Humaniora

Tameng Keluarga

17 April 2018   07:00 Diperbarui: 17 April 2018   08:28 238 0 0

Ketahanan keluarga atau rumah tangga bisa dilihat dari bagaimana mereka menegakkan sholat. Sholat dapat diartikan sebagai ibadah yang mencegah perbuatan keji dan munkar. Selain itu, sholat juga menjadi salah satu indikator kespiritualitas sebuah keluarga. Sholat yang dimaksud bukan hanya sekedar menjalankan untuk menggugurkan kewajiban, melainkan harus dikerjakan dengan benar sesuai syariat Rasulullah.  

Memaknai bagaimana menegakkan sholat harus benar, diantaranya gerakan dan bacaannya. Contoh, surah Al-fatihah ayat 5 artinya"hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan". Bacaan tersebut harus bisa dimaknai secara tepat, bahwa manusia hanya menyembah kepada Allah dan tidak ada pertolongan tanpa campur tanganNya(Allah).

Menurut Rita Subagio-AILA(Aliansi Cinta Keluarga Indonesia), sholat dapat menjadi salah satu tameng utama dalam ketahanan keluarga. Sesuai dengan Q.S. Al-'Ankabut: 45, yang menjadi prinsip dasar untuk dipahami. Bahwa dengan menegakkan sholat, dapat mencegah segala berbuatan keji dan munkar.

 Disisi lain, beliau senantiasa mengajak untuk muhasabah diri yaitu intropeksi diri. Masih banyak masyarakat yang mengerjakan sholat setiap harinya namun masih berbuat kemungkaran. Perlu untuk dikoreksi kembali, sebenarnya ada apa dengan sholat mereka. Sholat bukan perihal gugur kewajiban terhadap sang Ilahi, melainkan bentuk ketaatan seorang hamba kepada Allah sang pemilik kehidupan.

Menegakkan sholat merupakan salah satu point penting dalam mendidik anak. Orangtua harus mengajarkan kepada anak-anak bagaimana menunaikan sholat sesuai dengan sunnah Rasulullah. Dalam Quran mengatakan, "Celakalah kalian orang-orang yang sholat", mengapa Allah berfirman seperti itu? Karena, menegakkan sholat tidak mengikuti sunnah Nabi, riya, tidak serius atau hanya penggugur kewajiban., sehingga sholat mereka berdampak dalam kehidupan pribadi dan keluarga. 

Menurut Dr. Bagus Riyono, pertahanan dalam keluarga dapat dicapai dengan sabar dan senantiasa meminta pertolongan kepada Allah. Selain itu menghadirkan rasa syukur, ihsan, kasih sayang, dan sebagainya. "Semua harus ada. Meki tidak ada manusia yang sempurna, harus selalu diusahakan" tegasnya. Beliau mencontohkan bahwa setiap rumah tangga pasti memiliki permasalahn.Masalah itu bagai api-api kecil yang dipicu oleh amarah. Jika tidak dinetralisir dengan sholat dan sabar, maka bukan tidak mungkin api semakin membesar.

Melatih anak sejak usia dini belajar mengenal sholat, mulai dari rukun, syarat, hingga mempraktikanya. Tujuannya mengenalkan dan memberikan pemahaman bahwa sholat merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Rita mengatakan, ketika pengenalan sholat diajarkan sejak dini maka harapanya saat anak-anak sudah memasuki aqil baligh sudah terbiasa untuk mengerjakannya sehingga tidak merasa terbebani. 

Dalam konsep pembiasaan, Rita menambahkan, perlu dibarengi dengan pemahaman terhadap anak, mengapa mereka harus mengerjakan sholat? Bahkan harus dilakukan dengan sebaik-baiknya, cara yang benar, khusyuk, mengikuti sunnah Nabi, dan sebagainya sehingga prinsip dasar tentang sholat mampu dipahami anak.

Keteladanan dapat diperoleh anak dengan cara orangtua selalu menjaga sholatnya dengan sholat diawal waktu, tidak menunda-nunda, dan mengerjakannya sungguh-sungguh. Bagi seorang ayah, melakukan sholat berjamaah di masjid, dan sebagainya. Rita berpesan, semestinya orangtua menjadikan model dasar pendidikan seperti ini, terutama mengenai sholat, sebagai bentuk penguatan spiritual ruhaniyah keluarga ditengah gempuran permasalahan sosial. 

"Sholat bisa menjadi oase untuk mengingatkan diri, bahwa menjalani hidup ini dalam rangka mencari ridho Allah semata". Kita semua tahu bahwa sholat adalah pondasi utama dalam keluarga, dengan catatan sholat ditegakkan sesuai dengan rukun, syarat, dan sunnah Nabi.

Sholat yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh akan berdampak pada kehidupan diri dan keluarga. Didiklah anak-anak kita dengan senantiasa mengerjakan sholat dan taat kepada Allah, tentunya dengan kesabaran dan selalu minta kepadaNya agar selalu dituntun dalam kebaikan. Semoga bermanfaat, Wassalam.

Sumber: Majalah Mulia-Maret2018