Hilma Rahmadalena
Hilma Rahmadalena

"Terus berkarya" Ibu rumah tangga

Selanjutnya

Tutup

Novel

Selimut Kertas (#4)

12 Januari 2019   22:36 Diperbarui: 12 Januari 2019   22:44 129 2 0
Selimut Kertas (#4)
documentpribadi edit with PicsArt

RENUNGAN

Puncak. Tempat terindah yang sering nenek singgahi bersamaku. Menempati sebuah villa mewah yang tak ku tahu, apa kegunaannya. Villa bercat biru langit yang didominasi warna putih dan coklat. Warna itu, sesuai dengan warna favoritku. Menjadikan villa, sangat kontras di tengah-tengah pepohonan hijau yang menjulang.

Kakiku melangkah bosan menuju pintu villa. Memberi senyum sinis atas jerih payah orang tuaku. Membongkar kewajiban yang sebenarnya. Mencari apa yang seharusnya terjadi, dan siapa yang seharusnya di sini, bersamaku.

"Masuklah, Cu! Matamu akan cepat tua, jika terlalu lama memandangi villa ini."

"Jangan katakan itu lagi, Oma. Aku mau berkeliling sebentar."

"Jangan lama-lama, karena ada sebuah cerita yang menantimu di sini! Mir, tolong temani Rissya, ya...!" perintah nenek pada sopirku.

"Baik, Buk!"

"Aku akan kembali, secepatnya. Daahh, Oma!!" pamitku.

"Waalaikumussalam," jawab Oma dan aku tersenyum padanya.

"Assalamualaikum, Oma...."

"Waalaikumussalam, hati-hati!" pesan Oma padaku.

Aku pun berjalan menuju tempat Renungan. Ya, itu sebutan yang ku berikan. Sekitar 10 meter dari villaku, Renungan di bawah pohon rindang dan di atas batu besar. Di sanalah aku merenungi segala renungan yang membawaku, untuk merenung.

"Hati-hati, Non!" Pak Amir membantuku mendekati batu besar.

"Ya, terima kasih, Pak." Ku berikan senyuman untuk Pak Amir.

Batu itu selalu rela menahan berat bebanku. Hingga tubuhku, terpaku di batu itu. Bagiku, dia sangat empuk untuk seseorang yang tak tahu kebahagian dan anugerah, seperti ku.

Sunyi. Untuk sekian kalinya, aku merasa nyaman dikesunyian. Damai, tenang, sejuk dan....

"Non...." Pak Amir menghampiriku.

"Gapapa, Pak, aku baik-baik aja."

"Oww...," respon dari Pak Amir.

Aku merasakannya, mengalir di pipiku. Aku mencintai berlian putih ini, dia selalu mengerti isi hatiku. Dia mengusap pipiku, membasahi dengan kesejukan. Aku mencintaimu. Kau, ya, kau berlianku.

Sekarang, bayu menghampiriku. Dia mengamuk, karena aku melupakannya. Maaf, aku terlalu bahagia bisa bertemu dengan berlianku. Tapi percayalah, aku selalu bersamamu. Kamu tahu, aku masih bernafas sampai sekarang. Jadi, redamlah amarahmu. Kamu terlalu lembut, aku tidak akan cocok jika mengamuk. Lebih baik, kamu berjalan santai dan selaku tersenyum.

Tiba-tiba, pohon gagah menggugurkan daunnya. Dia seperti tertawa. Aku mendengarnya, dia mengatakan sesuatu. Entah itu sebuah nasehat, atau hanya ejekan.

"Hmm...." Aku mendongakkan kepala ke atas, ke arah lebatnya daun pohon.

Kamu terlalu pandai menasehati bayu, tapi, bagaimana dengan dirimu. Lihatlah, kamu masih duduk di Renungan ini. Menyerahkan wajah cantikmu ke arahku. Kamu harus mencari Dia. Cepat temukan, agar kamu tak bersikap bodoh seperti ini!

"Tidak, aku akan merindukan kalian!!" teriakku dan Pak Amir langsung menahan tubuhku yang hampir jatuh dari batu.

"Kita pulang, ya, Non...!"

"Ga, aku mau di sini! Kelembutannya melebih orang-orang yang sedarah denganku," jawabku mengamuk.

"Non, Oma sudah menunggu," ucap Pak Amir dengan kesabaran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2