Mohon tunggu...
Muchamad Nabil Haroen
Muchamad Nabil Haroen Mohon Tunggu...

Muchamad Nabil Haroen (lahir di Temanggung, Jawa Tengah, 25 Juli 1984; umur 30 tahun), Alumnus Pondok Pesantren Lirboyo. Pernah menjadi Pemimpin Redaksi di Majalah MISYKAT Lrboyo sejak 2004 hingga 2010. Hingga saat ini ia masih tercatat sebagai Pengurus PP LTN NU (Pimpinan Pusat Lajnah Ta’lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama). Sebuah lembaga yang menangani penerbitan di lingkungan PBNU dan tercatat sebagai Mustasyar (Penasehat) PCI NU Taiwan dan Hongkong. Saat ini juga mengemban amanah sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa

Selanjutnya

Tutup

Politik

Mencari Sang Pemimpin

8 Juni 2014   20:15 Diperbarui: 20 Juni 2015   04:41 49 0 2 Mohon Tunggu...

Oleh: Muchamad Nabil Haroen* Indonesia sedang bergerak mencaripemimpin. Historiografi politik Indonesia, menempatkan figur pemimpin sebagaipenentu arah bangsa. Kiprah para penegak kemerdekaan, sejatinya menggoreskanfatwa tentang bagaimana melahirkan pemimpin sejati. Biografi KH. HasyimAsy’ari, KH. Ahmad Dahlan, KH. Wahab Chasbullah, KH. Wahid Hasyim, Soekarno,Hatta hingga Sjahrir, menyimpan pelajaran penting bagaimana energi kepemimpinandikelola dan dihadirkan. Kiprah para ulama, tidak sekedarmenjadi penjaga gawang dalam bidang pendidikan dan spiritual. Ulama-ulama yangmewarnai transformasi Islam Nusantara, adalah barisan ulama yang memilikikomitmen terhadap perjuangan politik kebangsaan. Mereka tidak hanya berdiam dipesantren, namun juga mengangkat senjata dan menggemakan doa sebagai bentenglahir-batin dalam perjuangan kemerdekaan. Kisah perjuangan ulama-kiai dalammelawan kolonialisme, terpatri dalam epos tentang Perang Jawa (1825-1830)ketika Pangeran Dipanegara berjuangan melawan serdadu Belanda. PangeranDipanegara tidak sendirian, ia dibantu oleh barisan ulama-santri, pendekar dankalangan prajurit ningrat yang tidak sudi dikuasai rezim kolonial. Kiai Maja,Sentot Ali Basah, Kiai Hasan Besari dan Pangeran Sosrodilogi adalah cerminbening tentang bagaimana ulama berperan dalam perjuangan. Satu abad kemudian, pada masaperjuangan kemerdekaan, ulama-santri juga menjadi garda depan perjuangan. Padaawal abad XX, Kiai Hasyim Asy’ari bersama jaringan ulama-santri yang tersebardi penjuru Jawa-Madura, bergerak bersama melawan penjajah Belanda. Jaringanpesantren inilah yang kemudian menjadi basis perjuangan kemerdekaan, di kawasanJombang, Kediri, Pacitan, Ponorogo, Surabaya, Rembang, Cirebon, Temanggung danbeberapa kawasan lain. Pesantren-pesantren di kawasan Nusantara, terutama diJawa tergerak untuk berjuang menjaga kedaulatan. Kisah perlawanan rakyat padaPalagan Surabaya dan Palagan Ambarawa (Semarang), menjadi refleksi tentangperjuangan mempertahankan kemerdekaan. Perjuangan pemuda yang didukungulama-santri pada 10 November 1945 di Surabaya menjadi sejarah penting tentangkegigihan rakyat negeri ini. Hingga, Jendral AWS Mallaby terbunuh di lagatempur tersebut. Fase-fase perjuangan melawan kemerdekaan, menjadi bagianpenting dalam upaya menegakkan kemerdekaan bangsa ini. Ulama-Pemimpin Perjuangan-perjuangan dalam fasekemerdekaan dan menjaga kedaulatan, sejatinya merupakan model relasi antarkelompok yang menjadi fragmen sejarah Indonesia. Kontribusi penting ulama-santritidak banyak mendapat tempat dalam historiografi Indonesia modern. Peran ulamaseolah ‘dilenyapkan’ dari ranah ilmu pengetahuan. Padahal, upaya mempertahankandan mengisi kemerdekaan tidak bisa dihilangkan dari sejarah faktual Indonesia.Ulama-kiai berkontribusi untuk negara, tidak dalam visi politik kekuasaan,namun niat murni politik kebangsaan. Politik kebangsaan, menjadi referensi bagikaidah dan etika politik Nahdlatul Ulama, sebagai organisasi dan gerakan massa. Sebagaimana ditegaskan almarhum KH.Sahal Mahfudh (2013), politik kebangsaan menempati level lebih tinggi daripadapolitik kekuasaan. politik kebangsaan dipadukan dengan politik kerakyatan,menjadi standar nilai dalam meneroka masa depan bangsa Indonesia, yangberdaulat, visioner dan mampu menyejahterakan rakyat. Strategi politik ulama pesantren, yangmemperjuangan politik kebangsaan, berpijak pada kaidah-kaidah fiqh siyasah yang dikaji olehsantri-santri. Nilai-nilai fiqh siyasahinilah yang kemudian ditransformasikan ulama menjadi politik kebangsaan.Kepemimpinan ulama dalam berjuang tidak berada dalam jalur merebut kekuasaan,akan tetapi menjaga keutuhan dan kedaulatan bangsa. Inilah yang dapat menjadireferensi sikap dalam memilih pemimpin untuk Indonesia masa kini. Presiden Sang Pemimpin Indonesia saat ini membutuhkan pemimpinyang kuat, visioner dan memilik solusi atas masalah bangsa. Presiden yangberdaulat, merupakan jawaban atas problem mendasar bangsa, yakni korupsi,mental birokrasi dan krisis infrastruktur. Indonesia membutuhkan pemimpin yangtidak hanya populer namun juga berani mengambil resiko untuk kepentinganrakyat. Pada titik ini, Indonesia yang berdaulat adalah sebuah harapan. Pemimpin sejati adalah mereka yangberjuang untuk politik kebangsaan, bukan politik kekuasaan. Perkembanganpolitik Indonesia saat ini, lebih banyak terjebak pada politik kekuasaan, yangberebut kursi sebagai kepentingan pribadi dan kelompok, bukan aspirasi rakyat.Pelajaran kisah perjuangan kemerdekaan, yang dipraktikkan ulama dapat menjadi referensistrategi politik para pemimpin. Mereka yang berebut kuasa, pada akhirnya hanyamenjadi parasit bagi kedaulatan negeri ini. Akan tetapi, mereka yang berjuangdengan visi politik kebangsaan, yang akan mewujudkan harapan. *)Penulis adalah Sekretaris Umum PP (Pimpinan Pusat) Pencak Silat NUPagar Nusa (Harian Republika, 7 Juni 2014, halaman 6)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x