Mohon tunggu...
Neli Amelia
Neli Amelia Mohon Tunggu... Administrasi Publik

Hi!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Curahan Hati sebagai Obat?

7 Oktober 2019   11:36 Diperbarui: 10 Juli 2020   10:19 35 1 0 Mohon Tunggu...

Siapa disini yang gemar sekali curhat atau bercerita kepada seseorang, bisa jadi keluarga atau teman dekat. Apakah rasanya sehabis bercerita? Lega? Ya, bisa jadi anda akan lega karena beberapa beban telah tersalurkan dan berkurang sedikit demi sedikit. Namun, apa hal itu benar-benar membuat anda lega? Apakah orang tersebut sudah tepat untuk dijadikan tempat bercerita?

Saya terlalu banyak bertanya, padahal intinya hanya satu, "Seberapa tepatkah kita mencurahkan segala sesuatu kepada seseorang?" 

Hal ini sangat menarik karena beberapa hari yang lalu saya menonton film yang salah satu artisnya dibintangi Alexandra Daddario yang berjudul " Can You Keep a Secret?". 

Sepanjang film kita disuguhi perjalanan dari si mbak daddario yang digambarkan sebagai orang kantoran dengan beragam masalah yang ia punya sampai akhirnya melakukan perjalanan melalui pesawat udara dan bertemu dengan "stranger" dan menumpahkan segala sesuatu yang ada di kepalanya tanpa filter loh! Daan ternyata tak disangka-sangka orang tersebut adalah pendiri perusahaan tempat ia bekerja. JLEBBBBBB.. 

Film diatas berakhir dengan kisah yang indah, mbak daddario berkencan dengan si "stranger" itu. Hal tersebut hanya terjadi di film-film saja, coba di dunia nyata apa nggak malu dia. Kembali ke persoalan curhat, memang curhat itu dapat meringankan beban yang ada disaat bingung mau bercerita kepada siapa. 

Mungkin saja malu harus menceritakan kisah cinta kepada orangtua karena takut akan dilabeli macam-macam. Biasanya, anak-anak muda cenderung bercerita hal seperti itu kepada teman sebayanya. 

Saya cenderung tipe orang yang jarang menceritakan hal-hal pribadi dan curhat ke sembarang orang, Hanya beberapa orang saja dan memang sudah saya kenal dari lama. 

Bagaimana tidak? saya trauma sekali bercerita tentang kehidupan saya ke seseorang dan yang terjadi adalah dihakimi habis-habisan. Hal itu membuat saya merasa sedih dan tidak akan pernah lagi untuk bercerita, seperti hal  pribadi saya malah diumbar kemana-mana dan semua orang jadinya tahu cerita saya. Bukan hanya itu, ketika sedang ada masalah dengan seseorang yang tahu cerita kita, maka dengan mudahnya ia mengungkit-ungkit lagi hal itu dan menjatuhkan tanpa kenal ETIKA. 

Saya sedih dengan hal itu, kita hanya perlu didengar dan dirangkul bukan dijatuhkan. Saya tahu, mungkin beberapa dari kalian ada yang berkata " Baper" tapi tolong.. ini adalah perasaan, setiap orang memiliki perasaan yang berbeda-beda dalam menangkap omongan tiap orang, mungkin kita dapat belajar memahami setiap karakter seseorang sebelum menanggapinya.

Pada akhirnya, yang dapat saya andalkan adalah menulis di buku setiap kejadian atau hal-hal yang menimpa saya. Buku tidak akan pernah berkhianat dengan saya dan selalu terbuka untuk menampung tulisan saya seperti Kompasiana, yang sekarang menjadi tempat saya untuk belajar menulis dan berkarya. Tulisan itu mengikat setiap individu yang pernah menulis hingga akhir hayat (Nelam). 

VIDEO PILIHAN