Karyati Niken
Karyati Niken Stay At Home Mom

Teman mainnya duoK di Ig @littlebaha. Doyan nulis, art & craft. Home Educator

Selanjutnya

Tutup

Parenting

Bintang yang Bersinar

18 Mei 2018   23:38 Diperbarui: 18 Mei 2018   23:43 320 0 0

*BANDINGKANLAH ANAK-ANAK KITA DENGAN DIRINYA SENDIRI, BUKAN DENGAN ANAK ORANG LAIN*

Yup... berapa kali kita melihat, membaca bahkan mendengar kalimat tersebut belakangan ini?

Rasa-rasanya setiap orangtua patut mengerti bahwa masing-masing anak memiliki keunikan tersendiri dan membawa bintangnya masing-masing.

Marilah kita mulai menutup mata untuk hal-hal yang bikin baper atau malah merasa "down" karena kita sering "melihat" anak orang lain sepertinya lebih wah dari pada anak kita sendiri. Stop untuk sering-sering kepo di medsos jika hanya untuk menikmati "kepandaian anak lain", bukan untuk mencari ide bermain untuk anak kita.

Hehe....rada straight ya? Iya. Pasalnya, untuk menjunjung kalimat baik terhadap anak kita maka kalimat yang sebaiknya di keluarkan adalah, "Apa bedanya kakak 1 tahun yang lalu dengan kakak yang sekarang?"

Bukan dengan kalimat, "Mengapa kamu tidak seperti si A, yang sudah pandai membaca?" atau "Mengapa kamu tidak seperti adikmu?"

Karena, kita orang dewasalah yang dipercaya untuk melejitkan "mental jawara" anak. Dengan kata lain, *MEMBUAT GUNUNG, BUKAN MERATAKAN LEMBAH*

Kal, misalnya. Anak pertama saya ini suka sekali bergerak, berlari, meloncat, memanjat dan beragam kegiatan fisik lainnya. Maka, (pada akhirnya) daripada saya "sering-sering melarangnya berkegiatan yang sebenarnya menyenangkan baginya", maka saya ajak saja kk Kal mengeluarkan energinya ke beberapa kegiatan. Contoh : Berenang, berolahraga tangan menggunakan bola, melakukan kegiatan practical life skills, dll.

Anak yang terlihat berbinar-binar mempelajari sesuatu, kemudian orangtuanya mengijinkan anak tersebut menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempelajari hal tersebut, maka kita sedang mengijinkan lahirnya maestro baru. Ini namanya membuat gunung. Anak akan memahami misi spesifiknya untuk hidup di muka bumi ini.

*ENJOY, EASY, EXCELLENT, EARN* inilah yang pada akhirnya akan terbentuk dalam diri anak. Oleh sebab itu, kita sebagai orangtua harus sering melakukan " discovering ability" agar anak menemukan dirinya, dengan cara mengajak anak kaya akan wawasan, kaya akan gagasan, dan kaya akan aktivitas.

Bagaimana caranya? Menurut Howard Gardner salah seorang profesor pendidik dan peneliti dari Harvard University Amerika Serikat, ada 9 aspek kecerdasan seorang anak. Istilah yang sering kita dengar adalah multiple intelligences.

Diantaranya : kecerdasan musikal, intrapersonal, interpersonal, visual spasial, natural (alam), kinestetik, moral, verbal linguistik, dan logika matematika. Tentu ada yang menonjol dari tiap anak dari sembilan kecerdasan majemuk dalam diri seorang anak kelak, namun sebagai orangtua kita berusaha untuk mengembangkan kesembilannya pada saat usia BALITA

Saat kita sebagai orangtua sudah mengetahui kecerdasan mana yang dominan pada anak kita, maka kita mulai mengasahnya melalui beberapa hal yang terkait. Sehingga anak dengan cepat menemukan aktivitas yang membuat matanya berbinar-binar (*enjoy* ) tak pernah berhenti untuk mengejar kesempurnaan ilmu seberapapun beratnya (*easy*) dan menjadi hebat di bidangnya (*Excellent*).

Setelah ketiga hal tersebut di atas tercapai pasti akan muncul produktivitas dan apreasiasi karya di bidangnya (*earn*).

Tidak ada anak yang bodoh di muka bumi ini, yang ada hanya anak yang tidak mendapatkan kesempatan belajar dari orangtua/guru yang baik, yang senantiasa tak pernah berhenti menuntut ilmu demi anak-anaknya, dan memahami metode yang tepat sesuai dengan gaya belajar anaknya. Karena ALLAH TIDAK PERNAH MEMBUAT PRODUK GAGAL.


#KaryatiNiken_Bunsay3
#dayke1
#semuaanakadalahbintang
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional