Mohon tunggu...
Nur Fajar Absor
Nur Fajar Absor Mohon Tunggu... Dosen - Penulis Pemula

Dosen, Sejarawan, dan Penulis Artikel. Email: nurfajarabsor@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Komedi sebagai Media Kritik: Suatu Tinjauan Historis

4 Juli 2020   11:26 Diperbarui: 4 Juli 2020   11:16 399
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Hal ini penulis mulai dengan kisah Cak Durasim yang merupakan seniman ludruk asal Surabaya. Saat pendudukan Jepang, ia merupakan sosok yang diburu oleh tentara Jepang, karena kidungnya yang membuat resah tentara Jepang. Kidung tersebut berisi 'Pagupon omahe doro, dijajah Nippon tambah soro' yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti 'Rumahnya burung dara, ikut Jepang tambah sengsara' yang dimaksudkan bahwa Indonesia seperti rumah burung dara yang dalam hal ini berarti penjajah datang dan pergi, namun lebih sengsara lagi ketika dijajah oleh Jepang. Gara-gara guyonan inilah Cak Durasim dibunuh oleh tentara Jepang ketika ia sedang pentas di atas panggung dengan sebilah katana (Utomo, 2018).

Komedi sebagai media kritik semakin relevan ketika Warkop DKI yang mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah Orde Baru. Bahkan, lagu 'Ngobrol di Warung Kopi' yang sering terdengar di sela-sela film Warkop DKI secara tersirat mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah Orde Baru melalui warung kopi yang merupakan tempat rakyat kecil biasa 'nongkrong'. Berikut petikan liriknya:

                           Nongkrong di warung kopi

                           Nyentil sana dan sini

                           Sekedar suara rakyat kecil

                           Bukannya mau usil

                           Sambil minum kopi ngobrol sane-sini

                           Sambil ngaduk-ngaduk kopi

                           Eh jangan bawa ke hati (ke jantung bolehlah)

                           Boleh kita berbeda pilih pemimpin (asal yang bener)

                           Tapi kalau NKRI sudah harga mati (gak bisa ditawar)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun