Mohon tunggu...
Nasrul
Nasrul Mohon Tunggu... Guru - nasrul2025@gmail.com

Pengajar sains namun senang menulis tentang dunia pendidikan, bola dan politik, hobi jalan-jalan

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Pendidikan Indonesia, Sudah Saatnya Beradab pada Guru

5 November 2020   21:01 Diperbarui: 5 November 2020   21:07 101
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Pada zaman modern ini pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat mendesak mengingat persaingan angkatan kerja semakin kompetitif. Jadi aneh rasanya, jika masih ada yang menganggap pendidikan tidak penting.

Dengan kemajuan zaman yang semakin modern, tentu banyak cara mengajar atau transfer ilmu antara guru dan siswa semakin modern juga. Dari yang tidak pernah mengenal belajar secara daring atau zoom, sekarang menggunakan zoom atau alat multimedia lainnya. 

Oleh karena itu, peran guru sepertinya sudah berkurang jika tidak cepat beradaptasi dengan kemajuan zaman. Sehingga kadang-kadang siswa merasa mereka yang paling pinter sebab mereka ada kemudahan dan kemampuan untuk menggunakan alat multi media modern, tentu guru belum sanggup memiliki dan mempelajari secepat dengan siswanya.

Tapi tunggu dulu, benar siswa lebih mampu dan lebih banyak tahu dari guru karena banyak belajar di internet. Akan tetapi dalam dunia pendidikan, selain siswa mempunyai ilmu, siswa juga harus mempunyai adab kepada guru dan zaman sekarang rasa hormat dan patuh guru sudah sangat parah.

Walaupun guru gagap teknologi (gaptek) belum tentu guru hilang marwahnya sebab ilmu itu mahal dan butuh guru. Oleh karena itu, siswa harus menjadikan guru sebagai sumber ilmu dan harus patuh dan taat kepada guru serta jangan sampai melawan jika diperintah oleh guru. Sebab banyak ilmu tanpa adab ke guru sama juga tong kosong atau ilmu yang siswa punya semua sia-sia. Sehingga sudah saatnya siswa belajar adab dengan baik kepada gurunya.

Orangtua siswa di rumah seharusnya tidak hanya memberi alat multimedia tapi juga mengedukasi anaknya untuk selalu patuh dengan guru. Karena ada kabar di berita bahwa guru dipolisikan oleh siswanya sendiri gara-gara dicubit. Dan lucunya orangtua siswa mendukung anak untuk memenjarakan guru dari anaknya. 

Sungguh ini kejadian yang tragis di dunia pendidikan di Indonesia. Padahal, guru adalah manusia penggerak kemajuan sebuah Negara. Jika tidak ada guru mungkin Negara Indonesia kembali dijajah oleh asing sebab tidak tahu apa-apa.

Banyak siswa pinter tapi kurang adab kepada guru. Sungguh ini sangat miris mengingat siswa pinter seharusnya menjadi contoh kepada teman-temannya yang lain untuk beradab kepada guru, bukan malah menjadi melawan guru akibat sudah pinter. 

Jadi, sudah saatnya dunia pendidikan Indonesia berbenah. Dan sudah sebaiknya menjadikan adab sebuah kewajiban kelulusan seorang siswa dari sekolah. Sebab sudah banyak contoh di masyarakat dan di daerah terpencil tidak menganggap guru sebagai sumber ilmu. Malah, di masyarakat umum menganggap guru hanya sekedar sebuah profesi, yang lebih parah lagi guru honorer, sudah gaji sedikit tapi masyarakat masih memandang rendah. Dan anggapan mereka guru honorer hanya pengangguran yang mencari kerjaan mengajar saja.

Jadi sekarang masyarakat Indoensia secara umum dan masyarakat desa secara khusus sudah tidak menghargai guru. Hal ini bisa dilihat bagaimana guru di masyarakat tetap menjadi sengsara dengan penghasilan sangat memprihatinkan. Dan lucunya pemerintah seperti tidak ada solusi untuk membantu guru honorer yang sudah rela mengabdi kepada Negara selama bertahun-tahun.

Akibat masyarakat tidak menghargai guru. Sudah pasti siswa sebagai salah satu masyarakat tidak menghargai juga. Penulis seorang guru dan selama menjadi guru sudah beberapa kali orangtua siswa protes dan terkesan mengejek guru. Jadi, ada teman penulis yang sama-sama berprofesi  guru menghukum siswa dengan sedikit keras. Karena ada kesalahan pada diri siswa. Malah, siswa mengadiu kepada orangtunya dan mengatakan guru yang salah. Padahal, sebenarnya siswa yang salah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun