Mohon tunggu...
Nikmatul aulia
Nikmatul aulia Mohon Tunggu... Lainnya - MAHASISWA

S1 Perbankan Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Menilik Kondisi UMKM Masyarakat Desa Kenongo pada Masa Pandemi Covid-19

24 Januari 2021   10:03 Diperbarui: 24 Januari 2021   10:30 231
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar 2. Proses pembuatan kerupuk miler | dokpri

Pandemi Covid 19 telah membuat banyak usaha tumbang, termasuk para pelaku UMKM. Namun, tidak sedikit pula pelaku usaha yang sempat tumbang, memilih untuk lanjut berjuang, belajar, dan bangkit dengan inovasi, serta gesit beradaptasi untuk menjemput peluang di pasar.

Wilayah Kabupaten Malang termasuk salah satu daerah dengan banyak potensi UMKM yang dapat dikembangkan, termasuk salah satunya UMKM yang sempat kami kunjungi yaitu UMKM bawang goreng dan Kerupuk Miler. UMKM tersebut terletak di Desa Kenongo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.

Ada 2 macam UMKM bawang goreng yang ada di wilayah Desa Kenongo. UMKM yang pertama dikelola oleh ibu Yeni yang berdiri pada tahun 2010 dan UMKM kedua dikelola oleh bapak Heri yang berdiri pada tahun 2012.

Awal  mula ibu Yeni merintis usaha Bawang goreng pada tahun 2010, ibu Yeni mulai merintis usahanya dengan bahan baku bawang merah sebanyak 3 Kg. Pembuatan bawang goreng di UMKM milik Ibu Yeni masih dilakukan secara manual, mulai dari pengolahan hingga pengemasan. Pada mulanya, Ibu Yeni hanya memasarkan produknya dengan 1 merk dagang yaitu "BAROKAH JAYA". Namun, hingga saat ini sudah memiliki 4 merk selain Barokah jaya ada lagi yaitu "SEDAP RASA, RAJA RASA, dan GUNUNG MAS"

Sampai saat ini, Ibu Yeni bisa mendapatkan omzet kotor mencapai 150 juta/bulan. Jika omzet bersih 20 juta hingga 40 juta/bulan. Awalnya, metode pemasaran UMKM Bawang Goreng tersebut hanya dilakukan kepada para pedagang bakso. Seiring berjalannya waktu usaha Ibu Yeni mulai berkembang pemasarannya ke beberapa pasar, di daerah Tumpang, Pakis, Turen, hingga ke Nongkojajar, Pasuruan .

Pegawai di UMKM bawang goreng milik ibu Yeni ada 13 orang untuk yang dibagian menggoreng dan pengemasan produk dan untuk bagian pengupasan bawang merah sekitar 14 orang.

Bahan Pokok yang digunakan yaitu bawang merah, pepaya dan tepung terigu . Bawang merah didapatkan dari pasar Gadang dan Nganjuk. Sedangkan buah pepaya muda sebagai bahan baku pengganti saat bawang merah langka biasanya didapatkan dari warga sekitar atau petani yang ada disekitar wilayah tersebut.  Pada saat pandemi covid 19 ini, kondisi UMKM Bu Yeni tidak berbeda jauh seperti sebelum pandemi covid sehingga bisa dikatakan tidak ada kerugian dan kendala yang dirasakan. UMKM Bawang Goreng milik Pak Heri sendiri berdiri pada tahun 2012. produknya pertama hanya sendiri. Pada awalnya, pemasaran dilakukan ke pasar dan UMKM Bakso yang ada di sekitar daerah Tumpang. Namun, seiring berjalannya waktu pemasaran pun kian meningkat. Proses produksi mulai dibantu oleh karyawannya yang berjumlah 4 orang dan pendistribusian bawang goreng tersebut mulai meluas yaitu mulai dari daerah Pakis, Wates, Wajak, Turen, hingga wilayah Dampit. Pendistribusian dilakukan secara mandiri oleh Pak Heri tanpa bantuan orang lain.

Pembuatan Bawang Goreng tidak hanya terpatok dari pesanan saja. tetapi Bapak Heri sendiri yang berkeliling untuk mengecek stock bawang goreng di distributor yang sudah berlangganan dengan UMKM Bawang Goreng miliknya. Seiring berjalannya waktu, jumlah produksi pun terus menerus meningkat, Produksi Bawang Goreng di tempat Bapak Heri tergantung pada ketersediaan dan harga bahan pokok yang ada dipasar. 

Jika harga bahan pokok meningkat, maka jumlah isi dari setiap kemasan bawang goreng tersebut akan dikurangi, begitupun sebaliknya. Jadi, Bapak Heri tidak memberikan pengaruh harga bahan baku pada harga produk bawang goreng, melainkan beliau hanya mensiasati dengan menyesuaikan kuantitas isi bawang gorenngnya dengan harga bahan baku di pasar.

Bahan pokok yang digunakan yaitu bawang merah, pepaya muda dan tepung terigu. Bahan pokok bawang merah tersebut diambil dari pasar induk Gadang. Disamping itu, ada bahan baku pepaya muda sebagai alternatif dan antisipasi untuk mempertahankan harga produk bawang goreng tetap murah, mengikuti permintaan pasar yang ada. Namun, tidak banyak konsumen yang meminta bawang merah dicampur dengan pepaya muda agar harga menjadi lebih murah.

Pada saat Pendemi Covid saat ini semua UKM merasakan kerugian yang sangat banyak. termasuk UKM Bawang Goreng milik Bapak Heri. pemasaran yang biasanya di pasar kini sekarang pasar menjadi sepi. termasuk pula hari-hari besar juga mengalami kerugian yang cukup signifikan  . tetapi UKM Bawang Goreng terus melanjutkan usahanya walaupun hanya sedikit, melanjutkan usahanya hingga sekarang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun