Mohon tunggu...
Najib Al Kaelani
Najib Al Kaelani Mohon Tunggu... Mahasiswa

Tetap setia berproses

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Menyingkap Nilai Etika Aristoteles dalam Serat Wedhatama

18 Januari 2021   18:30 Diperbarui: 18 Januari 2021   18:49 148 1 0 Mohon Tunggu...

Suatu kebanggaan tersendiri bahwa nenek moyang kita bangsa Indonesia telah mewariskan beraneka ragam seni budaya yang adi luhung. Berbagai peninggalan tersebut terdiri dari berbagai bentuk monumental seperti candi-candi yang megah berdiri bertebaran di berbagai wilayah negeri. Demikian juga berbagai macam kesenian yang menyebar diseluruh penjuru tanah air yang menunjukan nenek moyang kita telah berkebudayaan cukup tinggi serta berbagai warisan-warisan hasil karya sastra yang berbentuk buku yang tiada ternilai harganya.

Khusus mengenai karya sastra, leluhur kita di jaman Penjalu di Jawa Timur telah memberi peninggalan kepada kita, berupa karya tulis SUMANA SANTAKA (Mati karena bunga) dan Krisnayana buah karya Mpu Triguna. Demikian juga Mpu Darmaja tidak mau ketinggalan dengan menulis SMARADHANA (Pembakaran Dewa Cinta). Masih dalam jarak yang tidak terlampau jauh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh dari Kediri mengubah BARATAYUDHA epos Mahabharata. Kisah dari India ini diubah sedemikian rupa sehingga seolah-olah terjadi di Indonesia. Belum lagi buku dari jaman Majapahit yang sangat berharga yaitu NEGARAKERTAGAMA dan PARARATON. Suatu hasil karya yang mengagumkan.

Wedhatama sendiri termasuk karya seperti kami sebut di atas. Seangkatan dengan jaman Ronggowarsito, ditulis dengan tulisan tangan serta menggunakan huruf jawa yang berbentuk tembang (puisi/sajak) dengan kata-kata antara campuran Jawa dan Kawi. Dipandang dari sudut isi masih relevan dengan zaman sekarang, baik untuk yang muda ataupun yang tua.tetapi betapapun baik isinya apabila tidak dimengerti, tidak akan ada gunanya sama sekali.

Arti WEDA menurut kamus Kawi – Indonesia buatan Prof. Drs. S. Wojowasito adalah “ilmu pengetahuan”. Sedangkan TAMA berasal dari kata UTAMA yang berarti BAIK. Jadi Wedhatama berarti ilmu pengetahuan tentang kebaikan. Baik disini tidak hanya untuk pengertian secara lahir saja tetapi juga untuk lahir maupun batin.

Semakin dalam kita memahami serat Wedhatama semakin tahulah kita betapa kelebihan yang dimiliki si pembuat Wedhatma ini. Etika Wedhatama sendiri dapat kita sejajarkan dengan etika-etika dari pemikir-pemikir besar Dunia Barat. 

Etika Wedhatama ini mirip dengan nilai etika Aristoteles (yang hidup tahun 384-322 sebelum masehi). Etika wedhatama disini merupakan keseluruhan norma dan nila-nilai ajaran Wedhatama untuk mencapai keberhasilan dalam hidup lahir dan batin. 

Karena Wedhatama itu berarti pengetahuan tentang kebaikan, maka etika Wedhatama juga etika tentang pengetahuan kebaikan, atau lebih tepatnya etika bagaimana cara agar manusia dapat hidup menurut norma-norma moral tidak tersesat oleh nafsu angkara yang apabila kurang waspada akan menimbulkan datangnya bencana kegagalan dan akhirnya manusia dapat menjadi putus asa.

Wedhatama dari awal sampai akhir memberikan tuntunan ataupun petunjuk serta petuah agar manusia dapat menjadi arif dan bijaksana serta dapat mencapai kebahagiaan di dunia ataupun di akhirat. Untuk berbuat baik manusia tidak hanya tahu soal kebaikan saja tetapi juga harus menjalankan kebaikan itu sendiri, demikian juga Aristoteles. 

Seorang olahragawan terbaik bukanlah orang yang ototnya baik, nafasnya baik, dan wajahnya tampan saja tetapi untuk mencapai keberhasilan si olahragawan harus beruat seoptimal mungkin. Bukan karena ia tahu tentang peraturan-peraturan, bukan hanya karena dia hafal secara teoritis, tetapi dia harus mempraktekannya, dia harus berjuang di dalam arena, harus berusaha sebaik mungkin sehingga dia menunjukan dirinya sebagai si terbaik. 

Demikian juga manusia dalam menjalankan moral kebaikan menurut etika Aristoteles. Apa yang dikatakan oleh Aristoteles telah terlihat secara jelas di dalam serat Wedhatama pada bait Pucung baik tersirat maupun tersurat yaitu “Ngelmu iku kelakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani…” ilmu atau kebijaksanaan akan terwujud apabila dijalankan, tanpa dijalankan hanyalah teori yang kosong belaka.

Menurut serat Wedhatama baik secara moral tidak hanya bertindak sesuai bunyinya saja, tetapi harus melalui pertimbangan kebijaksanaan, sesuai dengan situasi dan kondisi apakah hal tersebut akan menimbulkan perpecahan antara satu dengan lainnya. Perpecahan tersebut harus dihindari. (Merma ing sabisa-bisa, bebasane muriha tyas basuki…, semangsane pasamuan mamangun martamartani…, amemangun karyenak tyasing sesama.)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN