Mohon tunggu...
Noenky Nurhayati
Noenky Nurhayati Mohon Tunggu... Guru - Kepala sekolah, Pendongeng, Guru Dan trainer guru

Saya adalah seorang penulis lepas, teacher trainer, MC, pendongeng dan kepala sekolah yang senang mengajar Karena memulai Dunia pendidikan dengan mengajar mulai dari Play group TK SD hingga SMP. Sampai sekarang ini. Saya masih aktif mengajar disekolah SD N BARU RANJI dan SMP PGRI 1 Ranji , Merbau Mataram. Lampung Selatan. LAMPUNG. Saya juga pernah mendapatkan beberapa penghargaan diantarainya Kepala sekolah TK terbaik Se Kabupaten Bekasi, Kepala Sekolah Ramah Anak Se Kabupaten Bekasi, Beasiswa Jambore Literasi Bandar Lampung Tahun 2023 dan Beasiswa Microcredential LPDP PAUD dari Kemendiknas tahun 2022.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Polemik Study Tours, Siapa Untung dan Siapa Rugi Kemudian Mencaci?

16 Mei 2024   21:46 Diperbarui: 18 Mei 2024   02:16 470
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Berada dipenghujung akhir tahun ajaran baru, lumrahnya disetiap sekolah pasti akan menyelenggarakan kegiatan jalan-jalan yang banyak disebut dengan istilah yang beragam. Outing class, Field trip, Perpisahan kelas, study tour, rekreasi sekolah, akhirrusunnah, dan masih banyak lagi istilah lainnya dengan mengusung tema dan konsep yang berbeda pula.

Bulan April, Mei hingga Juni adalah bulan-bulan yang banyak digunakan biasanya oleh sekolah dalam rangka melaksanakan kegiatan study tour. Kegiatan study tour sekolah itu sendiri mulai banyak dilaksanakan oleh sekolah-sekolah sekaligus dalam rangka perpisahan kelas. Siswa yang akan lulus seperti siswa kelas 6 di SD, siswa kelas 9 di SMP, dan siswa kelas 12 di SMA yang awalnya dilaksanakan di sekolah masing-masing, kemudian mulai juga dilaksanakan dengan dikemas pada kegiatan jalan-jalan atau study tour.

Namun akibat adanya kecelakaan maut bus yang membawa rombongan siswa SMK Linggar Kencana di Ciater, Subang, Jawa Barat pada Sabtu 11 Mei 2024, memunculkan banyak polemik terhadap pelaksanan kegiatan study tour atau perjalanan pariwisata bagi siswa sekolah. Terjadinya banyak pro dan kontra terhadap pembatasan bahkan pelaksanaan kegiatan study tour khususnya ke luar kota di banyak sekolah-sekolah dan daerah rawan terhadap kecelakaan.

Kecelakaan yang terjadi saat melaksanakan kegiatan sekolah seperti study tour ini, rasanya tidak hanya terjadi pada saat ini saja. Beberapa kali dan beberapa sekolah sebelumnya juga pernah mengalami kecelakaan yang beragam seperti tenggelamnya kapal atau perahu yang ditumpangi siswa saat mengadakan study tour, kecelakaan saat melakukan kegiatan study tour baik itu kendaraan maupun hal lain atau dengan aktivitas olahraga seperti arung jeram, ketangkasan, renang, dan masih banyak lagi lainnya.

Namun mengapa kecelakaan saat melaksanakan study tour yang saat ini terjadi mendapat banyak sorotan tajam, bahkan hujatan dan makian yang ditujukan pada khususnya ke guru dan sekolah sebagai pelaksana kegiatan study tour?.

Beberapa polemik pelaksanaan kegiatan study tour yang bisa dirangkum misalnya :

  • Bahwa jalan-jalan ke luar sekolah mengandung banyak resiko baik itu keselamatan siswa maupun kenyamanan pelaksanaannya
  • Jalan-jalan ke luar sekolah membebani keuangan wali murid.
  • Kegiatan jalan-jalan ke luar sekolah atau study tour hanya menguntungkan pihak guru dan sekolah karena mengutip dari uang pelaksanaan kegiatan.

Tapi tahukah para orang tua dan pembaca? Bahwa sebenarnya kegiatan study tour merupakan kegiatan diluar kelas yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mempelejari proses yang sebenarnya langsung terjadi dari lapangan. Hal ini sekaligus sebagai pembuktian apakah hal-hal yang telah diajarkan didalam kelas sesuai dan benar adanya seperti yang telah disampaikan. Study tour diadakan karena kebutuhan  siswa untuk mendapatkan pengalaman secara langsung. Saya ingat sekali sebagai guru mata Pelajaran PKn untuk siswa SMP, kami belajar tentang perjanjian Linggar jati dimana kemudian kami bersama-sama membuktikan Sejarah terjadinya Perjanjian Linggar jati dengan pergi study tour ke daerah Kuningan, Jawa Barat tempat terjadinya perjanjian Linggar jati. Hal inilah yang mendukung Sebagian ide dilaksanakannya study tour untuk diadakan karena tidak mungkin menghadirkan setiap peristiwa kedalam kelas untuk dipelajari dan diamati.

Jika berbicara untung dan rugi, maka kami sebagai guru pun tidak merasa bahwa kami mendapatkan untung yang lebih dari dilaksanakannya kegiatan tour oleh sekolah. Apakah setelah pelaksanaan kegiatan study tours banyak guru-guru sekolah yang meningkat harta kekayaannya seperti para pejabat yang melakporkan harta kekayaannya ke LHKPN? Resiko sebagai bagian dari sebuah keluarga yang meninggalkan rumah dan mengawasi siswa yang notabene adalah anak dari orang tua siswa tentu bukan sebuah perkara yang mudah. Belum lagi rasa Lelah untuk senantiasa mendampingi siswa memberikan pemahaman dan pembelajaran mulai dari pengetahuan, sikap, perilaku hingga keamanan dan keselamatan. Semua itu dilakukan untuk mendekatkan anak-anak kepada kehidupan nyata baik itu tentang Sejarah, fakta, maupun ilmu. Dan bahwa study tours memunculkan hal-hal baru bagi siswa dan guru maupun sekolah untuk meningkatkan kegiatan pembelajaran.  

Jika memang Study tours tidak diperkenankan untuk dilaksanakan, apakah faktanya study tours tidak memiliki manfaatnya?

Yuk coba kita tinjau beberapa manfaat dari pelaksanaan kegiatan study tour berikut ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun