. Atau bisa jadi, sebuah film dimasukkan ke dalam ranah industri hanya bertujuan menginginkan scoop publisitas yang lebih luas, karena moral campaign-nya bisa tersebar secara massive kepada publik. Sehingga capaian-capaian yang bersifat materi hanyalah sebagai alat untuk reproduksi kreatif.

Jika saya ibaratkan sebuah kelahiran anak, FDMPH adalah seperti proses kelahiran anak dengan posisi sungsang (posisi tidak normal), dan dilahirkan dengan operasi sesar. Sebuah proses kelahiran posisi kurang normal dan terkesan dipaksakan. Tapi bagi saya, inilah sebuah proses awal yang lebih mengandalkan modal "keyakinan" daripada modal materi. Dan saya berfikiran positif, bahwa tanpa ada kenikmatan yang lebih dahsyat, jika tidak melampaui kendala yang dahsyat pula! Atau dengan kata lain: "Pelaut tangguh dilahirkan dari dahsyatnya gelombang samudera"!

Sebetulnya apa yang saya katakan sebagai sebuah 'keyakinan' adalah simpel, bahwa Film ini dibangun dari sebuah keyakinan akan kebaikan pada publisitas moral campaign yang bertujuan mendidik karakter anak bangsa untuk merawat dan melestarikan alam Indonesia. Itu saja. Maka dengan 'rasa' nothing to loose dan posisi yang kurang menguntungkan dari beberapa sisi, proses produksi itu tetap berjalan.

Saya juga ingin mengatakan bahwa tidak semua film yang masuk dalam kancah dunia industri didominasi oleh 'nafsu' materialistik an-sich. Dan bahwa ada keinginan-keinginan yang lebih dari sekedar material dalam upaya produksi film ini. Karena jika kita lihat materi film ini, tema-nya sederhana, edukasi lingkungan dengan segmentasi anak-anak, dan settingnya pun kehidupan di pedesaan. Sekilas bukan merupakan daya tarik secara bisnis. Atau simpelnya film ini tidak 'seksi' di mata para pebisnis sinema. Namun kembali kepada niat dan keyakinan, bahwa manfaat yang muncul ketika film ini diproduksi, nilainya jauh lebih besar dari sekedar materi yang bisa habis dalam hitungan menit.

Dalam konteks ini, mungkin 'berhala' kapitalisme akan menanyakan satu hal: "apakah film ini menguntungkan?" Tapi bagi saya, pertanyaan yang lebih "bermartabat" adalah: "Bagaimana film ini bisa menyampaikan moral campaign seluas-luasnya kepada generasi muda secara kreatif.? Maka jika pertanyaan ini terjawab, saya yakin, yang terjadi kemudian adalah materi dan nilai kebaikan akan 'menyusul' sesuai dengan kerja keras kita. Dan nilainya lebih besar dari lembaran-lembaran rupiah dibanding dengan hasil nafsu kapitalisme semata.

Di sini terlihat, bahwa antara dunia " kapitalisme" dan "idealisme" terkesan blur dan tak jelas. Tetapi bagi saya yang perlu ditegaskan adalah bagaimana 'menata hati' sebuah niat yang tulus untuk satu kata; "manfaat". Itu saja. Selanjutnya penilaian bergantung pada Anda, akan menilai dengan pisau analisa positif atau negatif.

Karena film ini lahir begitu saja setelah melampaui berbagai persoalan teknis, dan efeknya adalah " harus lahir" meski berdarah-darah melalui "operasi sesar". Namun kembali kepada keyakinan, bahwa besarnya pengorbanan tak sebanding dengan "manfaat" yang akan kita dapat. Tentu manfaat yang lebih besar menjadi pilihan.

***

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x