Mohon tunggu...
Roneva Sihombing
Roneva Sihombing Mohon Tunggu... Guru - pendidik

Penyuka kopi, gerimis juga aroma tanah yang menyertainya. Email: nev.sihombing@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Vaksin Pertama, Alergi dan Piknik Bersama yang Berjarak

2 Juli 2021   01:21 Diperbarui: 2 Juli 2021   01:26 87 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Vaksin Pertama, Alergi dan Piknik Bersama yang Berjarak
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Tiga minggu yang lalu, aku mendapatkan giliran untuk divaksin. Alih-alih datang jam 8 sesuai dengan informasi dimulainya kegiatan vaksin, aku datang jam 9. Setelah tiba di lokasi, mencuci tangan dan suhu tubuh diperiksa, aku mendapatkan nomor kedatangan. Nomor kedatangan ini bukan nomor antri vaksin, namun nomor giliran untuk pengecekan awal apakah nama sudah didaftarkan sebelumnya. 

Pada saat pengecekan nama, KTP pun harus ditunjukkan. Tentu saja foto KTP sudah dikirimkan sebelumnya sehingga nomor KTP pun bisa diperiksa apakah benar yang bersangkutanlah yang memiliki KTP dan akan ikut divaksin. Saat pengecekan ulang, yang datang lebih dululah, yang lebih dulu dilayani. 

Untuk pengecekan awal, dibuka 2 meja. Sambil menunggu nomor giliran dipanggil, aku dan Ida, seorang teman yang mendapat giliran vaksin di hari dan tempat yang sama, mencari tempat untuk duduk. 

Tak jauh dari kami, ada juga yang sedang menunggu untuk dipanggil. Tidak cukup tempat duduk yang disediakan. Maka, ada sebagian yang duduk di bawah pepohonan, ada yang berdiri di areal parkir dan sebagian lagi menyebarkan ke beberapa tempat yang bisa diduduki. 

Ketika sedang berbincang, aku sesekali melihat ke sekitar sambil melihat petugas yang memanggil nomor giliran daftar, barangkali saja sudah tiba giliran kami. Nomor masih di sekitar angka 150an, sedangkan namor kami berdua ada di angka 270an. 

Cukup panjang untuk berbincang dari mana ke mana.. :) Keadaan pandemi seperti sekarang dan demi mensukseskan gerakan menjaga jarak, membuat kami jarang berjumpa. Sehingga, kami tidak merasa bosan dengan segera karena persediaan cerita masih sangat banyak. Hehehe.. 

Aku lihat sekeliling lagi. Kesadaran menerima vaksin terus hadir. Ada yang membentuk kelompok dua-dua, ada yang tiga-tiga orang. Asyik masing-masing. Masing-masing menjaga jarak. Masing-masing mengenakan masker. Beragam warnanya sekalipun bukan pelangi. Ada juga yang menggunakan masker 2 lapis. 

Ketika tiba giliran KTP kami diperiksa, kami menerima nomor giliran menerima vaksin. Masuk ke sebuah ruangan berisi calon penerima vaksin yang sedang menunggu giliran. Duduk berjarak sambil berbincang santai. Seperti sedang piknik bersama, namun berjarak. :) 

Tersedia 4 meja untuk melayani peserta vaksin. Peserta yang akan menerima vaksin akan melakukan wawancara singkat berkenaan dengan kesehatan (apakah alergi pada obat tertentu atau menderita sakit tertentu) untuk layak atau tidaknya menerima vaksin. Setelah wawancara singkat, suhu tubuh (lagi) dan tensi darah pun diperiksa. Lolos dari tahap ini, barulah calon penerima vaksin menerima suntik vaksin. 

Tidak semua bisa lolos dari pengecekan suhu tubuh dan tensi darah. Salah seorang teman, ketika diperiksa bersuhu 37,5 derajat . Dia harus minum air dan menunggu sekitar 10 menit untuk pengecekan suhu sekali lagi. 

Setelah bersuhu tubuh dibawah 37,5 derajat, barulah dia menerima vaksin. Tensi darah yang rendah dan tinggi pun bisa membuat calon penerima vaksin pulang sebelum menerima vaksin. Jadi, orang yang ingin divaksin saja, belum tentu bisa menerima vaksin. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan