Mohon tunggu...
Natalia Mawey
Natalia Mawey Mohon Tunggu... Communication Student in President University

hello..

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

"Adapt or Die" Peran PR di Era Revolusi Industri 4.0

25 Juni 2019   18:40 Diperbarui: 25 Juni 2019   18:44 0 0 0 Mohon Tunggu...
"Adapt or Die" Peran PR di Era Revolusi Industri 4.0
8cbb65d1-0fd9-4b7f-82bd-3050acde6dc9-5d12049b0d823057356beb44.jpg

Di era revolusi industri 4.0 public relations adalah salah satu bidang yang tetap mempertahankan  eksistensinya. Perkembangan teknologi dan sosial media yang sangat cepat mengharuskan public relations practitioners untuk beradaptasi.

Selasa, 25 Juni 2019, mahasiswa ilmu komunikasi President University mengadakan Perhumas Road Show to Campus mengundang Moch. N. Kurniawan senior specialist media relations INPEX Massela, Ltd, dan juga Henny Puspitsari publicity manager media Metro TV. Perhumas merupakan organisasi non-profit, yang mewadahi humas-humas di Indonesia. Melalui seminar ini mahasiswa ilmu komunikasi, khususnya PUMA Communication mengharapkan adanya kerja sama dengan Perhumas di masa yang akan datang.

Talk show ini dimoderatori oleh Anathasia Citra yang akrab disapa miss Thisi salah satu dosen komunikasi di President University yang tentunya juga berkecimpung di dunia PR dan musik. Miss Thisi membuka talk show dengan menjelaskan bagaimana PR practitioners harus bisa beradaptasi, "Adapt or die" itu lah kalimat yang dipilih miss Thisi untuk menggambarkan pentingnya kemampuan seorang PR beradaptasi.

Pak Iwan, seorang PR yang berkecimpung di bidang migas tentunya setuju dengan pernyataan tersebut. Menurut pengalamannya revolusi industri 4.0 membuat informasi tersebar lebih cepat, masyarakat bahkan tidak hanya menjadi penerima melainkan menjadi penyalur informasi. Hal ini membuat PR harus sigap dalam menanggapi isu-isu yang ada.

Pak Iwan juga menyatakan bahwa ada banyak tantangan yang harus kita hadapi di era revolusi industri 4.0,  salah satunya adalah stakeholeder yang berbicara lebih lugas dan sesuai hatinya dikarenakan adanya media sosial. Perbedaan tingkat perkembangan teknologi di setiap daerah juga berdampak pada cara seorang PR melakukan monitoring, sebagai contoh di daerah yang sudah melek teknologi dan masyarakatnya sudah menggunakan sosial media, PR bisa memonitoring informasi melalui media sosial dan juga media konvensional. Tapi di daerah yang memiliki koneksi internet terbatas, PR harus melakukan monitoring melalui tokoh masyarakat maupun tokoh agama di daerah tersebut.

Di sesi yang kedua, Bu Henny lebih memfokuskan topik pada karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang PR. Tidak boleh terpancing emosi, sabar dan memiliki pengetahuan yang luas. Emosi adalah hal yang sulit untuk dikendalikan, tetapi seorang PR dituntut agar bisa mengatur emosinya saat berbicara di depan publik. Di era revolusi industri 4.0, PR juga dituntut untuk aktif dalam menggunakan media sosial.

Bu Henny bahkan memonitor calon-calon pekerjanya melalui media sosial. Menurutnya, memiliki media sosial merupakan hal yang wajib dimiliki oleh seorang PR, dan media sosial memiliki pengaruh yang besar terhadap reputasi seseorang.  Beliau juga menekankan bahwa PR adalah role model, maka PR harus menjaga reputasi mereka karena itu akan ikut mempengaruhi reputasi perusahaan.

Acara ini menjadi amunisi bagi mahasiswa ilmu komunikasi, mereka mendapat gambaran tentang perkembangan yang terus terjadi dengan cepat di dunia industri sehingga mereka harus sigap, dan terus membekali diri dengan skill baru mengikuti perkembangan yang ada. Mahasiswa juga menyadari pentingnya media sosial mereka, bukan hanya sebagai tempat curhat tetapi menjadi semacam "CV" mereka yang akan menjadi bekal mereka dalam dunia kerja. Perhumas Road Show ini ditutup dengan penyerahan token apresiasi kepada kedua pembicara dan juga moderator.

Written by: Mikhail Kirtan - 009201700033  & Natalia Chrisdianti Mawey - 00920170050

Photo taken by: Afifah Adji Nurazizah

KONTEN MENARIK LAINNYA
x