Ninoy N Karundeng
Ninoy N Karundeng karyawan swasta

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya Induk Kata-kata". Membantu memahami kehidupan dengan sederhana untuk kebahagian manusia ...

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara Pilihan

11 Faktor Penentu Kemenangan Ahok yang Tak Dipahami Publik

14 April 2017   10:41 Diperbarui: 14 April 2017   11:15 8044 31 37
11 Faktor Penentu Kemenangan Ahok yang Tak Dipahami Publik
Anies Baswedan dan Rizieq FPI I Sumber en.tempo.co

Jelang lima hari pencoblosan Pilkada DKI, pertarungan semakin sengit. Pasca debat pun warga DKI semakin menonton drama antara Anies yang didukung oleh FPI dengan Ahok yang didukung oleh relawan. Survei menempatkan posisi Anies unggul sedikit di atas Ahok. Namun kontestasi kedua pasangan semakin sengit akibat adanya gerakan yang tidak dipahami oleh publik dan media. Pergolakan psikologis, relijius, dan kultural menjadi intens dan hal ini merugikan Anies.

Lembaga survei menempatkan Anies sebagai pemenang, dengan catatan lembaga survei bayaran lebih berperan menggoreng hasil. Bahkan lembagai survei sekelas LSI Denny JA pun telah dibeli oleh Tim Anies. Kini, pertarungan berlanjut dan dinamika di lapangan justru mengarah ke kekalahan Anies. Hal ini justru akan membuat publik antipati terhadap Anies – sebagaimana halnya peristiwa pilpres 2014.

Mari kita telaah 11 penentu krusial kemenangan Ahok yang tak dipahami oleh publik dengan hati gembira ria riang senang suka-cita bahagia selamanya sambil  menertawai kekalahan Islam radikal, FPI, FUI, HTI, dan partai agama PKS yang gagal menggalang masyarakat DKI selamanya senantiasa.

Pertama, tercipta polarisasi persis seperti Pilpres 2014. Prabowo yang mendukung Anies; dan komunikasi mampat sementara Prabowo-Jokowi. Publik terpolarisasi sentiment dukungan bahwa memilih Anies sama dengan memilih Prabowo. Secara langsung ajakan ini menyingkirkan simpati pemilih yang tidak memilih Prabowo di Pilpres 2014.

Akibat polarisasi ini, bagi pendukung Presiden Jokowi tercipta anggapan bahwa memilih Anies sama dengan memberi peluang Prabowo maju di 2019. Fakta ini didukung oleh kenyataan hampir 100% pendukung Jokowi di Pilpres 2014 memberikan dukungan kepada Ahok. Dan hampir 100% pendukung Prabowo mendukung Anies.

Namun karena potret kemenangan Jokowi di Pilpres 2014 membuat Ahok mendapatkan dukungan lebih besar.

Kedua, kasus Ahok membuat polarisasi dukungan dari kalangan minoritas etnis dan agama non Islam bersatu. Wilayah dengan para kantong minoritas etnis Tionghoa, Ambon, Batak, Betawi, Jawa, Nias, Madura mendukung Ahok – maka Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Kepulauan Seribu pun dimenangi oleh Ahok. Sebaliknya kantong ormas dan masyarakat pinggiran berpendidikan rendah Jaksel dan Jaktim mendukung Anies – maka di dua wilayah ini Anies menang.

Polarisasi dan dukungan yang terbelah ini terbukti dengan secara sadar Timses Anies fokus memecah kebuntuan ini dengan menggalang dukungan simbolis bahwa ada kalangan Kristen pendukung Anies. Suatu hal yang minim dan tak lebih dari 1 persen non Muslim mendukung Anies.

Sebaliknya, kesadaran kalangan pinggiran dalam Pilgub putaran I mendukung Anies, membuat kesadaran Timses Ahok untuk merebut dukungan kalangan pinggiran dan berpendidikan rendah di Jaktim dan Jaksel.

Pertarungan seperti ini justru hanya membuat polarisasi semakin mengental dan pergeseran suara hanya akan ditentukan oleh swing voters; massa mengambang. Artinya, perubahan dan pengalihan dukungan antar pendukung akan sangat kecil.

Ketiga, faktor SBY yang netral dan ketakutan mendukunga salah satu calon. Ketakutan SBY ini mengakibatkan kemarahan Prabowo – yang tidak pernah didukung oleh SBY semenjak kejadian Prabowo menggebuki SBY di Magelang di AMN Magelang dulu.

Akibat langsungnya adalah para pendukung Agus cenderung mendukung Ahok karena pembelaan bahwa Prabowo pernah secara fisik menghajar SBY – seperti dituturkan oleh Hermawan Sulistyo. Pun suasana batin pendukung Demokrat sepenuhnya mendukung Ahok setelah kekalahan Agus.

Keempat, faktor PKB dan PPP yang mendukung Ahok. Bersatunya PPP dan PKB mendukung Ahok menjadi senjata mematikan yang memberi Ahok-Djarot amunisi kuat yang secara telak menohok Anies yang hanya didukung oleh gerakan Islam radikal FPI, partai agama PKS, dan partai apkiran PAN, dan partai Gerindra. Dukungan PKB dan PPP – selain Golkar, PDIP, Hanura, NasDem – yang identik dengan NU dan GP Anshor membuat kekuatan Ahok makin menggurita.

Ingat bahwa dalam Pilgub putaran I, NU dan GP Anshor masih netral akibat sikap MUI yang terus menggembosi Ahok. Baru dalam putaran II secara jelas NU dan PKB dan GP Anshor secara tegas menolak Anies yang didukung oleh gerakan Islam radikal FPI dan partai agama PKS.

Dinamika ini menjadi lebih menarik ketika Lulung mendukung Anies yang justru semakin membuat stigma mendukung Anies sama dengan memberi angin kalangan status quo DPRD DKI – yang marah atas sikap Ahok-Djarot yang memreteli kecenderungan korup anggota DPRD DKI yang dibuktikan oleh Muhammad Sanusi.

Kelima, faktor Prabowo yang mendua dalam bersikap antara membela NKRI dengan membela kepentingan FPI. Sikap kebangsaan Prabowo menjadi senjata pembunuh bagi kalangan simpatisan Prabowo. Bagaimana mungkin akhirnya Prabowo bersekutu dengan FPI sementara selama ini Prabowo digambarkan sebagai garda terdepan pengawal NKRI.

Artinya, komitmen Prabowo untuk kebangsaan dan NKRI – karena mendukung Anies dan FPI – menjadi boomerang jangka pendek di DKI dan jangka panjang Prabowo sendiri di 2019. Publik pun berbalik dan bersatu melawan sinyalemen dan kecenderungan Prabowo yang menghalalkan segala cara untuk agenda 2019 dengan menggandeng FPI. Suatu blunder politik yang tak dipikirkan oleh Prabowo – dan jelas akan menghantam dan menyurutkan dukungan terhadap Prabowo dan dalam 5 hari Anies terlempar ke jurang kekalahan.

Keenam, sikap partai agama PKS, FPI, dan survei abal-abal. Gerakan Islam radikal FPI yang kebablasan – sebagai bagian juga jebakan strategi yang dimakan mentah oleh Timses Anies-Sandi – membuat stigma partai agama PKS dan FPI makin memburuk. Akibatnya, bagi kalangan partai agama PKS dan FPI makin kuat mendukung Anies.

Namun, bagi kalangan swing voters kelakuan pemalsuan data survei oleh partai agama PKS sejak Pilpres 2014 yang membuat hasil quick-count  dan real count palsu tanpa bukti menjadi pelajaran yang membuat kepercayaan publik menjadi nol. Para swing voters yang rasional dan melek internet yang hanya berjumlah 5% di DKI justru menjadi penentu kemenangan Ahok.

Akan tetapi yang menjadi masalah adalah para swing voters ini tak akan memilih dan cenderung cuek dan hanya berkoar di medsos tanpa mau memilih. Dalam kondisi status quo dukungan ini perebutan suara menjadi semakin sengit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3