Mohon tunggu...
Nisenonis
Nisenonis Mohon Tunggu... profesional -

Moms ; Fatiha, Fathan, Fara. medical doctor, Pecinta kuliner Nusatara, Peminum Air Putih, Book Lover, Traveller Adict, Jatuh Cinta dg segala hal berbau Indonesia !

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Ajari Aku Pendidikan tentang Seks

18 Juli 2016   10:24 Diperbarui: 18 Juli 2016   10:39 403
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Saya anak bungsu dari tiga bersaudara. yang semuanya adalah perempuan. Mama dan Papa bercerai saat saya menginjak usia 10 tahun. Setelah perceraian itu, Kami harus tinggal terpisah. Kakak sulung diasuh Bibi, Kakak Tengah dengan Buyut dan Aku tinggal dengan Nenek. Semua dari pihak Mama. Sebulan sekali, Mama menjenguk kami satu persatu di Desa dengan membawa nafkah halal. 

Tinggal bersama saudara di sebuah daerah tertinggal dengan nilai sosial yang memaafkan pelacuran, sex di luar nikah dan kawincerai dengan gampangnya. Berangkat dari hal tersebut, Mama berusaha mendidik kesadaran tentang seksualitas pada kami. Usia 10 tahun, mama sudah menjelaskan tentang organ reproduksi, misalnya dimana keberadaan rahim dan vagina. Menurut mama, hidup adalah pilihan. Maka mama selalu memberi pilihan pada ketiga anak perempuannya dalam menjalankan hidup. Berkaitan dengan reproduksi dan kekhawatirannya, mama menyarankan satu hal dibalik kebebasan memilih, kami perempuan harus tau apa saja resiko kehamilan, apa itu penyakit kelamin dan HIV. Mama berhasil menjadikan kami sadar dengan seksualitas. Dalam pengertian, kami paham dan siap.

Waktu kecil, saya adalah anak yang bebas. Kakek nenek sibuk di sawah. Habis sudah energinya untuk mengawasi saya. Selama saya tidak absen sekolah,  Madrasah dan mengaji, saya luput dari ketegasan dan kecerewetan kakek dan nenek. Saya membunuh kesepian dan rindu saya akan mama dengan membaca-sejak kecil saya suka sekali buku. Dan bermain. Bermain disawah, di kebun, dirumah teman, dimana saja...teman saya rata-rata laki-laki. Saya tidak suka bermain dengan teman perempuan. Jam 9 malam adalah batas saya harus pulang kerumah, jika tidak, kakek yang galak akan murka.

Saya kecil adalah anak yang penasaran akan banyak hal. Saya melarikan semua tanya pada semua orang, termasuk guru-guru saya. Tidak banyak guru yang bisa menerima dan menjawab pertanyaan saya, pertanyaan yang saya dapat dari pengamatan saya tentang alam, perilaku orang sekitar, buku-buku yang saya baca dan pernyataan Mama! Tidak sedikit juga guru dan orang-orang yang menganggap saya aneh. Mereka tidak menerima saya yang bebas dan berani. Saya tidak seperti anak perempuan lain yang "seharusnya". Mereka melegalkan sex bebas tapi mereka mentabukan sex. Anak-anak kecil seperti dipaksa menelan bulat-bulat apa yang kami lihat tanpa ada edukasi yang baik. Orang dewasa cendrung menutup mata.

Saya ingat banyak orang tua yang melarang anaknya bermain dengan saya. Kebanyakan orangtua itu bilang saya rusak. Saya punya seorang guru mengaji, perempuan soleha berjilbab dan santun. Beliau punya tiga orang anak perempuan sebaya dengan saya. Saya mendengar langsung beliau melarang anaknya bermain dengan saya dan mengatakan saya liar. 

Dikemudian hari, dua dari tiga anak gadis yang hanya diajarkan agama itu, "kebobolan". Yang satu memutuskan untuk melahirkan bayinya walau tidak siap secara mental dan ekonomi. Dia terpaksa menikah dini, dan cerai kemudian menjadi Pelacur. Yang satu lagi, karena takut dilaknat orangtua dan masyarakat, dia diam-diam melakukan aborsi ke dukun karena tidak punya uang. Dan menyesal berkepanjangan.

Menurut saya, Pengetahuan seks bukanlah tentang orang yang mau melakukan seks. Tapi bagaimana mereka bisa bertanggung jawab  dengan hubungan seks itu sendiri dan bagaimana mereka mengapresiasikan dirinya sendiri. Mungkin Mama tidak bisa sepenuhnya menemani Kami tumbuh dan berkembang. Mama hanya dapat menjenguk kami 2-3 hari dalam sebulan. Tapi Mama tidak membiarkan Kami bodoh. Mama tidak melakukan kesalahan besar dengan menutupi hal seksualitas. Karena berkat keterbukaan itu, Kami jadi tahu betul apa yang harus Kami lakukan dengan organ reproduksi yang kami miliki. Ketika berhubungan  seksual, saya sudah dibekali oleh Mama tentang resikonya.

Saya Lulus sekolah dasar, Mama memindahkan saya ke Jakarta. Berkumpul lagi satu rumah. Kedua kakak perempuan saya sudah lebih dulu di boyong.  Menginjak Bangku SMA, saya suka sekali mendengarkan house musik (disko). Diakhir pekan, saya hangout dengan teman-teman ke diskotik. Berjoget, minum alkohol, merokok, mencoba beberapa zat terlarang. Beberapa kali saya "melarikan diri" dengan cara masuk kamar jam 9 malam, menyusun bantal dan guling sedemikian rupa agar terlihat saya tidur pulas dalam gelapnya lampu kamar. Padahal saya mengendap-endap keluar dan pulang menjelang pagi. 

Hingga suatu malam, Mama mengajak saya ke diskotik kelas atas yang terhitung mahal untuk pelajar waktu itu. Mama mengajari saya semacam etika bergaul pada gemerlapnya dunia malam.  Contohnya, mama menjelaskan tentang bahaya rokok, alkohol dan zat terlarang lengkap dengan efeknya.  Mama bilang, Minum alkohol boleh, tapi jangan banyak-banyak. Selain bahaya mengemudi, saat perempuan mabuk, banyak hal buruk dapat terjadi yang berkaitan dengan lagi-lagi seksualitas. 

Minum alkohol harus beli sendiri, tidak boleh menerima pemberian dari orang lain untuk mencegah hal-hal  yang tidak diinginkan. Sejak itu, Mama selalu memberi uang  yang lebih dari cukup kalau saya ijin mau ke disko. Kalau tidak ijin, tidak dapat uang. Saat ijin, otomatis saya bilang siapa teman-teman yang akan ikut pergi ke disko bersama saya. Tapi kesenangan itu membosankan. Untuk seorang remaja pencari identitas, hal itu tidak bertahan lama pada saya.

Menginjak usia 17 tahun, saya merantau ke pulau lain untuk melanjutkan sekolah. Hidup saya sudah begitu bebas dan justru kebebasan itu membuat saya bertanggung jawab dan tidak bodoh pada diri sendiri. Semua saya sadari sehingga saya tidak rugi seperti kebanyakan perempuan, tidak mati di tangan dukun atau menyesal berkepanjangan. Andaipun Saya harus Aborsi, saya tau untuk apa kepentingannya. Bahwa itu bukan menjadi sesuatu yang saya harus sesalkan karena saya mengerti. Dan lagi, jika itu terjadi, katakanlah saya penzina. Tapi saya bukan pembunuh. Yang hanya berani dengan makhluk kecil, darah daging saya sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun