Mohon tunggu...
M Zenal Abidin
M Zenal Abidin Mohon Tunggu... manusia yang masih banyak belajar

mahasiswa S1 Ilmu Peternakan Universitas Padjadjaran

Selanjutnya

Tutup

Teknologi Pilihan

Cattle Fast Train, Inovasi Transportasi Sapi Masa Depan

30 Juni 2019   16:12 Diperbarui: 30 Juni 2019   16:22 0 0 0 Mohon Tunggu...

Daging sapi merupakan bahan pangan yang sangat populer di Inodenesia, banyak makanan khas indonesia yang berbahan dasar sapi, seperti rendang, sate, soto, dan berbagai olahan lainnya. Produksi daging lokal Indonesia pada tahun 2018 mencapai 40.668 ton. sementara itu, kebutuhan sapi dalam negeri sangat tinggi yakni diprediksi mencapai 663.290 ton. Dengan demikian kebutuhan sapi dalam negeri baru terpenuhi 60%. Bagaimana dengan sisanya ?

Sisanya kita masih impor dari negara tetangga seperti Australia, padahal Indonesia negara yang sangat luas daratannya, yaitu 1,9 juta hektare persegi, padahal luas daratan ini sangat berpotensi untuk pengembangan sapi potong di Indonesia. Lantas kenapa kita masih impor?

Ada beberapa masalah yang menyebabkan negera kita belum bisa memenuhi kebutuhan daging nasional. Salah satunya adalah sapi potong yang tersebar dibeberapa wilayah di provinsi dengan konsentrasi yang berbeda disetiap wilayahnya.

Data badan pusat statistik tahun 2017 menunjukkan 16,59 juta ekor sapi potong yang ada di Indonesia 27% berada di daerah Jawa Timur, 10,35% Jawa Tengah, 8,64% Sulawesi Selatan, 6,7% Nusa Tenggara Barat, 6,04% Nusa Tenggara Timur, dan sisanya masih tersebar diwilayah lainnya.

50,68% sapi yanga ada di Jawa, dan 14,18% sapi yang ada di Bali dan Nusa Tenggara mengapa tidak mampu memasok kebutuhan daging di DKI Jakarta dan Jawa Barat ? Penyebab utamanya yakni perbedaan harga. Harga ternak dan daging domestik lebih tinggi dari harga impor dua sentra konsumen tersebut. Perbedaan lokasi sentra produksi dan sentra konsumsi dagaing sapi membutuhkan mode transportasi yang efesien untuk menghasilkan produksi daging sapi yang berdaya saing

Namun, sistem transportasi ternak di Indonesia belum efisien, sebagai contohnya, mode transportasi ternak adalah truck, penggunaan moda transportasi truck, dengan kapasitas yang kecil berdampak pada biaya satuan yang tinggi. Kapasitas dan kondisi jalan yang beresiko, dan tak jarang terjadi pemungutan liar.

Penanganan angkutan ternak yang tidak berperikehewanan serta makanan yang tidak memenuhi standar pakan selama di perjalanan membuat ternak stres. Itulah yang mengakibatkan berat badan hewan turun. Tak jarang ternak mengalami kecacatan dan bahkan kematian.

Kita bayangkan apabila sapi dikirim dari daerah produksi ke konsumsi 1 juta ekor pertahun dan bobot rata rata 300 kg dengan asumsi susut penanganan 10% maka kerugian yang diperoleh sekitar 30 juta kg apabila harga daging sapi Rp.110.000 per kg nya. Maka kerugian di jalan sebesar Rp.3,3 triliyun. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan begitu lama karena kita ingin mencapai swasembada daging nasional.

Oleh karena itu, salah satu inovasi mode transportasi ternak di Indonesia yakni mengadakan kereta api cepat khusus ternak yang didesign dengan kecepatan 300 km/jam, dilengkapi feeding manjemen sehingga dalam perjalanannya ternak dalam kondisi nyaman dapat meningkatkan bobot badan dan dilengkapi pintu otomatis yang memudahkan proses loading ternak. Sehingga berkurangnya stress yang dialami ternak karena getaran minim, resiko kecelakaan yang sangat kecil, harga ternak di tingkat konsumen bisa turun karena efesiensi ongkos angkut, dan waktu perjalanan lebih cepat.

Selanjutnya dalam upaya pengadaan kereta api cepat tersebut harus ada kerjasama antara dinas pertanian, dinas perhubungan dan operator PT KAI. Selain bertujuan untuk lebih mensejahterakan peternak sapi, juga bisa membuat sistem perdagangan dan transportasi semakin efektif

Lebih jauh lagi, semoga ada ide ide inovatif dan kreatif lain mengenai mode transportasi ternak di Indonesia yang bisa dimanfaatkan dan digunakan demi terwujudnya swasembada daging dan Indonesia sebagai lumpung pangan dunia.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x