Nikodemus Niko
Nikodemus Niko Asisten Peneliti

Saya hanya seorang penulis lepas, hidup di jalanan berbatu dan mati di atas rindu yang berserak.

Selanjutnya

Tutup

Sosial Pilihan

"IDAHOT Day" dan Hari Buku Nasional, Sebuah Refleksi untuk Bangsa

17 Mei 2018   13:43 Diperbarui: 17 Mei 2018   13:55 394 0 0
"IDAHOT Day" dan Hari Buku Nasional, Sebuah Refleksi untuk Bangsa
Source Twitter @mjauhola

Apa itu IDAHOT, mengapa dirayakan, dimana saja perayaannya berlangsung? Pertanyaan itu mungkin bisa tersingkap di benak kita yang masih awam mengenai isu international ini. IDAHOT merupakan singkatan dari International Day Against Homophobia, Transphobia dan Biphobia. Dimana campaign kemanusiaan untuk tidak mendiskriminasikan LGBTQ+ dimanapun berada. 

Hal ini juga merupakan perayaan dari dikeluarkannya orientasi seksual sebagai bagian dari gangguan jiwa oleh WHO. Artinya bahwa orientasi seksual bukan merupakan pesakitan, atau kelainan jiwa. Manusia yang berorientasi seksual LGBTQ+ sama dengan manusia yang memiliki orientasi seksual heteroseks. Jadi tidak ada alasan untuk kita saling membenci, sebaliknya cinta dan kedamaian lah yang meliputi.

Di Indonesia kondisi kasih masih agak mustahil dengan masyarakat yang masih berpikir bahwa orientasi seksual di luar dari heteroseks merupakan kelainan dan penyakit. Sesat pikir yang menggiring masyarakat kita ini sangat erat kaitannya dengan miskinnya literasi dan informasi yang didapatkan oleh masyarakat umum tentang pendidikan gender dan seksualitas. Sehingga yang ada adalah narasi stigmatisasi yang berujung kepada kriminalisasi, inilah yang disebut sebagai homophobia masyarakat.

Sementara di bagian bumi lainnya, masyarakat secara luas bersama-sama memerangi homophobia, Transphobia, dan Biphobia yang merupakan bagian dari kriminalisasi terhadap kelompok rentan LGBTQ+. 

Tidak hanya kalangan LGBTQ+, keluarganya, dan masyarakat yang peduli atas kemanusiaan ikut bersama-sama mengkampanyekan untuk hak hidup yang setara bagi setiap manusia, tanpa memandang gender, ras, agama, suku dan seksualitas. Indonesia masih sangat tabu dan dianggap melanggar moralitas jika bersama berdampingan dengan kelompok-kelompok rentan. Entah kemanusiaan dan moralitas macam apa yang dimiliki oleh bangsa ini?

Bertepatan dengan perayaan IDAHOT, patut kita rayakan bersama Hari Buku Nasional yang merupakan refleksi kita atas bangsa ini. Beberapa tahun lalu, negeri kita di cap sebagai bangsa yang kurang membaca buku. Padahal semboyan yang saya dengar sejak Sekolah Dasar bahwa Membaca adalah Jendela Ilmu. Bagaimana kita berilmu jika kurang membaca, analoginya demikian. 

Kemudian, baru-baru ini teror Bom dimana-mana, jujur saja pasti kita semua dirundung rasa khawatir, rasa takut, dan rasa yang demikian manusiawi sekali. Pelaku teror Bom adalah representasi dari literasi kita yang nyata, bagaimana pelaku terdoktrin oleh bacaan-bacaan yang menjerumuskan, bagaimana pelaku membaca cara-cara dan panduan merakit bom, ini sangat mengerikan. Literasi yang ternoda oleh doktrin pembunuhan, pertumpahan darah, dan tak berperikemanusiaan. Lalu, siapa yang salah?

Refleksi bagi kita semua, bahwa bangsa kita terancam bahaya karena aksi terorisme. Faham ekstemis dan radikal menjadi ancaman serius bagi bangsa ini. Ancaman terorisme sepatutnya kita perangi bersama, apapun agamanya, apapun suku dan rasnya, apapun gender dan seksualitasnya, bahwa terorisme merupakan musuh kita bersama. 

Namun, sayangnya terdapat banyak orang yang kemudian menjadikan LGBTIQ+ sebagai kambing hitam, dimana aksi cinta dianggap lebih bejat dari terorisme? Pemikiran yang semacam inilah yang semestinya diperangi bersama. Bahwa terorisme adalah ancaman serius bangsa ini bukan gender atau seksualitas tertentu.

Hari IDAHOT semoga semakin menjadikan kita manusia beradab, memiliki welas asih dan dipenuhi cinta dalam ragam kemanusiaan. Hari Buku Nasional semoga menjadikan bangsa ini menghargai, berjaya dan maju dalam hal literasi-literasi positif, baik di kancah nasional maupun internasional. IDAHOT dan Hari Buku dapat membuka cakrawala hati kita bahwa bangsa ini masih sangat jauh tertinggal, dari literasi edukasi, sampai adab kemanusiaan. Harapan besar untuk kejayaan Indonesia.

Source channel Metro TV
Source channel Metro TV