Mohon tunggu...
Neno Anderias Salukh
Neno Anderias Salukh Mohon Tunggu... Pegiat Budaya Suku Dawan (Timor) | Kritikus Sosial

Most Viewed Content over 400.000 pageviews Kompasiana Award 2019

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Budaya Makan Suku Dawan (Timor)

12 Februari 2020   18:49 Diperbarui: 12 Februari 2020   18:53 493 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Budaya Makan Suku Dawan (Timor)
Jagung Bose dan sambal, salah satu kuliner orang Timor | Sumber: Instagram 88darmi

Bagi Suku Dawan (Timor), makan bukan sekedar mengambil makanan dan memasukkan didalam mulut

Dalam upacara-upacara adat masyarakat Suku Dawan (Timor). Tradisi demi tradisi dan ritual demi ritual dilakukan. Biasanya, setelah semua dijalankan, barulah acara makan dilakukan (bagian terakhir).

Sama seperti daerah-daerah lainnya, makan adalah kegiatan wajib bagi semua orang yang hadir dalam upacara-upacara adat. Akan tetapi, terdapat kebiasaan-kebiasaan yang berbeda tergantung nilai-nilai budaya daerah tersebut.

Bagi masyarakat Suku Dawan, makan tak sebatas kegiatan wajib mengikuti upacara adat atau memasukkan sesuatu ke dalam mulut untuk memperoleh rasa kenyang, tetapi makan merupakan sebuah kebiasaan yang memiliki nilai-nilai budaya yang sangat penting bagi interaksi sosial dalam sebuah kemasyarakatan.

Budaya Makan Dalam Upacara-upacara Adat

Dalam upacara-upacara kematian, perkawinan dan sebagainya, menu yang disajikan adalah jagung katemak, jagung titi (nasi jagung), jagung sose, nasi (padi ladang) dan daging (tergantung ternak apa yang dipilih).

Misalnya dalam sebuah upacara adat, padi ladang dan daging sapi merupakan pilihan masakan maka daging sapi akan dimasak dengan bumbu bawang merah, bawang putih dan serai yang ditumbuk halus. Lalu, garam secukupnya dan dibiarkan hingga setengah matang.

Pada zaman dahulu, piring orang Dawan terbuat dari tempurung kelapa sehingga cara menyajikannya adalah nasi dipisahin ke satu tempat, kuahnya dilain tempat dan dagingnya pun lain tempat. Jika masakan daging lebih dari satu jenis maka penyajiannya pun akan dipisahkan.

Lalu, diberikan kepada masing-masing orang. Ayah saya pernah bercerita bahwa jika menunya cukup banyak maka kadang kala kita harus mendapat empat sampai lima piring.

Tikar yang terbuat dari anyaman daun lontar dibuka dan dibentangkan sebagai tempat makan. Selama makan, ada petugas dapur yang mengontrol sehingga mereka yang sudah menghabiskan sebagian makanannya akan mendapat penambahan makanan.

Para petugas dapur tidak pernah membiarkan nasi, dan daging anda berkurang. Gundukan nasi selalu stabil , persediaan kuah selalu bertambah, begitupun dengan daging.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN