Hiburan Pilihan

Hari Terakhir Melihat Karya Yayoi Kusama

14 September 2018   18:35 Diperbarui: 17 September 2018   12:41 376 1 0
Hari Terakhir Melihat Karya Yayoi Kusama
dokumentasi pribadi

Sepulang gereja gue langsung buru-buru ganti pakaian dan buru-buru makan siang. Siang itu rencananya gue mau berkunjung ke Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara atau biasa disebut Museum MACAN. 

Tanggal 9 September itu adalah hari terakhir dari pameran salah satu seniman terkenal dunia yang karyanya justru banyak menjadi incaran para Instagram's thirst se-Jabodetabek.

Tadinya gue kira karena hari terakhir, euforia pada seni polkadot milik Yayoi Kusama ini memudar. Nyatanya gue salah. Justru tetap melimpah dan berdesak-desakan. 

Antri di lantai 2 saja sebelum naik lagi ke lantai pameran yang ada di atas panjang sekali. Belum lagi antrian untuk masuk ke dalam ruangan pameran Yayoi Kusama mengular sampai gue nggak nyadar awal antriannya itu yang mana saking panjangnya.

Padahal ya, pameran karya Yayoi Kusama ini sudah berlangsung sejak bulan Mei tapi antusiasme masih sangat besar. Nama sang seniman sepertinya turut memengaruhi instalasi lainnya yang ikut dipamerkan di museum tersebut. Bayangkan saja, untuk bisa berpose seorang diri di beberapa instalasi harus antri melewati sekurangnya sepuluh orang.

Ini yang gue alami di mirrored box and light bulbs. Sebuah instalasi kotak yang di dalamnya ada pantulan led warna warni yang bisa berubah-ubah. Paling kurang ajar antriannya adalah di Infinity Mirrored Room. Sebuah ruang kaca yang memantulkan led warna warni dengan sisi kiri kanannya adalah kolam. 

Gue harus ngantri selama satu jam sebelum mendapat kesempatan masuk ke dalam kotak cermin tersebut dan diperbolehkan berfoto selama 15 detik. Iya, 15 detik saja. Baru mau mikir pose apaan eh sudah diketuk pintunya sama petugas. Gue harus berjuang melewati 250 orang hanya untuk 15 detik yang sia-sia.

Tapi sebenarnya gue terpukau sih. Pada kepikiran aja gitu, kotak kaca dikasih lampu warna warni ternyata bisa menjadi tempat foto-foto favorit pengunjung museum.  

Kaki pegel sekali setelah antri lama itu. Gue berkeliling lagi tapi sebelumnya sempat mampir melihat video di mana Yayoi Kusama ada di dalamnya, entah dia sedang bercerita atau menyanyikan lagu.

Di salah satu tema pameran dari Yayoi Kusama yaitu Body and Performance, pengunjung dilarang untuk mengambil foto atau video. Jadi cuma boleh masuk dan melihat-lihat. Temanya dilabeli 18+ karena memang ada video dokumenter dan foto beberapa orang yang telanjang.

Tidak banyak yang gue lihat sih, karena terbatas waktu dan padatnya pengunjung. Gue tipikal yang cepat bosanan kalau terlalu ramai. Setelah melihat-lihat dengan sekilas di beberapa karya Yayoi, paling akhir gue masuk ke The Obliteration Room. Ini aslinya ruangan serba putih yang kemudian penuh dengan stiker polkadot dengan dimensi dan warna berbeda. 

Para pengunjung dibagikan stiker-stiker tersebut agar bisa ikut menempelkan di mana saja sesuka hati. Semacam dikasih insight, seperti ini loh yang dinikmati yayoi Kusama ketika dia menaruh pola polkadot di apa saja yang dia lihat. Dan lagi-lagi pengunjung dibatasi waktu. Bedanya kali ini sedikit lama, 3 menit. Lumayan lah.  

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Yang menarik bagi gue dari semua karya Yayoi Kusama hanya hanya Narcicuss Garden, Experiments in Japan dan Body and Performance. Tapi kalau disuruh pilih satu yang menjadi favorit, mungkin yang paling aneh di mata gue itu Experiments in Japan. Sebatang pohon dengan sulur-sulur yang semuanya berpolkadot. It was mesmerizing yet weird in a beautiful way.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Ah iya, gue dapat kesempatan melihat pameran Yayoi Kusama ini karena Click Kompasiana. Terima kasih atas kesempatannya.