Mohon tunggu...
Nurul Fahmy
Nurul Fahmy Mohon Tunggu... -

Selalu banyak mimpi...Berdomisili di Jambi. Suka membaca, tapi sedikit menulis...

Selanjutnya

Tutup

Nature

Banjir di Hulu, Berkah di Hilir

23 November 2013   23:36 Diperbarui: 24 Juni 2015   04:45 283
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Hobi. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Rawpixel

Sama seperti daerah-daerah lain di Indonesia, banjir di Jambi akhir Desember 2012 hingga pertengahan Januari 2013 kemarin juga merupakan peristiwa yang terus berulang dalam siklus 10 tahunan atau lebih. Banjir besar pertama yang terekam dalam memori kolektif masyarakat Jambi terjadi pada 1955.

Banjir besar itu menenggelamkan bantaran sungai hingga meluber ke jalan-jalan dan pusat pertokoan dalam Kota Jambi. Banjir besar di Jambi tahun itu yang terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah Jambi.

Dalam foto-foto klasik yang beredar di masyarakat bertahun 1955, dijumpai gambar air sudah meluap hingga ke kawasan Bioskop Duta--kini sudah menjadi Hotel Duta, Pasar Loos, Simpang Bata dan areal di sekitarnya. Namun kerugian tidak dapat ditaksir. Banjir kemudian berulang lagi pada 1967, 1991/1992 dan 2003. Kerugian paling besar yang tercatat terjadi pada banjir 2003 ini yang diperkirakan mencapai Rp 450 milyar.

Aktivis lingkungan menuding penyebab banjir akibat kerusakan lingkungan dan pengundulan hutan di bagian hulu karena aktivitas penebangan liar (illegal Logging) oleh berbagai kegiatan baik perorangan, kelompok maupun korporasi.  Kesimpulan ini bisa jadi sangat mungkin. Sebab, hutan sebagai kawasan resapan air di Uluan Jambi sudah rusak.

Luas hutan di Jambi terus berkurang selama 20 tahun terakhir. Saat ini, hutan Jambi hanya tersisa 1,3 juta hektare. Padahal pada 1990-an, luas hutan di daerah ini masih mencapai 2,4 juta hektare. Dari tahun 2011 hingga tahun 2012 ini saja, kerusakan hutan di Jambi setidaknya telah mencapai 20 ribu hektare.  Tahun 2012/2013 ini, hampir seluruh wilayah Ulu Batanghari (Jambi wilayah Barat), yang terdiri dari lima kabupaten mengalami banjir.

Sementara banjir di wilayah Ilir Batanghari, Kota Jambi, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, termasuk sebagian Muaro Jambi dan Batanghari merupakan banjir kiriman dari wilayah Ulu dan sebagian adalah banjir rob.

Sungai dangkal

Namun pengundulan hutan Jambi bukan satu-satunya penyebab banjir. Berdasarkan catatan-catatan kolonial, Daerah Aliran Sungai Batanghari sejak abad ke 17 memang dangkal dan mudah banjir. Di daerah Tembesi, Kabupaten Batanghari, di salah satu pertemuan Batang Tembesi dan Sungai Batanghari, ketinggian air sungai kadang-kadang hanya sampai 1 meter pada musim kemarau antara April dan Oktober.

Dalam kurun itu, debit air rendah juga memutus jalur antara Jambi Ulu dan Ilir. Dalam pada itu, dasar sungai kadang ditanami oleh warga dengan tumbuhan muda, seperti jagung, cabai dan sebagainya hingga masuk musim penghujan. Selain ditanami, dasar sungai yang menjadi padang pasir itu acap pula dijadikan lapangan sepak bola atau voli oleh warga sekitar. Namun sebaliknya pada musim hujan, genangan air sungai yang meluap mencapai beberapa kilometer meluar ke perkampungan warga.

Dalam memorandum penyerahan jabatan dari Residen J.R.F Verschoor van Nisse tahun 1931 disebutkan, bahkan ketika kapal-kapal bisa melayari sungai, mereka harus melaju sangat pelan. Sebuah kapal kincir pada tahun 1920 bahkan membutuhkan waktu sampai empat puluh delapan jam untuk menempuh jarak sekitar seratus kilometer dari Kota Jambi ke Muara Tembesi.

Selain dangkal, kondisi DAS Batanghari di wilayah hilir pada dasarnya memang rawan longsor, karena kondisi tanah masih tahap stadium muda. Longsor yang acap terjadi inilah yang menyebabkan pendangkalan-pendangkalan sungai, karena material longsor langsung mengendap di dasar sungai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun