Mohon tunggu...
nabilah mutiara
nabilah mutiara Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasisiwi Universitas Islam Negeri Malang Maulana Malik Ibrahim Malang

Hobi menyanyi

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

PKI yang Tak Berhati Nurani

9 Oktober 2022   19:06 Diperbarui: 9 Oktober 2022   19:09 83
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

PKI atau Partai Komunis Indonesia merupakan salah satu partai pergerakan nasional, partai yang berideologi komunisme ini pernah ada di Indonesia. Dalam sejarah tercatat bahwa PKI merupakan salah satu partai tertua dan terbesar di Indonesia. Bahkan pada saat itu PKI menjadi partai besar yang berpengaruh dan juga banyak diikuti dari berbagai kalangan, yaitu mulai dari intelektual, buruh, hingga petani. PKI adalah partai komunis non-penguasa terbesar di dunia setelah Uni Soviet dan Tiongkok. Partai ini didirikan pada tahun 1914, tepatnya tanggal 9 Mei 1914 oleh tokoh Sosialis Belanda yaitu Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet. Pria yang Bernama pendek Henk Sneevliet, ia merupakan Ketua Serikat Buruh Kereta Api Belanda atau Nederlandse Vereniging van Spoor en Tramweg Personeel (NVSTP). Ia juga merupakan penyebar komunisme pertama di Hindia Belanda. Ada seorang penulis yang menggambarkan Henk Sneevliet ini sebagai seorang propagandis yang berbakat serta penuh dengan semangat.

Pada tanggal 9 Mei 1914 ini, Henk Sneevliet mendirikan Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda atau Indische Sociaal-Democratische Vereeninging (ISDV). Pada awalnya ISDV ini beranggotakan 85 orang dari 2 partai sosialis Belanda, yaitu SDAP atau dalam Bahasa Indonesia ialah Partai Buruh Sosial Demokratis dan SDP atau Partai Sosial Demokratis, kedua partai ini merupakan partai aktif di Hindia Belanda. Para anggota ISDV ini memperkenalkan ide-ide Marxis untuk mengedukasi pribumi atau orang-orang Indonesia mencari cara untuk menentang kekuasaan kolonial dan menanamkan paham komunisme terhadap perjuangan nasional Indonesia. Yang awalnya ISDV ini anggotanya berjumlah 85 orang, satu tahun kemudian anggotanya bertambah bertambah menjadi 134 orang dan hanya ada 3 orang yang merupakan warga pribumi Indonesia. Pada tahun-tahun awal pendiriannya ISDV membatasi aktivitasnya pada diskusi teori masalah kolonial. Yang menjadikan geerakan ISDV ini tidak berkembang karena tidak mengakar dalam masyarakat Indonesia. Serta tidak menuntut kemerdekaan kepada Indonesia. Namun, partai ini dengan cepat bisa berkembang menjadi radikal dan anti kapitalis. Perubahan terjadi kembali, ketika Henk Sneevliet memindahkan markas mereka dari Surabaya ke Semarang dan banyak menarik penduduk asli dari berbagai elemen. Salah satu cara agar misinya bisa berjalan lancar, Sneevliet menyebarkan paham komunismenya itu lewat organisasi buruh kereta di Semarang. Sneevliet juga menyebarkan paham komunismenya lewat organisasi Sarekat Islam (SI), yang merupakan organisasi besar di Indonesia pada masa itu. Ia menyebarkan paham komunismenya itu melalui Semaun, Darsono, Alimin serta tokoh SI yang lain.

Pada bulan Mei 1920 di Semarang, diadakan Kongres ISDV dan pada saat itu ISDV mengubah nama menjadi Perserikatan Komunis di Hindia (PKH). Memilih Semaun sebagai ketua PKH dan Darsono sebagai wakilnya. Serta sekertaris, bendahara dan lima anggota komite lainnya merupakan orang Belanda. PKH merupakan partai komunis yang pertama kali menjadi bagian dari Komunis Internasional. Pada 1924 nama partai ini kembali diubah , manjadi Partai Komunis Indonesia (PKI) yang kita kenal sekarang, yang dipimpin oleh Musso

PKI memulai pemberontakannya di tahun 1926, melawan pemerintahan kolonial di Jawa Barat dan Sumatera Barat. Dalam pemberontakan ini ribuan orang dibunuh dan sekitar 13.000 orang ditahan, 4.500 dipenjara, 1.308 orang yang kebanyakan adalah kader-kader partai diasingkan, 800 orang dikirim ke Boven Digul, sebuah kamp tahanan di Papua. Beberapa orang tewas di dalam tahanan. Pada tahun 1927 PKI dinyatakan terlarang oleh pemerintah Belanda. Yang menjadikan PKI kemudian bergerak di bawah tanah. Disitu pimpinan PKI Musso mengasingkan diri ke Moskwa, Uni Soviet. Pada masa awal pelarangan ini, PKI berusaha sebisa mungkin untuk tidak menonjolkan diri, karena telah banyak dari pimpinannya yang ditangkap dan dipenjarakan. Pada tahun 1935 Musso kembali dari pengasingannya, saat itu ia menyusnu kembali Gerakan PKI di bawah tanah yang berarti secara sembunyi atau diam-diam.

Lalu PKI muncul kembali setelah Jepang menyerah kepada Indonesia di tahun 1945, dan secara aktif mengambil bagian dari perjuangan perjuangan kemerdekaan Indonesia atas Belanda. Pada saat itu banyak unit bersenjata yang berada dibawah pengaruh kontrol PKI.

Pada tahun 1948 terjadi pemberontakan di Madiun yang diawali dengan melancarkan propaganda anti pemerintah dan pemogokan kerja para buruh. Selain itu juga dilakukan penculikan dan pembunuhan tokoh negara. Pada saat itu keadaan di Madiun Raya sudah sangat mencekam. Karena PKI saat itu mendirikan Republik Soviet. Otomatis Magetan, Ponorogo, Pacitan menjadi sasaran berikutnya. Kyai di pondok Takeran Magetan sudah dihabisi oleh PKI. Data di awal tercatat 60 kyai beserta santri. Tapi yang ada lebih dari itu, sekitar 168 orang tewas dikubur hidup-hidup.

Kemudian PKI geser ke Ponorogo dengan sasaran Pondok Modern Darussalam Gontor. Di Gontor, keadaan yang semula tenang menjadi penuh kekhawatiran. Meskipun jarak antara Gontor-Madiun sejauh 40 kilometer, semua peristiwa itu membuat para santri kebanyakan merasa resah dan takut akan menjadi korban pemberontakan tersebut. Pada saat itu dua kyai utama yang merupakan kakak beradik yaitu, Kyai Sahal dan Kyai Imam Zarkasyi mencoba bersikap tetap tenang sambil berpikir tentang langkah-langkah yang harus diambil untuk menghindari pemberontakan tersebut.

Setelah 2 hari berlalu, pemberontakan mulai memasuki wilayah Jetis yang jaraknya hanya 3 kilometer di sebelah barat Pondok Gontor. Lalu 2 Kyai ini yaitu Kyai Sahal dan Kyai Zarkasyi bermusyawarah dengan beberapa santri seniornya. Dari musyawarah tersebut ditetapkan bahwa melawan pemberontakan PKI adalah suatu hal yang tidak mungkin. Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah menyelamatkan diri dengan cara mengungsi. Lalu kedua Kyai Besar Gontor tersebut, beliau berdua mengungsi ke Kediri bersama para santri dan beberapa ustadz untuk kabur dan bersembunyi. Dan yang tersisa di pondok hanya Lurah Pondok, Kyai Syoiman Lukma Nur dan pelindung atau Kepala Desa Gontor yaitu Sukarto.

Pada saat bergeser ke Ponorogo, PKI langsung menyerbu Gontor. Tapi mereka harus kecewa, karena yang ada hanya 2 orang saja. Para santri, Kyai dan ustadz sudah tidak ada. Beruntung dua orang tersebut yaitu Lurah Pondok dan Kepala Desa Gontor tidak dihabisi. Tetapi, semua buku yang berbau arab dibakar. Dan beberapa bangunan pondok dibumi hanguskan. Yang tersisa hanya masjid dan padepokan pondok. Yang lain sudah hangus terbakar. Bebrapa santri dan ustadz yang bertemu PKI, mereka dibawa ke Desa Sooko lalu disekap dan disiksa. Pada saat itu juga kedua Kyai besar Gontor itu Kyai Sahal dan Kyai Zarkasyi berebut mati. Kemudia terjadi dialog seperti ini. Kyai Sahal berkata kepada adiknya Kyai Zarkasyi "Ben aku wae sing mati, uduk kowe Zar. Kowe isih enom, ilmu-mu luwih akeh, bakale pondok iki mbutuhne kowe timbangne aku. Aku wis tuwo, wis tak ladenin PKI kuwi. Ayo Pak Zar, njajal awak mendahno lek mati." Yang artinya beliau berkata "Biar au saja yang mati, bukan kamu. Kamu ini masih muda, ilmu mu lebih banyak, pondok itu lebih membutuhkanmu dari pada aku. Aku ini sudah tua, sudah biar aku saja yang menghadapi PKI itu. Ayo Pak Zar, mencoba badan walau sampai mati."

Syukur, pertolongnan Allah segera datang melalui Pasukan Tebuireng yang tergabung dalam Laskar Hizbullah yang dipimpin oleh KH. Abdul Kholiq Hasyim (putra KH. Hasyim Asy'ari yang merupakan pengasuh Pesantern Tebuireng ke-5) yang merangsek masuk dan mengusir PKI hingga pasukan PKI berlarian.

Pada tahun 1965 terjadi peristiwa G30S-PKI, penculikan enam jenderal dan seorang kapten perwira. Mereka dibunuh dan disiksa, jenazah mereka lalu ditemukan di Lubang Buaya, Jakarta. Dengan terjadinya peristiwa ini, Panglima Kostrad Mayjen Soeharto bergerak cepat memadamkan pemberontakan. Perburuan terhadap para pelaku G30S ini dilakukan secara cepat. Para pelakunya diburu dan ditangkap. Ada beberapa yang diadili di Mahkamah Militer Luar Biasa dan Sebagian dijatuhi hukuman mati. Terjadi penangkapan dan pemburuan besar-besaran kepada siapa saja yang dianggap simpatis ataupun terkait ada hubungannya dengan PKI, atau organisasi yang diidentikan komunis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun