Mohon tunggu...
Tety Polmasari
Tety Polmasari Mohon Tunggu... Bunda tiga dara: Putik Cinta Khairunnisa, Annajmutsaqib, Fattaliyati Dhikra

Menulis cara saya meluapkan segala rasa: gelisah, marah, bahagia, cinta, rindu, harapan, kesal, dan lain-lain.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Buku "150 Kompasianer Menulis Tjiptadina Effendi", Persahabatan dalam Keberagaman

2 Maret 2021   13:17 Diperbarui: 2 Maret 2021   13:37 98 13 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Buku "150 Kompasianer Menulis Tjiptadina Effendi", Persahabatan dalam Keberagaman
Dokumen pribadi

Jumat (26/2/2021) siang itu, saya sedang mengetik di ruang tengah. Lalu terdengar suara lelaki dari luar rumah bersamaan dengan berhentinya deru mesin motor.

"Paketttt," ucap lelaki itu berulang kali. Karena saya sedang tidak pakai jilbab, saya pun meminta si mbak untuk menemuinya ke depan.

Paket yang bertuliskan nama saya pun diberikan kepada saya. Yang isinya buku "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi". Saya sudah menduga buku saya terima pada Jumat karena sebelumnya Pak Ikhwanul Halim menginfokan buku sudah dikirim.

Tentu saja saya senang menerimanya mengingat ini pertama kalinya saya ikut berkolaborasi dalam buku ini. Saya senang juga membacanya. Bukan semata-mata karena ada tulisan saya di situ. Tapi lebih karena hangatnya ikatan persahabatan di antara para kompasianer. Yang tercermin dari judul buku itu. Padahal, saya masih "anak bawang".

Baru bergabung di Kompasiana selama 10 bulan terakhir ini saja sudah tercipta persahabatan lintas batas, lintas generasi, lintas agama, lintas profesi, lintas budaya. Bagaimana yang sudah bertahun-tahun?

Memiliki sahabat tentu saja menjadi hal yang menyenangkan. Biasanya persahabatan terjalin umumnya karena seumuran atau sebaya. Entah karena teman satu sekolah, kuliah atau pekerjaan.

Nah, bedanya di Kompasiana terdiri dari beragam usia, juga beragam pendidikan, pekerjaan, dan tentu saja gender. Yang juga beragam ide dan pemikiran, yang hebatnya, tidak menimbulkan perdebatan.

Jadi, saya senang menjalin pertemanan di sini. Belajar pada sosok Opa Tjiptadinata Efdendi dan Ibu Roseline yang memiliki jalinan persahabatan dengan beragam perbedaan, dan tetap terjalin hingga di usia yang beranjak sepuh.

Jika umumnya bersahabat dengan yang seumuran, terkadang diwarnai dengan drama, entah itu pertengkaran atau ketidakcocokan ide, maka persahabatan di sini tidak terjadi demikian. Begitulah yang saya amati dan saya dapati.

Nah, sepertinya persahabatan beda usia jarang terjadi drama. Setidaknya, itu yang saya dapati dari tulisan-tulisan opa Tjipta dan Ibu Roselina. Mungkin karena usia pasangan yang romantis ini sudah senior, jadi sarat dengan pengalaman hidup.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN