Mohon tunggu...
Nita Haryanto
Nita Haryanto Mohon Tunggu... Penulis - all is well

talk less, do more!

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Jurnalisme Kesehatan dalam Media Online

9 Oktober 2018   07:46 Diperbarui: 9 Oktober 2018   14:42 1004
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://www.google.co.id/search?safe=strict&biw=1366&bih=651&tbm=isch&sa=1&ei=Plm8W6DhJMTSvwTTz5bwCQ&q=health+news&oq=health+ne&gs_l=img.3.0.0j0i30k1l9.11110.13895.0.15598.15.12.0.1.1.0.169.1398.0j10.10.0....0...1c.1.64.img..5.10.1288.0..35i39k1j0i67k1.0.uEkQ_cVH4b8#imgrc=SI951ah7S2fTRM:



Manusia tanpa badan yang sehat tentunya tidak dapat beraktifitas dengan baik. Pada tahun 2018 ini, kemajuan teknologi sudah sangatlah pesat, bahkan kita tidak perlu ke dokter lagi untuk mencari tahu tentang suatu penyakit, hanya duduk santai, menyalakan smartphone lalu klik aplikasi kesehatan. Kali ini, saya akan membahas mengenai jurnalisme kesehatan dalam era digital serta tingkat kredibilitasnya. Tentunya bahasan ini sangatlah penting bagi kita karena hal ini menyangkut tentang kesehatan manusia, jika salah informasi dan kita tidak dapat mengetahui kebenaran artikel keshatan tersebut, maka kemungkinan terburuk adalah nyawa yang akan menjadi taruhannya. Sebelumnya kita perlu mngetahui mengenai jurnalisme kesehatan, tentang apa yang ada di balik jurnalisme kesehatan. Jurnalisme kesehatan ialah medium penyebaran pesan kesehatan (Santana, 2017: 14). Jadi peran dari jurnalisme kesehatan disini yaitu membantu Gerakan Kesehatan Masyarakat sehingga informasi yang dihasilkan dapat masuk ke ruang publik.

Hal yang disayangkan disini adalah jurnalis-jurnalis yang menulis informasi kesehatan bukanlah orang kesehatan alias dokter atau ahli kesehatan yang memang berpendidikan di bidang kesehatan. Seperti yang sudah dijelaskan di awal bahwa jurnalisme kesehatan merupakan suatu media yang dalam hal ini hanyalah suatu lembaga jurnalisme. Mungkin ini yang perlu digaris bawahin. Mulai dari sini pun sudah muncul konflik tentang kredibilitas terkait dengan informasi berita kesehatan karena adanya anggapan bahwa jurnalisme kesehatan hanyalah sebuah lembaga/ perkumpulan para waratawan kesehatan yang tidak memiliki keahlian kesehatan. Namun sebelum menuju ke ranah tersebut, mari kita selesaikan bahasan kita.

Memang, orang yang berkerja sebagai jurnalisme kesehatan merupakan pekerja media. Seperti layaknya orang media yang hanya memiliki kemampuan pemberitaan terkait berita kesehatan. Tentu saja mereka (jurnalis kesehatan) hanya mampu mengemas berita kesehatan supaya dapat dikonsumsi oleh khalayak umum. Jurnlisme kesehatan memiliki peran dalam menstimuluskan pesan kesehatan yang nantinya akan berpengaruh terhadap perilaku kesehatan. Dari berita kesehatan, masyakarat mendapatkan sugesti-sugesti rasional untuk menimbang berbagai persoalan kesehatan yang ada. Masyarakat akan diberikan informasi mengenai resiko, keuntungan, karakteristik dan lain halnya sehingga berita kesehatan masuk ke dalam kesadaran hidup keseharian masyarakat.

Banjirnya informasi membuat masyarakat memahami mengenai persoalan kesehatan mereka, cara mengatasi dan diajak untuk mencermati lingkungan sekitar. Apakah mereka hidup di lingkungan yang terjaga kesehatannya termasuk sarana dan prasarana kesehatan publik. Jika teman-teman berpikir bahwa jurnalisme kesehatan ini sama dengan laporan ilmiah itu salah . Jika dilihat mungkin secara sekilas, laporan ilmiah lebih menggunakan bahasa medis yang susah dipahami orang awam sedangkan jurnalisme kesehatan (berita kesehatan) lebih memberikan refensi bagi pembacanya karena lebih memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari, apa perkembangan medis dan riset-riset terbaru. 

Berita kesehatan rentan dengan iklan yang mana pada sisi ini tentunya banyak industri farmasi dan kesehatan yang mengincar portal berita tertentu sebagai sarana promosi produk mereka karena dianggap memiliki daya tarik yang besar terhadap pembaca. Daya tarik yang penting disini karena biasanya bahasa medis sulit untuk dimengerti namun dalam hal ini para wartawan kesehatan ini menerjemahkannya kedalam bahasa sehari-hari yang mudah ditangkap. Namun ini menjadi tantangan pula bagi para wartawan untuk mau tidak mau walapun ia bukan ahli medis, ia harus paham. Alur yang dilakukan wartawan berita dalam menyusun berita kesehatan yaitu dengan wawancara. Wawancara disini pun diambil dengan dua sudut pandang yaitu yang pertama dengan mewawancarai tenaga ahli seperti dokter, perawat, juru bicara perusahaan farmasi, administrator rumah sakit dan orang-orang yang tahu menahu dalam dunia kedokteran. Kemudian wartawan akan mencari tahu dengan mewawancara orang-orang awam yang terkait dengan berita yang nantinya ingin diangkat, sehingga sumber berita tidak hanya bersumber dari satu sudut pandang saja namun dari banyak sudut pandang. Setelah itu barulah berganti pada berbagai detail permasalahan. Untuk itu, para wartawan saling berkumpul untuk dapat bertukar pemikiran seperti contohnya dalam perkumpulan Association of Health Care Journalist dan lainnya.

Mungkin disini teman-teman juga bertanya-tanya tentang darimana ide berita itu muncul? Jadi, ide berita itu muncul dari kegiatan lembaga mayarakat seperti lembaga kanker, jatung sehat. Jika di awal kita mengetahui lebih dalam mengenai berita kesehatan maka di sini saya akan membahas terkait berita kesehatan yang ada dalam platform online yang mana dalam hal ini tentunya sangat mempermudah. Berita yang tersebar diinternet tentunya masih rancu dan belum yakin bahwa itu memang berita benar atau hanya opini seseorang penulis dan bukan didasari dari pernyataan para ahli kesehatan. Mungkin untuk lebih real membahasnya, saya akan memberikan satu contoh media platform berita yang membahas mengenai bidang kesehatan di internet yaitu alodokter. Artikel yang termuat disana belum diketahui bahwa tulisan tersebut kredibel dan berita-berita yang ada di sana belum tentu benar. Mari kita lakukan tes bersama-sama. Alodokter meng klaim bahwa web mereka yang memiliki sumber terpercaya. Jika dilihat pada bagian akhir halaman terdapat pilihan tim editorial, di dalam halaman tersebut muncullah nama-nama dokter yang menjadi editor. Untuk melihat lisensi dokterpun, kita dapat menggunakan KKI untuk membuktikan lisensi dokter yang mereka punya.


untitled-5bbc56d143322f324f3afffb.png
untitled-5bbc56d143322f324f3afffb.png
KKI merupakan salah satu aplikasi yang dapat kita gunakan untuk mengetahui apakah orang ini benar-benar memiliki lisensi sebagai dokter. Ada beberapa hal yang juga perlu diperhatikan pada era digital seperti ini dan tentunya kita dapat belajar dan menghindari berita bohong yang bertebaran. Masalah kesehatan tentunya akan menjadi titik yang krusial, jika kita menerima berita secara mentah-mentah. Sebagai manusia kita terlalu berpikir spontan, instan dan reaktif. Misal ketika Dita sedang sakit perut yang tak berkesudahan, ia akan mencari diinternet kemudian hal yang muncul disana adalah kemungkinan penyakit-penyakit yang diderita seperti misal miom. Jika kita langsung bereaksi secara spontan, instan dan reaktif, pasti akan muncul kekhawatiran dalam diri oleh karena itu berpikirlah sebelum berujar. Bandingkan dengan sumber informasi lain jika perlu, perbanyak membaca referensi supaya tidak mudah untuk tertipu dan ketika tidak ada keyakinan mengenai suatu informasi tersebut, jangan sebarkan sesuatu yang belum tentu benar.

Bagi para jurnalis kesehatan tentunya pelatihan mengenai isu-isu kesehatan yang ada disekitar itu sangatlah perlu, setidaknya kita perlu aware terhadap lingkungan sekitar. Hal ini ditunjukan dengan adanya pelatihan Health and Nutrition Journalist Academy (HNJA) yang dilakukan oleh DANONE yang dalam hal ini tidak hanya pelatihan selama 2 bulan yang dilakukan, namun hasil akhirnya pun dilihat dengan action nya membuat suatu liputan terkain dengan isu mendalam akan masalah dasar kesehatan dan nutrisi. Pelatihan ini bertujuan agar para jurnalis dapat memberitakan informasi yang berbobot dan tentunya berdampak baik bukan berdampak buruk alias hoax.

Daftar pustaka

Santana, Septiawan K. 2017. Jurnalisme Kontemporer. Jakarta: Yayasan Pustaka OborIndonesia. Diakses pada 7 Oktober 2018 pada https://books.google.co.id/books?id=xIs8DwAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=false

Sudibyo, Agus. 2018. Literasi Anti Hoax- Kenali Media Sosial Sebelum Melakukannya. AntaraNews. diakses pada 9 Oktober 2018 https://www.antaranews.com/berita/756193/literasi-anti-hoax-kenali-media-sosial-sebelum-menggunakannya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun