Nikodemus Niko
Nikodemus Niko Asisten Peneliti

Saya hanya seorang penulis lepas, hidup di jalanan berbatu dan mati di atas rindu yang berserak.

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Melulu Berfokus pada Dirinya Sendiri, Kapan Manusia Mempertimbangkan Etika Lingkungan?

6 Juni 2018   01:20 Diperbarui: 6 Juni 2018   11:13 2626 4 1
Melulu Berfokus pada Dirinya Sendiri, Kapan Manusia Mempertimbangkan Etika Lingkungan?
Photo: Doc. Penulis

"Tumbuhan disipakan untuk kepentingan binatang dan binatang disediakan untuk kepentingan manusia", Plato (Filosof Yunani).

Arti lain dari pernyataan itu adalah bahwa manusia dan kepentingannya dianggap paling menentukan tatanan ekosistem, sedangkan tumbuh-tumbuhan dan binatang dianggap sebatas pelayan kebutuhan manusia.

Sama artinya bahwa alam tidak diletakkan sebagai tujuan tindakan sosial manusia, melainkan hanya dinilai sebatas alat bagi kepentingan manusia. Alam semesta seperti, air, tanah, udara, pasir, tumbuh-tumbuhan dan binatang, tidak lebih dipandang hanya alat untuk menggapai kesejahteraan manusia. 

Karakter dan mental manusia yang berpikir demikian disebut sebagai mental antroposentris, yang kemudian berwujud pada manusia yang berkarakter pendobrak lahan-lahan baru (Susilo, 2014).

Bagaimana ciri manusia antroposentris?

Pertama, mereka memandang bahwa alam dan bumi sebagai pemberi sumber kehidupan yang tidak terbatas, dengan keyakinan "akan selalu ada sesuatu lagi".

Kedua, mereka memandang bahwa manusia sebagai mahkluk hidup di luar alam, bukan bagian dari alam. Dengan kata lain bahwa manusia dipandang eksklusif dan memiliki dunianya sendiri, ia tidak bersama dengan alam. Ketiga, mereka memandang bahwa alam sebagai sesuatu yang perlu dikuasai. Alam yang menguntungkan manusia saja yang dilindungi dan dimanfaatkan, sementara yang tidak menguntungkan manusia ditelantarkan saja (Yusuf, 2000; dalam Susilo, 2014).

Masyarakat Indonesia secara tidak sadar sebagian besar sebagai penganut antroposentris. Pada masyarakat yang antroposentris, hanya berorientasi pada kepentingan manusia semata (kepentingan untuk mengeksploitasi alam dan kepentingan ekonomi). 

Penggunaan Zat Bahan Perusak Ozon (BPO) merupakan contoh Antroposentris. Photo: Doc. Penulis
Penggunaan Zat Bahan Perusak Ozon (BPO) merupakan contoh Antroposentris. Photo: Doc. Penulis
Oleh karena itu, sebagai akibatnya masalah lingkungan selalu diabaikan. Kerusakan lingkungan sebagai isu publik hanya mengemuka setelah masyarakat banyak menjadi korban atas musibah dari kerusakan-kerusakan lingkungan. Sebaliknya, jika kerusakan lingkungan belum mengakibatkan kerugian manusia, diabaikan.

Sunyoto Usman (Sosiolog) (dalam Susilo, 2014) menyatakan bahwa hal yang paling mencemaskan ketika antroposentrisme tidak bisa dibedakan dengan watak-watak manusia lain; the cornuopia view of nature, faith in technology, growth ethic, materialism dan individualism. Mari saya bahas secara singkat, the cornuopia view of nature yaitu pandangan yang beranggapan tentang alam yang terbentang luas dan tak akan pernah habis. Pandangan ini menyatakan bahwa sekalipun lingkungan terus-menerus dieksploitasi, ia akan dengan sendirinya membaik kembali.

Faith in technology, yakni keyakinan yang menganggap bahwa teknologi bisa menyelesaikan segala-galanya. Teknologi menghadirkan pencapaian kebutuhan manusia yang efisien, cepat, dan bersifat massal. Bahkan dengan angkuhnya manusia meyakini bahwa teknologi mampu menyelesaikan dampak-dampak negatif yang dihasilkan lingkungan di masa yang akan datang.

Growth ethich, yaitu etika ingin terus menerus maju. Perkembangan modernisasi telah mengubah pemikiran manusia dalam kaitannya dengan ethos. Kita dapat menyaksikan keangkuhan manusia-manusia modern dalam berkompetisi antar-manusia dalam mengumpulkan kekayaan materiil yang mereka sebut sebagai kesuksesan diri, hal ini tergambar pada karya Harold L. Wilensky yang berjudul The Early Impact of Industrialization on Society.

Adanya arus modernisasi dan industrialisasi dengan segala kompleksitasnya akan melahirkan pergeseran dalam peran-peran manusia. Sisi negatifnya adalah ketika pabrik-pabrik dan pusat-pusat ekonomi didirikan dengan mengorbankan lingkungan disekitarnya, bahwa posisi lingkungan sebagai penyedia bahan baku industri dieksploitasi besar-besaran.

Materialism, yaitu kemodernan yang diukur dengan tindakan-tindakan konsumsi. Konsumsi bukan lagi sebagai sarana untuk bertahan hidup atau menjaga kelangsungan hidup, tetapi konsumsi telah berubah menjadi hidup itu sendiri.

Konsumsi merupakan gaya hidup baru yang diyakini sebagai simbol dari modernitas. Secara ekologis, produk konsumtif telah menyebabkan sampah sebagai salah satu persoalan utama masyarakat kota. Sungai-sungai tercemar oleh limbah industri dan rumah tangga, perilaku masyarakat kita yang belum sadar akan bahaya sampah yang dibuang di sungai menjadi persoalan tersendiri.

Individualism, yakni sikap dan keyakinan dengan menekankan dorongan personal tanpa memikirkan kepentingan dan kerugian di pihak lain. Bentuk-bentuk keserakahan semacam ini akan lebih mengorientasikan manusia hanya pada kepentingan dan keberhasilan dirinya, tanpa berpikir panjang akibat yang ajan diterima kelompok-kelompok masyarakat lain. 

Hal paling mendasar adalah persoalan distribusi sumber daya alam, yang acapkali sering terjadi ketidakmerataan. Terdapat kelompok masyarakat yang memiliki hak dan kewenangan dalam mengelola dan mengatur, sementara terdapat kelompok lain yang tidak memiliki kekuasaan sama sekali (powerless). Akibatnya tak jarang kelompok masyarakat yang sebenarnya tidak terlibat dalam perusakan lingkungan tetapi justru menanggung akibat dari kerusakan lingkungan.

Menyaksikan kesedihan atas eksploitasi alam di Indonesia saat ini, tidak mudah bagi kita untuk menyalahkan siapa-siapa. Apakah salah pemerintah yang kecolongan memberikan izin konsesi dan eksploitasi lahan yang kemudian terjadi besar-besaran? Apakah salah perusahaan yang membabat habis hutan-hutan perawan, kemudian ada campur tangan sebagian kecil masyarakat yang memiliki kuasa (power)?

Tidak ada yang dapat kita tuntut untuk bertanggung jawab atas kerusakan-kerusakan lingkungan kita yang sudah parah. Bencana alam yang datang silih berganti bukan tanpa sebab. Rusaknya lingkungan menyebabkan keadaan udara tercemar, rusaknya tanah tidak terlepas dari ekploitasi penggundulan hutan. Kita semua tahu, bahwa Indonesia menjadi negara penghasil sampah plastik yang sudah sangat mengkhawatirkan.

Kampanye sustainable society
Masyarakat dan lingkungan merupakan satu-kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan. Pendekatan Sosiologi yang dapat menjadi acuan dalam penyelamatan lingkungan dapat kita pelajari melalui konsepsi tentang relasi individu-sistem, bahwasannya upaya penyelamatan lingkungan dapat kita lakukan melalui pendekatan berikut: Pertama pendekatan individu dan kedua pendekatan sistem (Susilo, 2014).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2