Humaniora

E-Hate dan Kerusakan Sistem

7 September 2017   10:10 Diperbarui: 7 September 2017   10:18 875 2 0

Jakarta, CNN Indonesia -- Kondisi politik di era pemerintahan Joko Widodo membuka peluang tumbuhnya bisnis penyebaran kebencian di dunia maya. Bisnis yang dikenal dengan istilah e-hate ini bukanlah barang baru.

Pelaku bisnis e-hate mengeruk keuntungan dengan cara memprovokasi lewat berita-berita bohong (hoax) yang secara terus menerus diproduksi sesuai pesanan. Mereka menyebarkan konten-konten yang menyudutkan suku, agama, ras, atau pandangan politik yang berlawanan dengan si pemesan.

Indonesia, menjadi sasaran empuk pelaku-pelaku bisnis kebencian yang memiliki daya rusak sangat besar untuk persatuan negara.

Di Indonesia, bisnis kebencian mulai nyata. Pelakunya, sindikat Saracen.

Polisi menangkap tiga orang pengelola Saracen. Lewat media sosial, seperti Facebook, dan twitter Saracen menyebarkan konten berisi ujaran kebencian. Bahkan, Saracen mengelola situs berita khusus untuk memuaskan pemesan.

Kepolisian membenarkan, konten bermuatan SARA yang disebarkan sindikat Saracen merupakan pesanan dari pihak tertentu. Mereka tarif puluhan juta untuk setiap konten yang mereka produksi dan sebarkan.

Tak tanggung-tanggung, Saracen memiliki ratusan ribu akun media sosial yang siap menggerakan konten-konten provokasi itu, sehingga berseliweran di jagat maya.

Menurut pengamat media sosial Nukman Luthfie menyebut maraknya bisnis kebencian itu, tidak bisa dilepaskan dari panasnya situasi politik di Indonesia.

Nukman berpendapat selalu ada pihak yang tidak suka kepada pihak lain, bisa pemerintah, partai politik, tokoh politik, agama, hingga suku tertentu.

"Pasar itu ada, kemudian diisi oleh orang-orang yang berani supply konten-konten yang dipesan sama mereka," kata Nukman saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (24/8).

Menurut Nukman para pembuat konten ujaran kebencian itu paham betul adanya peluang di pasar tersebut.

Nukman menuturkan, para pembuat konten ujaran kebencian tersebut tidak peduli terhadap latar belakang pemesan konten. Meski berbeda ideologi, agama, suku, asalkan si pemesan mampu membayar, mereka akan melayaninya.

"Tidak peduli ideologi, bisa sekarang melayani A, pada saat bersamaan bisa melayani lawan dari A," ucapnya.


***

Dalam sistem kapitalisme, setiap hal terlihat menguntungkan.

Tak peduli baik atau buruk yang di lakukan, semua akan diupayakan selama dipandang dapat memberikan keuntungan. Bahkan Polarisasi politik yang menguat di era rezim jokowi dimanfaatkan secara tidak bertanggung jawab oleh sebagian "orang pintar" sebagai sebuah ladang bisnis.

Namun bukan "orang-orang pintar" ini saja yang kita persalahkan, sebab tak mungkin seorang berjualan jika tidak ada market nya, tak ada pihak yang juga diuntungkan atas pelayanan jasa mereka. Isu-isu Hoax bertebaran, mengaburkan yang benar dan membenarkan yang salah.

Efeknya adalah masyarakat kehilangan jati dirinya dan terombang-ambing bahkan terjebak dalam framing keliru dan gagal paham. Menciptakan ketakutan-ketakutan yang tidak alami dalam benak masyarakat terhadap sesuatu yang sejatinya baik. Terlihat jelas bahwa framing yang berusaha dibangun ditengah masyarakat saat ini merupakan upaya sistemik yang dipaksakan untuk mengaburkan pandangan masyarakat terhadap segala  kedzaliman yang dilakukan oleh rezim dan kebobrokan sistem pemerintahan yang diterapkan saat ini yakni demokrasi .

Semua framing ini di topang oleh media-media mainstream yang diperkuat dengan pasukan cyber yang siap dibayar untuk menghembuskan isu-isu hoax dan ujaran kebencian.Lalu memanfaatkannya sebagai "fakta" yang bisa diangkat   dalam menciptakan framing tersebut. Setiap ujaran kebencian yang di hembuskan baik ditujukan untuk pemerintah, individu maupun kelompok / partai semua di sarat akan kepentingan politik dan rezim yang berkuasa.

Melindungi sikap buruk mereka agar tetap terlihat baik, sebaliknya mencitra burukkan setiap yang menentang mereka dengan framing opini yang dibuat-buat. Alih-alih memberikan rasa aman bagi rakyat, sistem kapitalisme demokrasi justru membuka jalan lebar untuk berkembangnya "kreatifitas kebablasan" dalam mencari keuntungan.

Tidak ada tolok ukur yang jelas dalam berpikir dan berbuat, walhasil etika moral bukan lagi suatu yang sakral namun sekedar jadi bahan bualan. Semua keburukan akhirnya serba bebas eksis di negeri ini. Terbukti sistem demokrasi telah gagal menaungi masyarakat dalam segala aspek, menciptakan ketakutan dan ketegangan dihati masyarakat setiap harinya, membuka pintu bagi kriminalitas untuk terus berkembang.

Akan percuma setiap sanksi yang diberlakukan ketika sistem yang diterapkan justru tak henti memberi peluang yang 'memaksa' masyarakatnya untuk bermaksiat.

Karena sehebat apapun manusia membuat sebuah aturan, ada sudut-sudut yang tidak bisa kita pantau dan ada hal yang tidak bisa kita jamin, yaitu barokah dan rahmat.

Maka solusi satu-satunya untuk menutup pintu kerusakan serta menyelamatkan indonesia dan dunia hanyalah dengan menerapkan syariat islam yang berasal dari dzat yang Maha Mengenali MakhlukNya yang Maha Rahmat, adil dan bijaksana, yakni syariat Allah Azza wa jalla.


(Alifah Arrahmah - Praktisi Kesehatan)