Mohon tunggu...
Suprihati
Suprihati Mohon Tunggu... Administrasi - Pembelajar alam penyuka cagar

Penyuka kajian lingkungan dan budaya. Penikmat coretan ringan dari dan tentang kebun keseharian. Blog personal: https://rynari.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengomel dengan Elegan dan Produktif

14 Februari 2020   22:04 Diperbarui: 14 Februari 2020   22:44 380
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Mengomel dengan Elegan dan Produktif (olahan powerpoint)

"Seringkali mengomel bikin produktif, lho Bunda", demikian komentar K'ner Padika pada artikel yang mengulas lirik kudune ra usah ngomel. Weladalah, bagaimana mengomel mengungkit produktivitas? Apalagi dikemas secara elegan.

Mengomel dengan elegan

Mengomel berasal dari kata dasar omel. Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), omel berarti marah dengan banyak mengeluarkan kata-kata. Senada dengan kata mencomel, bersungut-sungut, gusar, dan menggerutu.

Mengacu pengertian tersebut, seseorang pencomel yang suka mencomel kurang disukai di lingkungan sekitar. Menguarkan aura negatif bahkan menuju kontra produktif. Menurunkan semangat kerja kolektif.

Menilik salah satu alasan mengomel adalah kepedulian dan keprihatinan yang sangat. Nah ini mengomel aliran positif. Tetap dengan bombardir kata-kata.

Kata-kata tidak selalu diserukan dengan nada marah, ada kalanya membujuk. Pun tidak senantiasa bersifat oral lisan. Dapat dikemas dalam bentuk tulisan, disampaikan secara elegan.

Jadilah mengomel dengan elegan. Mari kita telaah, betapa media Kompasiana juga menjadi ladang tumbuhnya bibit artikel yang berawal dari 'mengomel dengan elegan'. Kompasiana mengakomodasi olahan 'omelan' aneka rasa. [semoga saya tidak disemprit admin]  

Mengomel dengan elegan dan produktif

Mengomel yang bertolak dari kepedulian, rasa sayang akan sesuatu, mengungkit produktivitas. Gelombang kata dan cara ditata untuk mencapai suatu tujuan. Tidak mempan sekali gerakan diulangi dengan variasi yang lain. Menjadi gebrakan berdaya.

Memacu produktivitas juga dibarengi dengan kreativitas. Agar 'omelan' tepat sasaran. Meracik strategi mengomel elegan secara efektif dan efisien.

Semisal, keprihatinan akan berita hoax. Melahirkan aneka pendekatan pemahaman arti hoax. Bagaimana menangkal hoax. Literasi hoax secara holistik. Merambah kreativitas dan produktivitas.

Bung TePe mengomel dengan elegan dan produktif

Tanpa mengurangi rasa hormat, mari kita intip bagaimana K'ner Tilaria Padika (Bung TePe) mengomel dengan elegan dan produktif. Dalam waktu singkat kurun kurang 24 jam memuntahkan barisan kata.

Semua dibingkai dalam masa valentine. Pemilihan masa yang unik, di hari kasih sayang beliau sibuk 'mengomel'. Seolah membingkai mengomel wujud kasih sayang. Mencermati tiga (3) artikel bertemakan valentine dengan aneka muatan.

Artikel pertama diposkan dengan titimangsa 13 Februari 2020 pukul 20:24. Mawar Valentine Terakhir Terlambat Tiba. Memilih kemasan cerpen. Mari simak eloknya 'omelan' beliau. Mencium aroma omelan kepedulian ekses penanaman modal asing. Tumbal dinamika sosial melalui pewakil Anik dan Somad. [Belum tentu tafsiran saya benar, mari simak sumber aslinya]

'Omelan' kedua bertajuk Valentine Almirah, Gadis Penjual Bunga. Diposkan 14 Februari 2020, 07:13. Kembali digunakan cerpen untuk wadah mengomel. Guliran cerita manis, selalu kagum dengan kelincahan beliau menata diksi. Sering tersesat di rimba belantara keilmuan beliau.  Makbedunduk terkesiap dengan telikungan beliau di akhir cerita. Woow.....

Valentine Bukan Budaya Kita! Omelan dalam format puisi, berpenanda 4 Februari 2020, 10:45. Wuih, judulnya saja menggunakan tanda seru (!), apalagi kalau kita baca syairnya. Bertebaran tanda seru (!) meramu rentetan comel yang ditembakkan ke segala penjuru. Lah, simbok kebun juga sok merasa kena semprot, hehe.

Nah, Bung TePe membuktikan hipotesis, mengomel membikin produktif sekaligus kreatif. Pastinya banyak tafsir dari keluasan dan kedalaman 3 artikel beliau yang disampaikan secara padat. Ini hanya kedangkalan pemahaman simbok kebun sok berani menyodok beliau, begawan tlatah matahari terbit.

Mari mengomel dengan elegan dan produktif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun