Mohon tunggu...
Niko Satyo
Niko Satyo Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa

Mahasiswa Ilmu Sejarah UNAIR

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Mencari Titik Terang Setia Hati Terate dan Setia Hati Winongo

18 Oktober 2020   08:02 Diperbarui: 4 Juni 2021   06:26 5025
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar Lambang SH Terate dan SH Winongo

Persaudaraan Setia Hati Terate dan Setia Hati Tunas Muda Winongo atau masyarakat madiun dan umum mengenal dengan nama SH Terate dan SH Winongo. Pada dasarnya kedua perguruan tersebut adalah satu guru Beliau adalah Ki Ngabehi Suro Diwiryo, pada tahun 1903 mendirikan Organisasi pencak silat "Setia Hati" dengan sebutan Djoyo Gendhilo. Organisasi didirikan untuk mendidik rakyat yang pada waktu itu belum bersekolah selain itu bertujuan untuk menentang penjajahan Belanda. 

Pertentangan ideologi memulai memuncak ketika pendiri SH meninggal yang mana konflik tersebut di motori oleh dua murid kesayangan Ki Ngabehi Suro Diwiryo yang mengakibatkan pecahnya SH dan terbagi dalam 2 wilayah teritorial yaitu SH Winongo yang tetap berpusat di Desa Winongo dan SH Terate di Desa Pilangbangau Madiun.

Konflik kedua murid merambat sampai akar rumput sampai sekarang yang di penuhi rasa kebencian dan rasa curiga satu sama lain. Belum lagi konflik di perparah kepentingan politik dan perebutan basis ekonomi. Basis pendukung antar kedua perguruan di bedakan oleh perbedaan kelas juga. 

Baca juga: Telah Mencetak Atlet Muda Berprestasi, Solidaritas Perguruan Pencak Silat Jutako Cilacap Tak Usah Dipertanyakan

SH Winongo berkembang dalam alan perkotaan dan basis pendukungnya adalah para bangsawan atau priayi sedangkan SH Teratai berkembang di wilayah pedesaan dan pinggiran kota. Perpecahan kedua perguruan tadi juga terletak dalam strategi pengembangan ideologi yang satu bersifat eksklusif sedangkan Hardjo Utomo ingin membangun SH yang lebih bisa diterima masyarakat bawah guna melestarikan perguruan.

Melihat dari latar belakang tersebut, konflik yang terjadi adalah konflik identitas yang mana kedua perguruan tersebut saling mengklaim kebenaran pembawa nilai ideologi SH yang orisinil dan menganggap dirinya yang paling baik dan benar. 

Baca juga: Pengembangan Pencak Silat sebagai Atraksi Pariwisata Budaya di Indonesia (Studi pada Perguruan Pencak Silat Merpati Putih)

Klaim kebenaran terus menerus di reproduksi sehingga membentuk praktik - praktik diskursif yang saling menyalahkan satu sama lain.
Hal ini berlangsung hingga di sekarang, konflik keduanya hingga sekarang masih sering terjadi setiap tahun, tepatnya di malam suro yang menjadi hari sakral bagi kedua perguruan silat itu. 

Adanya provokator atau sebagai pemimpin sebuah permasalahan yang harus di hindari dan di tambah dengan berkembangnya media sosial yang membuat konflik tersebut kian terhasut dengan informasi-informasi yang tidak benar atau "Hoax" dan harus benar-benar mencerna informasi dengan baik. 

Baca juga: Melestarikan seni bela diri Pencak Silat, melalui Sanggar Betawi Si Kembar

Pada tahun ini baru terjadi konflik kecil pada bulan September, hal ini semestinya tidak perlu terjadi dan tidak terulang kembali. Untuk itu menghindari adanya konflik ideologis yang berkepanjangan, perlu di lakukan tindakan yang tegas oleh aparat kepolisian. Pemerintah daerah setempat juga harus menciptakan penyuluhan dan terlepas dari berbagai tekanan sosial ekonomi yang selalu menghantui. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun