Mohon tunggu...
Tety Polmasari
Tety Polmasari Mohon Tunggu... Bunda tiga dara: Putik Cinta Khairunnisa, Annajmutsaqib, Fattaliyati Dhikra

Menulis cara saya meluapkan segala rasa: gelisah, marah, bahagia, cinta, rindu, harapan, kesal, dan lain-lain.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Sinergi 3M dan 3T Putus Rantai Penyebaran Covid-19

14 Agustus 2020   08:21 Diperbarui: 14 Agustus 2020   08:21 114 5 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sinergi 3M dan 3T Putus Rantai Penyebaran Covid-19
Dokumen pribadi


Penanganan Covid-19 di Indonesia, sejatinya adalah sinergi dua pihak: masyarakat dan pemerintah daerah. Selama kedua pihak saling bersinergi, pemutusan rantai penularan Covid-19 kemungkinan besar bisa cepat tertangani.

Sinergi yang dimaksud, masyarakat rutin melakukan 3 M -- bukan menutup, menguras, dan menimbun, melainkan menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan, nah pemerintah daerah rutin melakukan 3 T (testing, tracing dan treatmen).

Masyarakat untuk terus diingatkan agar selalu menggunakan masker di manapun mereka berada, rajin mencuci tangan dan menjaga jarak sosial dengan orang lain minimal satu meter, serta tidak melakukan kontak fisik dengan alasan apapun. Termasuk menolak bersalaman.

Budaya 3M ini perlu dibangun atas kesadaran masyarakat sendiri. Bahwa seseorang penting untuk bertanggung jawab tidak menularkan Covid-19 ke orang lain dan juga jangan sampai dia tertular. 

Menerapkan budaya 3M ini menurur saya seharusnya tidak butuh waktu. Selama 6 bulan sudah Covid-19 merongrong kesehatan masyarakat, yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda kapan berakhir, harusnya sudah dapat menumbuhkan kesadaran pribadi yang tak perlu harus dingatkan terus. Kecuali kalau anak kecil bolehlah untuk selalu diingatkan, kalau sudah dewasa masa mau diperlakukan seperti anak kecil?

Harus disadari protokol 3M ini sebagai pelindung dari penularan Covif-19. Memakai masker berarti melindungi orang lain supaya tidak tertular, juga melindungi diri supaya tidak tertular. Begitu pula dengan menjaga jarak dan mencuci tangan supaya tidak menularkan dan ditulari virus.

Karena masih banyak masyarakat yang belum disiplin menerapkan 3 M, maka pemda aktif untuk mencari kasus dengan 3T agar mereka yang positif cepat ditangani. Namun, ketika masyarakat sudah disiplin menerapkan 3M, pemda juga tetap aktif melakukan 3T. Yang namanya sinergi butuh kerjasama dua pihak.

Karena penerapan 3M saja tidak cukup untuk memutus rantai infeksi Covid-19. Diperlukan pula tindakan prevetif tambahan yang dilakukan Pemda dengan 3T tadi.

Angka kasus positif yang kian banyak di sejumlah daerah karena ada beberapa daerah yang melakukan tes Covid-19 (testing) dan pelacakan kontak (tracing) secara masif.

Karenanya, yang diangkat media saat ini tidak saja pada penambahan kasus, tetapi juga bagaimana mendorong peningkatan kemampuan testing di semua wilayah.

Meski testing itu dilakukan baru sebatas pada orang yang punya keluhan, seperti infeksi saluran napas atas, batuk, demam atau keluhan sakit tenggorokan, ya tak masalah. Yang penting ketika ada yang terkonfirmasi positif Covif-19, pemda bisa melanjutkan dengan tracing dengan melakukan pelacakan kontak.

Dalam pelacakan kontak, jika mengikuti standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), maka satu orang yang terkonfirmasi positif bisa dilacak 5 sampai 20 orang, baik di rumah maupun di lingkungan kantor bila pekerja kantor. Sehingga dari satu kasus konfirmasi positif Covid-19, akan ditemukan kasus lain baru.

Penambahan kasus Covid-19 bisa jadi karena masyarakat sudah bosan, sehingga tidak mematuhi protokol kesehatan. Terlebih pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sudah dilonggarkan, dan aktifitas di luar rumah juga sudah banyak dilakukan.

Di sinilah, peran pemda untuk melakukan 3T. Pemerintah pusat sendiri sudah meminta pemerintah daerah menerapkan jurus 3T  untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Dengan 3T ini akan memudahkan untuk menemukan kasus, yang juga akan memudahkan angka kesembuhan pasien.

Nah kepala daerah yang tidak mau menggenjot kemampuan testingnya, harus juga terus diedukasi oleh semua pihak, khususnya media.

Bukan rahasia lagi ketika pihak-pihak mulai bergerak itu karena ada pemberitaan negatif yang masif di media massa. Buktinya kasus Djoko Tjandra dan kasus lainnya.

Jadi, menurut saya, kepala daerah yang "tidak peduli" dengan nasib kesehatan warganya, perlu juga "dikasih pelajaran" dan "dijewer" dengan terus memberitakan betapa buruknya kinerja sang pejabat dalam menangani Covid-19.

Bagaimana, apakah sependapat dengan saya?

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x