Mohon tunggu...
Nyak OemarAyri
Nyak OemarAyri Mohon Tunggu... Mahasiswa

| ᴄʜᴏʀᴇᴏɢʀᴀᴘʜᴇʀ | ᴀʀᴛ ᴇɴᴛʜᴜsɪᴀsᴛs | ᴾᴬᴿᵀ ᴼᶠ L.A.P ᴇɴᴛᴇʀᴛᴀɪɴᴍᴇɴᴛ | nyak.umar13@gmail.com | ACEH | INDONESIAN |

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Dengan Beribadah Imunitas Bertambah

18 Januari 2021   22:05 Diperbarui: 18 Januari 2021   22:05 91 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dengan Beribadah Imunitas Bertambah
Illustrated by https://sampit.prokal.co

Info terbaru mengenai penyebaran virus Covid-19 di Indonesia telah menyentuh angka sedikitnya 882.418 kasus positif pada Senin (18/01/2021). Penyebarann virus ini begitu cepat, terutama ditransmisikan melalui droplet (percikan air liur) yang dihasilkan saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau mengembuskan nafas. Droplet ini terlalu berat dan tidak bisa bertahan di udara, sehingga dengan cepat jatuh dan menempel pada lantai atau permukaan lainnya. Kita dapat tertular saat menghirup udara yang mengandung virus jika kita berada terlalu dekat dengan orang yang sudah terinfeksi Covid-19. Kita juga dapat tertular jika menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut kita.

Sampai saat ini, pemerintah telah mengumumkan secara resmi bahwa status pandemi Covid-19 sudah pada level bencana nasional. Disusul dengan adanya pegakuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang memberikan pernyataan bahwa penanganan Covid-19 di Indonesia terhambat karena disebabkan adanya keterbatasan, baik dari segi peralatan maupun ruangan khusus untuk penanganan pasien yang terpapar virus ini. Pengakuan ini seolah memperburuk kondisi yang tengah melanda negeri ini, keterbatasan yang dimaksud meliputi tenaga medis, rumah sakit (RS), hingga alat kesehatan.

Keadaan ini seolah menampar kita yang selama ini tidak peduli dan terkesan cuek terhadap nilai-nilai keimanan, di tengah musibah yang melanda saat ini orang-orang mulai sibuk mencari di mana eksistensi dari nilai Ketuhanan itu. Banyak dari kita yang masih tidak sadar bahwa ini merupakan bentuk teguran dan kasih sayang Allah Subhanahu wa ta'ala. Pandemi ini mengajarkan kita kembali bagaimana caranya untuk mengakui kesalahan kita di hadapan-Nya, mengajarkan kita untuk kembali sujud dan menyerahkan diri, serta mengajarkan kita untuk bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah Subhanahu wa ta'ala kepada kita.

Dalam sehari kita mendengar lebih dari ratusan jiwa melayang akibat keganasan virus covid-19 ini, kebijakan berupa larangan berkumpul dan melakukan ibadah secara berjamaah di masjid/mushala bagi wilayah zona merah akhirnya dikeluarkan oleh pemerintah, sebagai upaya pencegahan munculnya klaster baru dari virus ini. Ketika keadaan telah sedemikian rupa, barulah kita sadar bahwa betapa nikmatnya beribadah secara berjamaah di masjid/mushala. Namun saat ini sudah saatnya kita memandang ke depan, kesalahan yang lalu harus segera kita perbaiki. Pandemi bukanlah suatu halangan dalam meningkatlan kualitas keimanan kita, justru hal ini seharusnya menjadi bahan renungan dan menyadarkan kita akan betapa singkatnya hidup ini jika hanya digunakan untuk mengejar ambisi duniawi.

Pada hakikatnya Allah Ta'ala sudah menjelaskan dalam Al-Qur'an apa yang menjadi tujuan kita hidup di muka bumi ini. Cobalah kita membuka lembaran-lembaran Al-Qur'an dan kita jumpai pada surat Adz Dzariyat ayat 56. Di sana, Allah Ta'ala berfirman :

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz Dzariyat: 56)

Jelas sekali pada ayat tersebut memberikan informasi tujuan kita diciptakan agar kita beribadah dan taat kepada Allah Ta'ala. Namun pada kenyataannya, sebagian besar dari kita memilih ingkar tak menghiraukan perintah-Nya. Pandemi Covid-19 ini adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga, di sini kita mulai menyadari bahwa selama ini kita telah mengabaikan sesuatu yang sebenarnya memiliki impact  positif bagi tubuh dan psikologi kita sendiri. Dalam praktiknya ibadah shalat dan dzikir dianggap oleh kita semua hanya sebatas kewajiban, sehingga dengan pola berpikir yang demikian, menjadikan kita berat untuk melaksanakan ibadah tersebut. Padahal fakta sebenarnya, ternyata shalat dan dzikir memiliki hikmah yang begitu besar yang jarang diketahui oleh kita semua.

Ibadah shalat dan dzikir ternyata dapat berperan sebagai terapi religi yang manjur, demi membangun imunitas diri agar terhindar dari Covid-19. Shalat ialah ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan membaca takbir bagi Allah dan disudahi dengan mengucap salam (Sayyid, 2004). Berzikir kepada Allah adalah ibadah sunnah yang teramat mulia. Dzikir adalah peringatan doa yang paling tingggi, yang di dalamnya tersimpan berbagai keutamaan dan manfaat yang besar bagi hidup dan kehidupan kita. Bahkan kualitas diri kita di hadapan Allah sangat dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitas dzikir kita kepada-Nya (Primadona, 2010).

Terdapat efek psikologis yang besar dalam ibadah shalat, ketika seorang menunaikan ibadah shalat dengan khusyu', maka hal tersebut akan membantunya melakukan meditasi dan konsentrasi, yang merupakan cara paling penting untuk mengatasi ketegangan dan kelelahan urat syaraf. Begitupula shalat merupakan pengobatan yang paling efektif dari penyakit marah, terburu-buru dan ceroboh, mengajarkan kepada manusia bagaimana menjadi orang yang tenang dan rendah hati serta tunduk kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, mengajarkan kepada manusia untuk sabar dan tawadhu'. Ini semua dapat memberikan pengaruh yang baik pada system saraf dan kerja jantung, mengatur detaknya dan aliran darah melaluinya. Dan shalat dapat membantu orang beriman menghilangkan semua yang tersimpan dalam perutnya seperti depresi, kegelisahan, ketakutan dan emosi diri, karena semuanya akan hilang dengan banyak berdzikir dihadapan Allah, sesungguhnya Allah selalu bersama kita dan tidak akan meninggalkan kita selama kita semua tulus dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Dzikir menjadi sebuah terapi dalam pelaksanaannya dalam bentuk sebuah meditsi, dengan melakukan meditasi dzikir membuat individu bisa memahami dengan tepat setiap perubahan-perubahan jiwa, timbul tenggelamnya kombinasi faktor-faktor jiwa yang sehat dan tidak sehat, kemudian berusaha memunculkan faktor-faktor jiwa yang sehat sehingga menekan faktor-faktor jiwa yang tidak sehat. Meditasi dengan berdzikir juga meningkatkan perluasan kesadaran individu untuk menyadari perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya, dan meningkatkan kemampuan diri untuk mampu menyadari konflik-konflik terpendam dalam dirinya, pengalaman-pengalaman yang direpresikan di alam bawah sadar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x