Nelvianti Virgo
Nelvianti Virgo pelajar/mahasiswa

Ketika menulis menjadi sebuah kebutuhan...

Selanjutnya

Tutup

Sosial Budaya highlight

Cara Wanita Cerdas Memilih Calon Suami

22 Oktober 2014   18:17 Diperbarui: 17 Juni 2015   20:07 17491 0 0
Cara Wanita Cerdas Memilih Calon Suami
1413950876119705441

[caption id="attachment_330462" align="alignnone" width="300" caption="Sumber Gambar: Google"][/caption]

Jika ada ungkapan, "Seburuk-buruk lelaki, pasti memilih wanita yang baik untuk menjadi pendamping hidupnya". Agaknya begitu juga dengan para wanita, tentunya wanita cerdas. Seperti apakah pendamping yang dipilih seorang wanita?

Wanita cerdas tidak hanya memilih calon suami yang baik rupanya, tapi juga baik akhlaknya. Fisik merupakan hal yang paling banyak dipertimbangkan oleh sebagian besar orang, karena seseorang pertama kali dihadapkan pada fisik. Seseorang yang jatuh cinta ketika bertemu dengan seseorang pertama kali, cintanya bisa disebut dengan 'cinta pada pandangan pertama'. Kenapa? Sebab pada pandangan pertama yang terlihat hanya sesuatu yang konkret, yang indah-indah, segala bentuk kelakuan buruk atau sifat asli dari seseorang tersebut belum terlihat. Bertahan atau tidaknya cinta pada pandangan pertama tergantung pada pribadi masing-masing. Tapi wanita  cerdas tidak akan tertipu oleh hal ini, dia mungkin terpesona melihat seseorang saat pertama bertemu, tapi selanjutnya muncul pertanyaan, bagaimanakah akhlaknya?

Akhlak seseorang tidak cukup digambarkan dengan satu kata 'baik'. Karena cakupan baik itu sangat luas, baik yang bagaimana? Seseorang yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa sudah bisa dikatakan baik, tapi harus ada embel-embel  lain. Selain memilih calon suami yang seiman, wanita cerdas juga menginginkan suami yang baik atau rajin ibadahnya, yang bisa memimpin, yang bertanggung jawab, penyayang--tidak hanya menyayangi istrinya tapi juga keluarga istrinya. Seseorang suami yang baik, tidak akan menjauhkan hubungan istrinya dengan keluarganya. Karena jika hal itu terjadi, seorang istri akan dilema, antara mematuhi suami atau orang tuanya. Tentunya sudah jelas hukum mematuhi suami, tapi bagaimana dengan perasaan kedua orang tuanya, bagaimanapun dia akan merasa kasihan dengan kedua orang tua yang telah melahirkan dan membesarkannya. Wanita yang cerdas juga tidak menyukai laki-laki yang bersifat keras. Keras di sini berarti tidak mau diajak berkompromi, segala sesuatu harus menuruti perkataannya, padahal belum tentu pendapatnya tersebut baik untuk semua orang. Wanita cerdas memerlukan calon suami yang bisa diajak bermusyawarah dalam mengambil keputusan, mau mendengarkan pendapat pasangannya, dan mematuhi apa yang sudah disepakati bersama. Hal ini biasanya menyangkut kepada karir sang istri setelah menikah, apakah masih diizinkan bekerja di luar rumah atau tidak, dan kadang ada yang menyepakati terlebih dahulu jumlah anak yang diinginkan nanti setelah menikah. Seperti Oki Setiana Dewi dan suami yang sama-sama menginginkan tujuh orang anak. Jika sama-sama menyepakati, maka tidak akan ada konflik dikemudian hari. Sebab konflik bisa timbul ketika suami menginginkan keturunannya yang banyak, istri belum bisa/sanggup memenuhinya. Bagaimanapun susahnya mengandung dan melahirkan itu hanya istri yang merasakan, jadi terkadang wajar jika ada seorang istri yang tidak mau hamil lagi.

Wanita cerdas juga akan respek terhadap laki-laki yang pekerja keras dan mempunyai orientasi masa depan, sebab laki-laki yang mempunyai orientasi masa depan selalu bergerak maju. Mempunyai orientasi masa depan bukan berarti laki-laki yang mapan. Laki-laki yang mapan mungkin banyak, tapi yang mempunyai orientasi masa depan jarang. Lalu apa maksudnya dengan mempunyai orientasi masa depan? Orientasi masa depan, bisa digambarkan dengan pandangan hidup kedepannya yang terstruktur dan sistematis, jelas cita-cita dan tujuan hidupnya, Misalnya dalam berwirausaha, setelah usaha ini berhasil, saya akan mengembangkan usaha yang ini, lalu saya akan melakukan ini, dan bla bla. Jadi laki-laki yang mempunyai orientasi masa depan di sini, selalu pandai membaca peluang, mempunyai visi dan misi untuk mencapai kehidupan masa depan yang lebih baik, dan tentunya punya sikap optimis, tidak hanya mimpi-mimpi kosong belaka. Kalau di kalangan kampus, seseorang yang mempunyai orientasi masa depan bisa digambarkan dengan mahasiswa yang haus prestasi. Seseorang yang selalu ingin berprestasi, pasti tahu cara mewujudkan impiannya.

Setelah rupa, akhlak, ada hal yang tidak boleh dilupakan wanita cerdas dalam memilih calon suami, dan terkadang hal ini ditempatkan pada urutan pertama. Berpendidikan. Tak jarang seseorang wanita memilih calon suami yang pendidikannya minimal setara dengannya. Jika S1, ya, dia juga menginginkan calon suami yang berpendidikan minimal S1. Sebab hal ini akan mempengaruhi komunikasi ke depannya, nyambung apa enggak.

Perlu menjadi catatan, jika ada seorang wanita yang memilih calon suami yang mapan, belum tentu wanita tersebut matre. Karena wanita tidak hanya memikirkan kehidupannya sendiri ke depannya, tapi juga memikirkan kehidupan anak-anaknya, memastikan anak-anaknya mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Bagaimanapun juga jika pondasi ekonomi rumah tangga tersebut tidak kokoh, bisa dipastikan yang jadi korbannya adalah anak-anak.

Akhir kata, ada slogan: Beriman, Berpendidikan, Tampan, dan Mapan! :D

Postingan ini dibuat secara sengaja dengan mengamati lingkungan kehidupan sehari-sehari dan bersumber dari pengalaman orang sekitar. Postingan ini dibuat bukan dari sudut pandang penulis, tapi tentunya dari sudut pandang perempuan. Adapun setuju/tidak setujunya terhadap postingan ini bergantung pada diri masing-masing. Dan jangan tanyakan, apakah penulis sudah menikah atau belum! Salam Ceria. :D